Thursday, August 8, 2019

Pengikis



Rinai masih menyisakan jejak pada sekuntum mawar
Membungkus rasa yang tertinggal malam itu
Bulir-bulir membawa topik tersendiri dalam keheningan
Sulam, bagai menyulam di atas gemuruh ombak
Diterpa angin berkekuatan durjana
Milik ku, milik dia
Terkekeh pada penitipan belaka
Bukan daun yang membungkus cerita
Tapi cerita berlabel suka
Bukan putri yang mabuk dipuja
Terkumpul pada lesung mulia
Menyeberangi sudut-sudut kota
Di tengah temaram elok rupa

Suara cicit burung pelatuk
Bawa hiasan pada ujung tanduk
Kesal bertajuk harapan
Menyamai persepsi yang bersimpangan
Memutar arah jarum jam kehidupan
Seakan enggan untuk menganalisa
Pada mereka yang tak bersua 

Shofiyah
 Jember, 4/6/2017

Kalkulasi Bijak





Desir laju meliuk ucap
Nyanyian gemuruh bak debu beterbangan
Kata, kalimat, lirih, mereka haturkan
Seuntai dan sejenis klausa
Kian terpatri pada jerat benang

Helat,
Kusingkir masam, muram sebab rekayasa
Luluh pada fatamorgama ingin semata
Semampai pinta mau aku tolak
Perimbun serdadu memekik telinga
Biar,
Biarlah embun tetap pada jernihnya
Setitik jujur bisa merdeka

Laksana desir angin melambai
Membawa sadis genangan jiwa
Bukan ku tak kasihan
Kapan lagi,
Air mengalir pada jernihnya
Padam mulai menekat pelampiasan
Karena satu alasan
Seribu cara pun jadi

Tega,
Tidak tega
Korban,
Mengorbankan
Satu, pilih dan pilihan
Lilin akan menerawang gelap malam
Setiap bait kebaikan
Pun (jua) ku temukan

Shofiyah
 Jember, 30/5/2017

Sesalkah Dia



Shofiyah

Kacang lupa kulitnya,
Kulitnya (tak) lupa kacang
Biar terhunus pedang tajam sekalipun
Dia tetapkah Dia
Sosok pengelana seluruh tempat
Hingga hal kecil terngiang dalam ingatannya
Situasi, kondisi mampu dijamahnya
Terpahat dalam raut wajahnya yang sejuk
Terpangku dalam dekap lembut kasih

Kini kau yang dikagumi tlah berganti
Keperluan tak perlu Dia urusi (seharusnya)
Tapi, bila Dia rela,
Dia tak pernah merelakan itu semua
Tetap pada pendirian pertama
Biar kau arungi luasnya samudera
Kau lupakan Dia
Dia tak begitu
Kau masih melekat dalam ingatan dan hatinya
Dia, selalu teringat pada bayang
Kulit tak pernah melupakan kacang
Jember, 31/5/2017

Wednesday, August 7, 2019

Telepati-Mu



Shofiyah

Getar raga seluruh asa
Terlarut di kemalangan jiwa
Menghantam sajak berongga
Penantian dari-Nya
Tersiar kabar
Seluruh harapan getir
Jangankan rasa segar
Berdiri pun masih kuajar
Bila Dia Rindu pada diri ini
Sakit,
Terasa nikmat Ilahi mendekati
Ujung sambut kusiapi
Demi Ilahi Robbi
Syukur,
Hikmah,
Nikmat,
Tabah hati
Niscaya, Tuhan mengampuni
Puing-puing tak berhasaja
Bertebaran, bagai ilalang
     
                   Jember, 28/5/2017

Kaleidoskop



Hari ini, masihlah Juli
Januari telah lama kita tinggalkan
Februari pun telah tuntas dengan perpisahan
Maret dan setelahnya, adalah penerapan
: menjadi diri sendiri yang tak tahu siapa nanti.

Pada Agustus nanti, atau bulan-bulan setelahnya
Jika tak ada lagi kecewa
Sumbangkan sumringahmu pada semesta.

Kali itu kita akan bicara hal banyak
Seperti anakmu yang penuh harapan
Tawa di antara kita cukuplah mengganti air mata.

Salam kenal untuk satu saudara setanah kelahiran.

Shofiyah
Probolinggo, 25 Juli 2019