Jika disematkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk mengubah cita rasa dari gambaran manusia yang belum lengkap cara berpikirnya menjadi kesempurnaan hidup, maka itu benar. Namun, jika pendidikan dianggap sebagai ajang untuk menguatkan ambisi diri yang berpotensi menjadikan pendidikan sebagai alat untuk pamer, maka kelirulah sudah. Pendidikan memiliki kewibawaan tersendiri. Terlepas dari apa dan bagaimana pendidikan diterapkan pada suatu kondisi di suatu tempat yang ruang lingkupnya berbeda. Pendidikan memiliki hulu dan hilir yang terus mengalir. Pendidikan memiliki pemimpin dan pengikut yang akan beranjak dari satu stase menuju stase berikutnya. Ia pula dapat diartikan sebagai journey yang tidak terlepas dari kehidupan manusia, apa pun intisari yang sedang ditransformasikan melalui pengajaran sehingga membentuk pribadi unggul.
Satuan pendidikan (sekolah) merupakan etalase yang menampilkan miniatur kehidupan sosial bermasyarakat manusia nantinya. Maka dari itu, sekolah memiliki puncak kepentingannnya sendiri sebagai bagaian dari pendidikan dan tak dapat dipisahkan dari ornamen kehidupan manusia di dalamnya (guru dan murid). Untuk mengimbangi ekosistem ini, maka diperlukan lingkungan yang apik dengan pola kepemimpinan yang tegas, tapi membawa efek yang luwes. Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu mengusung kalimat ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Semboyan tersebut memiliki arti bahwa yang di depan memberi teladan, di tengah memberi inspirasi (motivasi) dan di belakang memberikan dukungan. Maka, pemimpin seperti apa yang diharapkan oleh sekolah? Tentu yang bisa menjadi bunglon pada tiap kondisi.
Pertama, seorang pemimpin dengan wibawanya yang tegas, ia mampu memimpin layaknya raja dalam suatu peperangan. Terdepan memberi aba-aba, tapi tidak pernah lari dari masalah. Kedua, seorang pemimpin ketika berada di tengah, maka ia memberi motivasi bagi yang akan tampil di depan. Bukan berarti pula bahwa yang di depan adalah lebih baik. Tiap proses, selalu ada masanya orang-orang yang akan menemani langkah. Jadi, motivasi inilah yang perlu sebagai ilham dari langkah yang akan ditempuh dengan bajik. Ketiga, ketika pemimpin di belakang maka ia senantiasa memberi dorongan. Rasa kepercayaan yang dilimpahkan tersemat dalam amanah. Pemimpin setiap memberi aba-aba, maka pahamilah bahwa ia takkan salah memberi amanat tersebut, justru karena kita mampu maka mendapatkan mandat.
Mengutip dari kalimat Bob Talbert yakni, “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik.” Setiap dari kita sebagai manusia tentu dibekali dengan nilai-nilai yang telah ditanam oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita adalah bentuk dari perjalanan yang membuat diri semakin terlihat wujud karakternya. Dipertegas dengan halauan Keputusan-keputusan yang diambil. Setiap Keputusan pula tentu tidak pernah terlepas dari prinsip yang selama ini dipegang. Misalnya, saya enggan menulis jika tulisan itu milik orang lain. Sedapat mungkin saya hanya membaca dan akan menulis dengan rima dan tata tulis yang saya anut selama ini. apalagi untuk kepemimpinan di sekolah ataupun di kelas. Saya menyukai anak-anak yang mengerjakan tugasnya sendiri, berapa pun hasilnya. Kenapa? Sebab, sejak kecil saya tidak berkesempatan menyontek ataupun memberi contekan. Bagi saya hal tersebut adalah sesuatu yang fatal untuk dilakukan.
Kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini salah satunya melatih saya untuk melakukan ‘coaching’ (bimbingan). Prinsipnya, coaching dilakukan untuk membawa suasana baru atau mengarahkan coachee dari satu kondiis yang kurang nyaman menjadi lebih baik dengan cara menuntun tiap permasalahan agar keluar dari zona tersebut. Kaitannya dengan kepemimpinan ialah dengan melakukan coaching, maka saya telah melakukan praktik diri sebagai pemimpin. Setidaknya, sebelum mengambil keputusan, maka dikembalikan lagi pada pihak yang bermasalah. Bukan saya yang memberikan saran atau solusi (meskipun hal itu dapat dilakukan). Pemimpin itu tidak mengambil keputuisan berdasarkan kemauan diri, tetapi ada pihak yang terlibat untuk dilakukan sesi diskusi. Maka dari itu, coaching merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengembalikan peran pemimpin sebagai penuntun dalam proses keluar dari masalah oleh coachee.
Sosial emosional tentu melekat apda diri manusia. Tidak terlepas pula apda sosok pemimpin. Bukan karena pemimpin perempuan lebih baper daripada laki-laki. Namun, ada sisi lain yang sosial emosioanal ini mengikat apda hati manusia. Tiap pengambilan keputusan akan dipengaruhi oleh sosial emosional tersebut. Misalnya, menanggapi permasalah A yang terdapat paradigma keadilan lawan rasa kasihan. Normalnya, keadilan perlu ditegakkan. Namun, melihat sisi lainnya lagi, apakah keadilan ini sudah melihat rasa kasihan pada orang yang dikenakan permasalahan? Memang, menghadapi dilema etika sebagai pemimpin seperti halnya ngeri-ngeri sedap. Karena menghadapi sesutau yang sama-sama bernilai benar untuk dipecahkan. Sehingga, keputusan yang diambil pun mengandung unsur mengedepankan ego atau terlalu kuat?
Sebagai pemimpin pembelajaran, kerap kali kita dihadapkan pada kondisi yang menuntun agar pemecahan masalah tidak memberatkan antar anak didik. Jika di dalam kelas terdapat polemik dengan segala kepelikan, maka penyelesaiannya ialah kembali pada sosok pendidik yang ada di dalamnya. Mau dibawa ke mana permasalahan tersebut? Dibawa ke meja kepala sekolah, dibawa ke ruang BK, atau ditangani sendiri? Pendidik sebagai sosok pemimpin pembelajaran memiliki peran untuk mengatur rencana, melaksanakan pembelajaran, dan mengavaluasinya dengan merefleksikan apa saja yang kurang dalam kegiatan tersebut. Nilai-nilai yang dianut menentukan bagaimana ia bersikap dan memperoleh satu keputusan dalam tiap permasalahan yang terjadi di kelas.
Ketika pendidik memiliki keputusan untuk melaksanakan opsi A, maka seyogianya dijalankan dengan kehadiran penuh, menata tiap fase yang dijalani agar ritmenya selaras, dan mengembangkan ide-ide lain apabila opsi sebelumnya belum dikatakan berhasil seutuhnya. Apa pun keputusan yang diambil akan membawa pada perubahan. Misalnya saja, saya akui bahwa saya menjadi wali kelas 4 tahun terakhir. Kemudian, tahun ini tidak mau menjadi wali kelas dengan alasan pikiran pendek saya sedang sibuk dengan kegiatan PGP. Qodarullah, justru saya diamanahkan kelas teratas di 9A. Mau tidak mau harus mau.
Semula, mereka adalah bagian anak-anak yang ketika hendak ke sekolah perlu diajak. Bukan anak-anak yang siap belajar. Sepekan pertama ada sekitar 5-7 anak yang tidak masukd engan alasan yang tidka lumrah. Alhasil, saya mendekati dan membangun bonding dengan mereka. Berhasil. Kelas kami menjadi kelas idaman di sekolah. Koridor selalu rapi dan bersih. Meja dan kursi tertata rapi. Lantai selalu harum karena kerap kali dipel. Ada lemari untuk menyimpan mukena dan sarung. Sandal dans epatu tertata di rak bagian luar kelas. Galon yang selalu terisi air atau es teh. Makan dengan membawa bekal dari rumah dan dilakukan secara serempak setelah salat Duha berjamaah. Tempelan karya siswa juga menarik untuk dilihat dan dibaca. Bahkan, pernah bulan lalu mendapatkan penghargaan dari kepala sekolahs ebagai kelas terbersih dengan komentar para adik kelas, “Bagus sekali ya kelas 9A. Seperti melihat kelas di kota.” Saya tidak pernah berekspektasi seperti ini. Saya hanya menuntun, mereka bisa mencari jalannya sendiir untuk membuat kelas nyaman. Bukan berorientasi pada kemenangan, jika menang hanya sekali dirasa. Namun, jika menjadi kebiasaan, maka kebersihand an kerapian di kelas akan mendarah daging pada tiap detik yang dilambungkan oleh anak-anak. Suasana inilah yang membuat kelas menjadi positif, kondusif, aman dan nyaman untuk belajar. Ketenangan membawa perubahan besar untuk belajar yang ramah.
Mengenai dilema etika yang terjadi di lingkungan sekolah saat ini masih taraf permasalahan yang biasa saja. Misalnya, mengenai anak berprestasi di bidang non akademik, tapi tidak mau mengikuti pembelajaran, atau anak yang jarang masuk dan tetap meminta naik kelas. Sebagai pendidik tentu telah mengupayakan dengan sebaik mungkin melakukan ajakan agar anak-anak berbenah. Namun, barangkali strategi yang dilakukan belum berhasil karena berbagai alasan. Untuk itu, dilema etika ini memiliki pengaruh pada kondisi lingkungan sekolah. Misalnya ada dua pendapat di antaras esama pendidik yang mengahsilkan kurang enak komunikasi. Sejatinya, kami tidak bersinggungan. Hanya menjawab melalui data yang dimiliki oleh masing-masing pendidik. Namun, kenapa kurang enak itu muncul? Karena memang perbedaan menghasilkan sesuatu yang kurang nyaman. Perlahan membaik dengan sendirinya karena tujuan awal hanya memajukan sekolah dan menuntun anak-anak menjadi pribadi lebih baik.
Sebagai pendidik yang sedang belajar berpihak pada anak-anak didik, saya juga disebut pelajar. Bukan hanya saya yang memebrikan ilmu kepada mereka. Namun, melalui tingkahnya yang polos membuat saya belajar bagaimana menghadapi atau bersikap di depan anak-anak tersebut. Mereka memiliki potensi yang beragam. Contohnya saja, ada anak saya di kelas yang cenderung diam (pasif). Namun, suatu ketika setelah kami melakukan sesi foto bersama, ia mengeditnya dengan apik. Dari situlah saya mengambil konklusi bahwa si anak ini punya kemampuan lain yang belum tentu semua anak memilikinya. Saya dekati melalui percakapan via WhattsApp. Ia merasa dihargai sekali karena baru kali ini ada guru yang mengapresiasi dirinya. Mungkin selama ini dianggap anak yang biasa saja. Padahal anak ini berpotensi untuk mengembangkan bakatnya. Alhasil, tiap saya ada kegiatan yang mengahruskan membuat video, saya meminta tolong pada anak tersebut untuk ememgangkan kamera. Meskipun pada akhirnya, saya tidak memintanya untuk mengedit video karena untuk tugas, saya berkomitmen akan mengerjakan sendiri apa pun hasilnya nanti. Tak jarang pula saya meminta bantuan anak tersebut sekadar mengedit video kegiatan di kelas untuk bahan rekam jejak perjalanan.
Kegiatan yang saya lakukan itulah, sedikit demi sedikit akan memengaruhi kehidupan anak-anak di masa mendatang. Anak SMP adalah anak-anak yang sukanya lari-lari dan perlu dikejar untuk diajak bekerjasama. Namun, akan berbeda jika kita telah mengetahui triknya,. Masuki dunianya, cari yang membuat mereka bahagia, sering-seringlah lakukan bonding, ajak makan bersama, dan tuntun melalui arahan setiap ide yang keluar dari kepalanya. Mereka adalah jiwa yang bersih dan lihais ekali memeainkan peran. Apalagi gen Z dengan segala kapasitas kemampuan di bidang teknologi. Hal ini akan emndorong pada kegiatan yang kurang bermanfaat (main game, misalnya) secara berlebihan. Maka, menajdikan kemampuan mereka sebagai tamenng untuk belajar akan mempermudah prosesnya. Anak-anak tidak akan mengingat smeua materi yang diajarkan kita sebagai sosok pemimpin pembelajaran. Namun, mereka akan mengingat perlakuan kita. Sebab, bagi mereka, kitalah artis yang tiap hari diberi komentar olehnya. Maka, berbuatlah baik dan ciptakanlah memori yang baik pula.
Keterkaitan antar tiap fase pembelajaran pada modul yang disuguhkan oleh PGP, sebagai pendidik perlu melakukan tuntunan sebagaimana dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan berbagai nilai dan peran sebagai guru penggerak. Selanjutnya, tiap dari kita sebagai guru tentu memiliki visi yang akan dicapai bersama. Visi tersebut dapat digapai dengan keseriusan menjalankannya, misal: melakukan budaya positif, pembelajaran yang berpihak pada murid (diferensiasi), pembelajaran sosial emosional, dan melakukan coaching. Hingga akhirnya, belajar menajdi pemimpin pembelajaran yang bersikap bijak dalam tiap pengambilan keputusan. Menjadi pendidik perlu terus belajar. Dengan belajar maka pendidikan akan terus hidup.
Dilema etika yang kerap terjadi di lingkungan sekolah atau kelas sekali pun, maka selalu ada paradigma yang bertentangan. Misalnya: individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Orientasi pengambilan keputusannya melalui 3 prinsip, yakni berpikir berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, dan rasa peduli. Saya tertarik dengan pengambilan keputusan melalui 9 uji langkah yang eporlu dilakukan. Hal ini membuat kita benar-benar yakin dengan keputusna yang diambil. Di luar dugaan saya ialah ketika melakukan pengambilan keputusan melalui 9 tahapan, maka rasanya lebih bijak dan sedikit meninggalkan kesal yang kesal. Artinya tingkat keberhasilannya semakin besar. Adapun 9 tahapannya yaitu: mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, kumpulkan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar salah, pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, buat keputusan, dan refleksi lagi keputusan yang diambil.
Sebelum mempelajari modul 3.1 PGP ini, saya pernah juga mengalami dilema etika. Hanya saja, ketika itu tidak tahu jika Namanya dilema etika. Alhasil, Keputusan yang saya ambil sepertinya berpikir secara pendek. Perbedaannya dengan saat ini lebih tertata. Mengambil keputusan tidak grasah-grusuh, tetapi bertahap dengan pengujian terlebih dahulu seperti yang telah dipelajari. Hasilnya pun bisa dipetik buahnya dari akar permsalahan yang semula mencuat. Sebagai individu, konsep pengambilan keputusan ini sangat relevan karena saya yang tadinya belum bisa mengontrol emosi dengan signifikan, menjadi lebih baik. Sebagai pemimpin pembelajaran, maka materi ini sangat cocok diterapkan ketika menghadapi anak didik ataupun teman sejawat demi memajukan sekolah.
Teruslah belajar! Karena ilmu itu perlu diupgrade, bukan diupdate saja.
Shofiyah, S.Pd. (CGP-A11 Kelas 288A)

