Oleh: Shofiyah, S.Pd.
Disiplin merupakan ungkapan dari kata kebiasaan yang ketika melakukannya tanpa diri merasa kebas. Kebiasaan yang dirutinkan ini barangkali tidak semuanya berawal dari rasa diterima, bahkan ada yang tertekan. Namun, pendisiplinan mengandung unsur kesengajaan demi menuangkan karakter diri menjadi lebih baik lagi. Disiplin, tentu bernilai positif. Meskipun kerap kali diri kita paham mengenai disiplin, tapi faktanya, belum semua hal dilakukan secara disiplin. Hal ini karena terganggu oleh rasa malas yang mengerak erat di dalam diri.
Apakah ada yang bisa menepisnya? Tentu ada dong. Tilik lagi diri dan visi kita hidup untuk apa?
Kali ini, kita akan mengulik lebih mendalam mengenai disiplin positif yang dilakukan oleh seluruh stake holder di sekolah, terutama murid sebagai pemilik penerima perhatian penuh. Lingkungan belajar akan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Tak jarang sebagai orang tua akan memilihkan sekolah terbaik untuk anaknya. Tidak ada yang keliru dari pilihan orang tua tersebut. Tugas guru adalah menjadi subjek yang terus menerangkan sekolah agar para murid atau calon murid tergugah melakukan kegiatan belajar dengan semangat.
Pondasi awal ialah memahamkan diri sebagai guru yang mulai menggeser paradigma pendidikan dari zaman dahulu dan hari ini, hingga tantangan masa depan. Generasi hari ini yang kita hadapi adalah murid-murid yang cara pandangnya tak lagi sama dengan ketika diri ini masih berada di tahap sekolah sebagai murid. Maka dari itu, pengajaran sebagai bagian dari pendidikan juga perlu mempertimbangan aspek kodrat zaman dan kodrat alam bagi murid. Pembelajaran dengan stimulus respon beralin menjadi teori kontrol dengan kegiatan pembelajaran yang berdiferensiasi untuk menyiasasi perbedaan diri pada masing-masing murid.
Ada beberapa ilusi dalam pendidikan, salah satunya ialah ilusi guru mengontrol murid. Mungkin sesaat kita sebagai guru bisa mengontrol sikap murid yang melewati batas dengan menegurnya, tapi hal itu tidak berlangsung lama, Setelah murid Kembali pada lingkungannya, maka ia seperti semula. Belum tampak kesadaran dalam diri. Setiap anak mememiliki kecenderungan kecintaan terhadap suatu hal yang berbeda. Tak lagi sama. Jadi, sebagai guru hendaklah dapat memfasilitasi hal tersebut agar semua lini dalam kelas (sekolah) bisa mendapatkan perhatian dalam pembelajaran yang maksimal.
Ada tiga hal yang melatarbelakangi seseorang berbuat sesuatu: (1) menghindari hukuman, (2) mendapatkan imbalan/penghargaan, dan (3) menjadi manusia yang diinginkan serta menghargai diri sendiri. Ketiga hal ini tentu ada pada setiap pengambilan Keputusan tindakan manusia, tidak terkecuali murid. Lima kebutuhan manusai ialah bertahan hidup, kebebasan, kesenangan, penguasaan, dan kasih sayang.
Demi menghalau jangkauan disiplin positif, maka guru Bersama murid membuat kesepakatan mengenai keyakinan kelas secara bersama. Hasil kesepakatan tersebut menjadi jalur dalam bersikap dengans egala konsekuensinya. Keyakinan kelas dibuat dengan kalimat positif, misalnya datang tepat waktu sebagai ungkapan dilarang dating terlambat. Keyakinan kelas lebih diterima daripada aturan, meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama yakni mendisiplinkan murid di kelas ataupun sekolah.
Hukuman, konsekuensi, dan restitusi. Ketiga hal ini menjadi tumpuan untuk mendisiplinkan murid. Namun, ada pembeda dari ketiganya. Hukuman menciptakan ketakutan pada murid dan ia hanya mengubah sikapnya sesaat. Konsekuensi berusaha memahamkan murid untuk taat aturan tapi belum sepenuh hati untuk menjadikan disiplin positif sebagai jati diri. Sedangkan restitusi, maka akan menciptakan murid untuk belajar memecahkan masalah dan sadar dengan baik.
Adapun tahapan untuk melakukan restitusi: menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Sebagai CGP, saya pernah melakukan segitiga restitusi pada salah satu murid yang semula jarang masuk sekolah. Ternyata, ia merasa terganggu dengan polemik keluarga yang bercerai dan mengharuskan pindah tempat tinggal. Jarak ke sekolah terbilang jauh. Maka dari itu, ia tidak sekolah. Saya memanggil anak tersebut dan mengajak bicara. Pertama, saya melakukan menstabilkan identitas dengan mengatakan, “Benar, tiap manusia pasti memiliki kesalahan, termasuk tidak hadir ke sekolah.”
Selanjutnya, memvalidari tindakan murid yang salah, “Tidak apa-apa. Ibu pernah kok tidak masuk juga ke sekolah, tapi dengan alasan sakit. Sebagai murid berarti tanggung jawabnya adalah belajar di sekolah kan? Kalua tidak masuk tanpa keterangan apa pun, apakah mencerminkan sebagai tanggung jawab tersebut?” si anak menggelengkan kepala dan mengatakan, “Iya, Bu, maaf. Tindakan saya salah.” Dilanjutkan dengan bertanya keyakinan kelas, “Apa masih ingat dengan keyakinan kelas kita?” dia mengatakan ingat. Kemudian berjanji akan masuk sekolah meskipun tidak ada yang mengantar, akan memakai sepeda ontel. Alhamdulillah, tampak ada perubahan.
Saya melihat kejujuran di mata anak tersebut. Harapan besar saya sematkan padanya. Meskipun kondisi keluarga tidak lagi harmonis, tapi ia tetap mau menunjukkan perilaku terpujinya dengan tetap bersekolah. Dia anak yang kuat secara fisik dan mental. Diempaskan dari masa remaja yang seharusnya menikmati bersama kawan. Justru ia diperdebatkan dengan keadaannya yang menemukan aral melintang. Sungguh terenyuh hati ini.
Berikut adalah disiplin positif yang saya lakukan ebebrapa pekan awal semester ini.
Saya meyakini bahwa setiap guru memiliki gagasan untuk membawa marwah pendidikan ke jenjang yang lebih baik dari ini. pun beragam cara telah dikerahkan demi mewujudkan pembelajaran yang Merdeka.
Probolinggo, 15 Agustus 2024
