Teruntuk sebuah aroma yang sempat kau kirim pada dunia maya
Memang aku tak berani menikmati--takut-takut jatuh hati padanya teramat membunuh!
Nyatanya, kali ini ia datang sebagai wujud dirimu yang nyata
Boleh menyesap sambil tak membunuhmu, Re?!
Begitulah sajak yang pernah kubaca di beranda ingatan kelam. Katamu, kopi tak pernah berbicara apa-apa, kecuali kesederhanaan untuk mengabulkan dalam menikmatinya. Ada pahit yang jika terus menerus disesap, ia beriring dengan manis. Begitu pula dengan hidup yang dinanti-nanti. Tanpa pernah culas, tanpa pernah diperhitungkan dengan rumus untung-rugi, ia meninggalkan sesuatu tanpa menanggalkan bunyi pada sunyi; Aku menikmati aroma dari teguk yang kau suguhkan pada kesungguhanmu.
Shofiyah
Probolinggo, 2019
Monday, November 4, 2019
Floral
: kepada yang hatinya berbunga
Shofiyah
Kau; yang hari ini menakar lumatan rindu
Menyapihnya di antara ilalang yang saban hari kita siangi
Mempersiapkan tetamu di meja hiasan bunga-bunga yang mekarnya bersejatuh di hati--suka
Dan, rupanya segala lebih telah menjadi riasan di wajah itu
Kau; yang dahulu masihlah mengantar senyum Ibu
Di balik selimut pernah dirundung takut untuk berani melaju
Samping rumah adalah perabot dan anak kecil yang sama-sama menjadi kawan mainmu
Hari ini, mereka terbuai dengan garis yang menandakan waktu berakhir
Kau; yang sejatinya menyimpan setia-setia di pucuk embun pengharapan
Meluapkan segala ingin menjadi terkabul melalui-Nya
Pun memilih dia, hanya bukan sementara
Lantas, kau kembalikan sesuatu yang pernah dibeli dengan percuma
: sebelum jam tiga berdentang untuk menghabiskan tegang
Kau; yang kali ini menjadi bidadari
Di antara gemerlap cahaya-cahaya yang lihai menarik hati
Tiada yang pantas untuk dipersuntingkan dengan anggun
Kecuali mulia mendengar kata, SELAMAT
Kau; adalah tempat melepas bahagia untuk kekasihmu!
Probolinggo, 13 Oktober 2019
Shofiyah
Kau; yang hari ini menakar lumatan rindu
Menyapihnya di antara ilalang yang saban hari kita siangi
Mempersiapkan tetamu di meja hiasan bunga-bunga yang mekarnya bersejatuh di hati--suka
Dan, rupanya segala lebih telah menjadi riasan di wajah itu
Kau; yang dahulu masihlah mengantar senyum Ibu
Di balik selimut pernah dirundung takut untuk berani melaju
Samping rumah adalah perabot dan anak kecil yang sama-sama menjadi kawan mainmu
Hari ini, mereka terbuai dengan garis yang menandakan waktu berakhir
Kau; yang sejatinya menyimpan setia-setia di pucuk embun pengharapan
Meluapkan segala ingin menjadi terkabul melalui-Nya
Pun memilih dia, hanya bukan sementara
Lantas, kau kembalikan sesuatu yang pernah dibeli dengan percuma
: sebelum jam tiga berdentang untuk menghabiskan tegang
Kau; yang kali ini menjadi bidadari
Di antara gemerlap cahaya-cahaya yang lihai menarik hati
Tiada yang pantas untuk dipersuntingkan dengan anggun
Kecuali mulia mendengar kata, SELAMAT
Kau; adalah tempat melepas bahagia untuk kekasihmu!
Probolinggo, 13 Oktober 2019
Dia
Ia swastamita, serupa cinta membelah langit dengan dua sisinya;
Vertikal menyusun, satu untukku, satunya lagi engkau
Telah habis semalam purnama yang terkubur, dalam kabur pandang yang kubawa lari--menuju kediamanmu.
Shofiyah
Probolinggo, 2019
Vertikal menyusun, satu untukku, satunya lagi engkau
Telah habis semalam purnama yang terkubur, dalam kabur pandang yang kubawa lari--menuju kediamanmu.
Shofiyah
Probolinggo, 2019
Kita
Ketika enggan berdiskusi perihal detik setelah ini; laju menuntunku tapi tak menuntut agar diselesaikan. Bila seorang mengata barangkali esok, maka gugurlah ingin dan candu yang sempat dipertaruhkan. Senyampang tidak mengejar, tapi rela berjuang, demi ia yang disebut kenang dalam masa depan. Segeralah menghubungi Tuhanmu!
Shofiyah
Malang, 5 Oktober 2019
SEBUAH KADO
Terima kasih, senja kali ini mengantarku untuk segera terlelap di bahu kananmu. Setelahnya, wanita itu pulang dengan gandeng di tanganmu. Aku tersenyum!
Shofiyah, 2019
MARI MENJADI
: Pengulum hujan sebelum duka melanda
Shofiyah
Kenang-kenanglah temu
yang dulu terbiasa menembus terik, dengan basah di sekujur jalan
kali itu rindu menggerayang di altar rumah-rumah cendekia
dengan kata menyimpan dan melupakan
tersebab haus dan lapar adalah bagian melenakan.
Lepas-lepaslah segala kepergian!
yang ingin hanya melawan; sesuatu tak sekawan
seperti kata ia, "Rindu itu kewarasan"
pun alirannya seperti sungai Syn di sembarang wajah
meski dinyana hanya sebuah keadaan,
menggeleparkan.
Hikayat pernyataan untuk menjawab, apa yang lebih adil daripada meninggalkan diri sendiri yang telanjur menjadi air bersejatuh di bawah mata?
Probolinggo, 20 Oktober 2019
Bukan Menawar Makar
Derap, kerapkali melambungkan pendapat di muara-muara Sena
Sebentar lagi, doa-doa akan ditunjuk setelah Subuh--segera selesai digelar
Anak-anak Adam lihai memainkan kesempatan yang sempat berturut untuk tutur
Pertemuan; bukanlah segala kebiasaan yang lumrah digadai-gadai dengan tuntutan yang runtut,
Terlebih di tempat menyandang ego sama, lahiriah mencipta tirakat, dijejali hal menantang, pun diberkati sesama rasa meski berbeda halaman di kampung
: sendirian.
Temukan sisa nyawa yang masih bertengger untuk berucap "Hati" yang tak nista!
Shofiyah
Probolinggo, 22 Oktober 2019
Subscribe to:
Comments (Atom)