Wednesday, July 24, 2024

Seruanku kepada Indonesia!

 


 Indonesia dan butir-butir takdir yang digenggam erat oleh masyarakat agraris. Ada hal yang ingin dipikul bersama, tapi kadang dibabat habis oleh keadaan yang serta-merta. Adab dijunjung tinggi, tapi sesekali alpa untuk memuji yang telah merembeskan budaya dan memperbesar akulturasi di negeri ini. 79 tahun bukanlah angka untuk menyandera pemikiran lagi dengan menumpulkannya melalui kacamata dan sudut pandang dari jarak pendek saja. Kita perlu mendeklarasikan letupan-letupan yang bisa mengartikan lebih mengenai Indonesia. Meskipun melalui sajak-sajak, perubahan kecil dalam komunitas sekolah, gaya hidup sehat, ataupun lain hal yang mendorong pada nuansa perubahan yang diprakarsai oleh kesadaran. Menilik dari segi pendidikan. Lagi, lagi, bukan ingin mencampur-adukkan nilai-nilai yang telah dibudidaya luhur oleh nenek moyang. Jelasnya, pendidikan akan mengubah karakter seseorang, dari yang semula enggan berterus terang pada keadaan, menjadi paling risau ketika tak melihat adanya jati diri yang baik.

Pendidikan diminta untuk menjunjung tinggi kodrat alam dan zaman bagi tiap insan. Berdasarkan penuturan Ki Hajar Dewantara bahwa setiap anak dilahirkan berdasarkan kodratnya. Sebagai pendidik hanya menjadi pelukis atau mempertajam warna-warna yang telah tersemat pada masing-masing anak untuk ditebalkan. Harapannya, bukan saja terjadi perubahan pada anak saja, tetapi efek panjangnya ialah Indonesia akan terjamin peradabannya. Bukan menyaingi negara lain. Tidak. Melainkan untuk mengetahui apakah perubahan itu benar-benar memerdekakan kita dari belenggu piker yangs elama ini mengeratkan tali pada kebebasan?

Selebihnya, mari menanamkan tekad untuk berupaya menjadikan Indonesia bermartabat di mata rakyat! Aturan tidak hanya ditempel, lalu dicompang-campingkan oleh keadaan. Sesuatu yang dicetuskan membawa perubahan, tidak dianggap tinggal diam, tetapi dilanjutkan sebagai amanah yang perlu ditindaklanjuti. Mobilitas sudut pandang bukanlah pajangan saja, tetapi perlu diperjuangkan apabila membawa dampak kebaikan bagi sesame. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang kaya dengan ahsil alam. Berlimpah ruah. Bahkan, di daerah daratan tinggi, buah-buahan ataupun sayuran tak terlekkan jumlahnya. Namun, kita masih emmikirkan bagaimana cara yang tepat untuk mengawetkannya sehingga bisa dinikmati di kemudian hari. Keterbatasan pengetathuan juga tak baik jika mengekang anak muda untuk bertahan di negeri ini tanpa berupaya apa-apa. Sudah seyogianya bagi mereka untuk melatah pada sudut-sudut negeri yang menyimpan beragam ilmu, kemudian dapat diaplikasikannya di negeri tercinta. Bukan niatan mencuri ilmu. Melainkan, memperluas edaran ilmu agar lebih bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.

Indionesiaku yang gagah dan tak pernah menyerah ketika dikuliti habis-habisan oleh keadaan. Beragam ujian dating, tapi kita tetap mempropagandakan ekadaan agar baik-baik saja. Pedoman bernegara tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan Pancasila. Masyarakat dituntun untuk menjadi Pancasilais dan ketika semua itu ditanamkan dengan dijalankan setiap harinya, maka harmonisasi tercipta. Contoh kecilnya saja ialah ragam agama di sekolah atau lingkup kecilnya satu kelas. Anak-anak saling membaur tanpa menyudutkan bagaimana seseorang menyembah TuhanNya dan Upaya apa saja yang dilakukan untuk memperoleh surgaNya. Sehingga, bukanlah petisi untuk mendamaikan lagi yang sedang kita butuhkan. Melainkan, ambisi untuk mencegah agar taka da retak di antara warga Indonesia.

2024 ini adalah momen sacral sebab mulai gencar bergentayangan akses mengetahui pendidikan yang lebih modern. Misalnya saja dengan tayangan CoC (Clash of Champions) yang mendewasakan pemikiran orang-orang agar tidak emngesanpaingkan Pendidikan. Sebab, tanpa adanya Pendidikan maka bagaimana caranya kita akan lebih maju daripada kemarin? Kita tidak melihat orang luar negeri di gawai lho, tapi mereka semua anak-anak Indonesia yang bertekad mengubah cara pandangnya melalui Pendidikan hingga ke negara mana pun ditempuhnya untuk mendapatkan pemikiran yang matang. Maka, janganlah berkecil hati jika Indonesia belum seperti negara lain. Kita sedang berproses menuju ke sana.