Saturday, April 24, 2021

Selamat Tinggal Kemalasan, Selamat Datang Keseharusan

        

Semula, saya menyukai membaca hanya pada buku-buku tertentu, seperti buku kisah-kisah berbagi pengalaman (ketika SMA). Kemudian merambah membaca buku berisi quotes tentang kehidupan. Hingga suatu ketika diperkenalkan pada sebuah buku "Tere Liye". Yups, dari itulah saya mulai melihat nama penerbit yang telah mengeluarkan buku bagus tersebut. Ternyata penerbitnya adalah GPU (Gramedia Pustaka Utama). Semula saya yang hanya membaca quotes, mulai beralih dengan novel. Hanya saja, novel tertentu yang saya baca, tidak semua. Jika bab awal membuat saya penasaran, maka bab berikutnya adalah makanan yang harus saya tuntaskan dengan segera.

Saya bergabung dengan grup kepenulisan yaitu Ayo Menulis. Saya yang semula menulis tanpa dasar, asalkan menulis segala yang ada di pikiran, tanpa memikirkan tulisan saya bagaimana nantinya. Di grup tersebut, kawan-kawan saya menceritakan buku karangan Tere Liye dan penulis lain seperti Sapardi Djoko Damono, dll., begitu antusiasnya. Semakin menyalalah api literasi saya.

Sejauh ini, saya mengerti beberapa hal. Buku membantu pembaca untuk mempersempit ruang mobilitas tapi memperluas dengan hanya 'membaca' saja tentang dunia. Tak perlu pergi ke luar negeri, pembaca seakan-akan merasakan kehidupan di sana. Tak perlu melakukan riset, karena dengan membaca buku dapat diketahui hasil riset dari orang lain. Ketika seorang peserta didik lebih intens membaca, maka di dalam kelas dia akan lebih leluasa menjawab pertanyaan dari pendidiknya. Lebih interaktif dan bisa menjadi tutor sebaya bagi yang lain.

Beberapa manfaat dari membaca buku di atas hanyalah sebagian kecil. Yang tak kalah penting ialah 'dengan buku, kita mengetahui kadar yang paling diperlukan dalam kehidupan'. Misalnya: Kenapa pada kalender bulan pertama disebut Januari? Kenapa ada istilah trotoar? Kenapa pedagang yang berjualan memggunakan gerobak dipanggil dengan pedagang kaki lima? Kenapa belok kanan dan kiri disebut 'pasang sen'? dsb. Semua alasannya ada lho di dalam buku.

Tanpa buku, kita bukanlah apa-apa. Dengan buku kita dapat menjadi apa-apa yang diinginkan. Semula, saya jarang bisa leluasa berkomunikasi. Tidak tertata karena gugup. Semenjak 2017 sering membaca apa saja. Akhirnya, saya lebih percaya diri menjadi pembicara di depan kelas. Bukan hanya itu. Setahun belakangan ketika pandemi covid-19 menyerang seluruh negara. Mau tidak mau manusia harus belama-lama di dalam rumah. Salah satu kegiatan saya selain mengajar online ialah membaca buku.

Buku yang mampu mengubah banyak dalam hidup saya ialah buku karangan Tere  Liye dengan judul “Selamat Tinggal” diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2020. Saya mendapatkannya ketika kawan saya ke Malang pada November 2020 lalu. Ketika era pandemi begini, saya teringat betapa susahnya pedagang mendapatkan pembeli karena konsumen takut jajan di luaran. Apalagi jika karangan seseorang dijiplak dan diambil untung oleh pihak yang tidak bertanggung jawab? Tema yang diangkat oleh Tere Liye berkenaan dengan usaha penjiplakan karya yang dijual sebagai buku bajakan. Miris. Namun, saya sempat membeli sebuah buku di shop** dan semenjak itu saya berikrar tidak mengulanginya lagi.

Kemudian melalui kelas menulis di sekolah (sebagai lini terkecil yang dapat saya akses terlebih dahulu), saya gembor-gemborkan kepada siswa untuk membeli produk buku asli. Ternyata mereka juga merasakan susah dan lamanya menulis. Sehingga, sampai sekarang anak didik saya sudah ada yang memiliki 4 buku terbitan sendiri. Isinya antologi puisi dan cerpen. Namun, menurut saya itu sudah sangat bagus sekali. Dan siswa saya yang telah menulis buku ada 4 orang dengan menggunakan penerbit indie.

Selain itu, perlahan dunia menulis mulai mengenal saya dan mengundang mengisi kelas menulis. Hanya menulis puisi. Terima kasih GPU, telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya yang landai dalam dunia literasi ini.

 

Shofiyah

Probolinggo, 24 April 2021

#BersamaBeradaptasi #GPU47

No comments:

Post a Comment