Teruntuk sebuah aroma yang sempat kau kirim pada dunia maya
Memang aku tak berani menikmati--takut-takut jatuh hati padanya teramat membunuh!
Nyatanya, kali ini ia datang sebagai wujud dirimu yang nyata
Boleh menyesap sambil tak membunuhmu, Re?!
Begitulah sajak yang pernah kubaca di beranda ingatan kelam. Katamu, kopi tak pernah berbicara apa-apa, kecuali kesederhanaan untuk mengabulkan dalam menikmatinya. Ada pahit yang jika terus menerus disesap, ia beriring dengan manis. Begitu pula dengan hidup yang dinanti-nanti. Tanpa pernah culas, tanpa pernah diperhitungkan dengan rumus untung-rugi, ia meninggalkan sesuatu tanpa menanggalkan bunyi pada sunyi; Aku menikmati aroma dari teguk yang kau suguhkan pada kesungguhanmu.
Shofiyah
Probolinggo, 2019
No comments:
Post a Comment