Remaja Perempuan yang Sehat untuk Bekal Menjadi Ibu Biologis dan Ideologis Peradaban dalam Pencegahan Stunting
Peran seorang perempuan secara sadarnya tidak membedakan dengan kaum laki-laki. Hanya sedikit pembeda saja sebagai fitrah perempuan yang biasanya akan mengalami menstruasi, hamil, dan melahirkan atau menyusui anak (KBBI V). Meskipun, tidak semua perempuan ditakdirkan dengan ujian kenikmatan yang serupa. Ada kalanya sebagai perempuan akan merasakan ingin menjadi seperti perempuan lainnya dan hal itu lumrah.
Menjadi perempuan bukanlah pilihan atau dipilih oleh orang tua sedari mengasuh, mengasi, dan mengasihi kita sedari dini. Sebagai manusia yang telah diperkenalkan dengan dunia dan tak dapat memilih dilahirkan dari rahim ibu yang sebagaimana diidamkan oleh masyarakat dunia, justru hal inilah menjadi tolok ukur bagi kita—sebagai perempuan—kita hanya perlu menjalani takdirNya dengan mengikuti sebaik-baik perbuatan.
Perempuan yang nantinya akan menjadi calon ibu, sudah sepatutnya sedari remaja, bahkan sedari dini perlu memperhatikan kesehatan. Sebenarnya, bukan pada anak perempuan saja, tetapi lelaki juga perlu. Namun, kali ini menyorot pada kaum perempuan sebagaimana ia akan menjadi ibu peradaban bagi suatu bangsa.
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"." (QS. Al Baqarah: 30).
Setiap manusia adalah pemimpin di muka bumi. Setidaknya, ia akan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan bagi apa-apa yang dititipkanNya—termasuk seorang anak. Bagi perempuan, anak adalah titipan dari Allah dan kelak ia akan diminta pertanggungjawabannya sebagaimana yang telah dilakukan untuk membesarkan anak tersebut.
Apabila seorang perempuan nantinya akan diminta pertanggungjawabannya, maka sejak kapan ia akan berproses untuk menjadi perempuan secara utuh? Tentu, jawabannya ialah sejak ia sadar pada hakikatnya sebagai perempuan dan bertanggung jawab atas titipan karunia itu. Dimulai dari masa baligh hingga menjadi istri dan ibu.
Usia remaja merupakan usia gemilang atau usia emas. Usia ini akan menjadi fase penting dan genting apabila dilakukan pada jalur tanpa pengarahan. Apalagi, saat ini dunia teknologi semakin canggih. Banyak video dan gambar-gambar berserakan di sosial media yang notabene akan memperkeruh ruang bermain bagi perempuan. Di sinilah peran perempuan diuji dengan begitu hebat dan kuatnya agar bertahan atau terempaskan dengan keadaan yang memaksa demikian.
Dunia yang semakin canggih mendorong perempuan yang secara naluri menyukai dunia makanan, minuman, fashion, dan lain sebagainya. Memang, sejatinya perempuan itu indah dan menyukai keindahan. Banyak makanan dan minuman yang dikonsumsi efek tergiur dari iklan di sosial media. Mereka tidak tahu dampak negatifnya apabila menyerobot makanan dan minuman tersebut. Usia remaja yang rentan dengan pengaruh menjadikan orang tua perlu waspada. Sebab, kesehatan anak perempuan akan memicu bagaimana ia kelak menjadi seorang istri serta siap secara fisik dan mental menjadi calon ibu. Untuk itu, diperlukan kewaspadaan yang tinggi untuk menghalau racun-racun dunia tersebut.
Seperti yang ditulis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur (2018) yang menyatakan bahwa, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencakup tiga dimensi dasar, yakni: umur panjang dan umur sehat; pengetahuan; dan standar hidup layak. Remaja perempuan yang nantinya akan menjadi ibu (bukan hanya ibu biologis tetapi juga ideologis) tentu diperlukan kekayaan intelektual sedari dini. Sebab, sekolah kali pertama bagi seorang anak ialah seorang ibu biologis yang melahirkannya, maka ia bertanggung jawab untuk mmeperkenalkan dunia padanya. Sementara itu, ditilik dari segi kesehatan, sumbangsih perempuan (dalam hal ini ibu) tentu darinyalah apa yang dikonsumsi dan bagaimana seorang anak mengonsumsi makanan dan minuman, dipengaruhi erat oleh intensitas interaksi dari ibunya.
Dari uraian tersebut, lagi-lagi tulisan ini menitikberatkan kepada sebuah tuntutan bahwa seorang ibu seharusnya mengambil peran kontrustif dalam perkembangan anaknya. Menjadi guru sekaligus teman dalam kehidupan anak. Maka, jika anak sendiri dapat dikendalikan atau diarahkan sesuai kebaikan menjadi generasi penerus yang beradab, maka tidak menutup kemungkinan peradaban akan tumbuh melesat meskipun kita dibingkai oleh negara berkembang. Setidaknya, perlahan ada perkembangan yang mumpuni di negeri tercinta ini.
Akhir-akhir ini yang menjadi intensitas sorotan masyarakat kita ialah polemik stunting. Stunting ialah adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan dan mengingatkan kepada khalayak bahwa dibutuhkan persiapan untuk calon ibu mencegah kekerdilan (stunting) pada anaknya kelak. Persiapan harus dilakukan sedari dini, yaitu ketika masih remaja. Sementara kondisi remaja kita saat ini seperti yang dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (H.C), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menerangkan, “Saat ini berdasarkan Survei Kementerian Kesehatan masih terdapat remaja putri usia 15-19 tahun dengan kondisi berisiko kurang energi kronik sebesar 36,3%, wanita usia subur 15-49 tahun dengan risiko kurang energi kronik masih 33,5% dan mengalami anemia sebesar 37,1%.”
Lantas, apakah keadaan remaja perempuan yang sedemikian menjadi PR besar akan mengurangi angka stunting di negeri ini yang notabene diharapkan pada tahun 2022 akan mengalami penurunan meskipun hanya 3%?
Jawabannya adalah sangat bisa! Asalkan di antara kita sama-sama saling paham. Sebagai remaja perempuan memiliki kontribusi untuk membenahi diri sendiri. Orang tua di rumah ataupun di sekolah menjadi titian panjang untuk selalu mengarahkan dan tidak bosan membimbing remaja perempuan. Pemerintah melalui program yang dijalankan beserta kader-kader yang dititiahkannya. “Bahkan sedikitnya ada 5 program pemerintah prioritas terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui Kemen PPPA, yaitu: (1) peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender; (2) peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak; (3) penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak; (4) penurunan pekerja anak; dan (5) pencegahan perkawinan anak,” (Paudpedia, 2022).
Jika keseluruhan tercapai dengan usaha maksimal, maka stunting bukan lagi masalah yang perlu diperdebatkan konklusinya.
Sumber Data
BPS Kota Surabaya. 2018. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya Tahun 2017. Surabaya: BPS Kota Surabaya.
KBBI V. Perempuan. [Diakses pada 20 Juni 2022].
Q.S. Al-Baqarah (30). Manusia adalah Khalifah di Dunia. [Diakses pada 20 Juni 2022].
No comments:
Post a Comment