"Putih?"
"Itu salju!" katamu. Lalu, "Bisa membuatnya berwarna?"
Kuambil sebilah pisau, kucoba menggoresnya ke salah satu jari.
Tetesan berwarna merah merembes ke putihnya, menjadi pink-kemerahan.
Berwarna!
"Dasar kau petra!" kau menolak perlakuanku.
***
Sebaik menjadi penghibur;
tawa itu disuguhkan percuma,
"mau" saja tak cukup tuk memikat air mata.
"Maukah kami hadiahkan sekeping lelucon agar impas sedihmu,
Miss?" katanya.
Ah, maaf. Sepantasnya aku tak berharap apa-apa pada kalian, selain senyum
yang tulus!
***
Puing-puing dari reruntuhanmu telanjur menjadi castel. Benteng mengalahkan
remukan yang terluka dari panahan,
sobek,
perlahan mengelupaskan diri.
Tak seberapa, kastel itu tetap hidup laiknya pertama mengunjungi
kemenangan.
Kau menang..., aku pun mengalah.
***
Kau adalah lautan!
Berapa mil pun batas terotorial ataupun eksklusif suatu negara membatasimu,
kau tetap menyatu.
Kau adalah daratan!
Ke ujung bagian dunia mana pun, tetap saja tak ada kebuntuan untuk tetap
berjalan.
Maukah menampungku di mana pun kau berada?
***
Sajak hitam putih
"Kenapa tidak abu-abu saja, agar mereka berbaur?"
Tidak! kataku. Alasannya sederhana, hitam ya hitam, putih ya putih. Tidak
mencampur-adukkan keduanya. Abu-abu melambangkan ketidaktegasan dalam memilih.
Tidak berpendirian.
Kau diam, bingung!
***
Ingin kusampaikan padamu, mencintaimu serupa menitipkan hening tanpa kau
usir kedatangannya.
Senada lantunan kegelisahan, ia abadi di sampingmu,
menjagamu,
menemanimu sampai kau melupa bahwa kau terjerat;
tiada ramai.
***
Dadu; mengajarkanku berekspektasi dengan peluang angka yang akan muncul.
Catur; mengajarkanku dapat lolos dari jerat musuh.
Kamu; membimbingku bertahan untuk tak mengabaikan. Memberi kebebasan, tapi
tidak hilang dari pengamatan.
***
Aku mengingat ucapanmu ketika itu, "Aku suka bingkisan."
Setelahnya, orang yang (mungkin) aku menghadiahimu sebuah bingkisan.
Wajahmu mendung ketika membuka, dan isinya adalah surat kematian!
Mendadak kau muak dengannya.
***
Seseorang memberimu duri, menancapkannya di tubuhmu yang ranum dengan
peduli.
"Aku tak takut mati!" katamu membela diri.
Seketika duri tercabut, orang-orang menghadiahimu nisan. Menancapkannya
atas namamu.
Maut.
Segala yang berawal, memiliki akhir, tak terkecuali kita.
Jika awal diselingi kebaikan, maka pada akhir jelasnya bukan lagi
kepura-puraan menyelesaikannya!
Serupa dandelion, berakhir untuk mengawalinya lagi
Akhir adalah awal yang barangkali baik untuk memulai.
***
Kita tak bicara nadi lagi,
atau barangkali jejak yang disulam tanda tanya,
tapi kita bicara yang perlu dibicarakan saja.
"Tak ada," katamu.
Lantas, kau bergeming, aku pun menyalami takdir; kita berusaha memahari
keributan di hati masing-masing.
Tamat
***
Menamatkan konsumsi
Hampir-hampir 86.400 detik kau gunakan hati, jiwa, dan tubuhmu yang hanya
saja di meja dan lapang lelah.
Tidakkah kau tahu bahwa kau dan selainnya dari tubuhmu memerlukan bagian
yang lain?
: Vitamin.
***
Kupasang sepasang mata; berburu
di kanan kiri
beberapa sayap mendaratkan bincang
Nahas!
Semua iba
tiada belenggu pagi itu
di sudut kedai tunggu; menunggulah ia dengan kabar pun langsai.
"Aku tidak sedang menunggu, tapi menanti!"
Ia membaca kepastian pada matamu.
***
Untuk malam,
telah selesai pengembaraan bagi mata sang Athena
dihirupnya angin berembus di ujung surga
berharap bayaran tak seberapa; akan menghapus lapak-lapak peminta.
Senja kedua setelah malam, tidak ditemukan lagi puing keresahan.
Untuk mereka.
***
"Aku pernah menunggu seseorang," kamu.
"Lalu?" kataku sedikit menghiraukan.
"Tidak apa-apa!"
"Aku pernah menunggu," aku.
Namun, sayang! tak ada tanyamu lagi setelahnya.
Apakah semacam itu interaksi? Tidak! Itu pertikaian satu arah; batin.
Tak mengapa :)
***
Pernah
Nyali adalah tali
Seikat terjadi segantang
Bertukar bilur terkubur
*
Di sesak kelipatan tanah
Kita sambang sumbing nun jauh
Gunung, perairan, perkampungan,
Bertukar kelakar
*
Tertanam paksa jika tiada!
***
Kuanggap kau sebagai kebutuhan, sementara dirimu menganggapku sebagai
keinginan semata?
Tidaklah keduanya menemukan titik keseimbangan, salah satunya tidak mesti
dipenuhi meski yang satunya lagi mengharuskannya.
Ya..., begitu!
Begitu saja.
***
Seperti akad yang harus terselenggara. Jika tidak tepat, maka mengusahakan
adalah cara paling mudah untuk menjangkau, meskipun pada akhirnya bisa iya atau
tidak.
Perihal waktu, ia tidak pernah menjajah kita. Kitalah yang kurang
memerhatikan pengaturannya.
Pagi
***
Selain menghaturkan salam melalui "selamat pagi", Arunika tidak
pernah dendam kepada gulita yang lebih lama menyampaikan dirinya pada manusia dan
apa-apa yang berada di loka.
Karena ia tahu, segala ruang dan isinya--termasuk ia--memiliki kodratnya
masing-masing.
***
Mula-mula, kalian elegi yang hadir dari integrasi
tersebab eliminasi, satu per satu--entah ranum atau dewasa--menamatkan atau
menggugurkan diri sebagai bukan pilihan.
Oposisi!
***
Selain nyawa, yang menafkahi kita adalah rupiah, katanya.
Tak perlu mendulang berlimpah, jika selain berkah!
Aku beranggapan, sedikitnya, kita dibesarkan dengan:
darah,
ketenangan,
kepercayaan,
lalu, serupa egois yang redam.
Dan, itulah kita yang bernyawa.
***
Menikah hanya menambah gelar panggilan, yang semula Ms. menjadi Mrs.
Menikah memberi sebutan Ny.
selanjutnya diikuti nama suami kita.
Menikah, ya sederhana. Lantas apa yang rumit?
Menikah; semula nyawamu, menjadi nyawaku dan kita adalah kehidupan di
antaranya.
***
Kini, kita memang tak pernah saling bertaut, apa lagi saling menyeringai
satu sama lain.
Di sudut penerangan, lentera kau pegang samar-samar, sedang aku sibuk
mengeja,
"Apakah kita telah sampai?"
Di rumah masing-masing.
***
Pernah; kau menyuapiku dengan masakan ala kadarnya, mengenalkan rasa:
asin,
pahit,
manis,
kecut,
dan sesudahnya aku tak lagi merasakan apa-apa.
Hambar!
***
Selain hujan, tetes mana lagi yang mampu diterjemahkan uraiannya, detiknya,
jedanya, penghabisannya, dan alirannya?
Selain debu, apa lagi yang tersisa dari residu napas kita?
Adakah selain semakin kita melangkah jauh, maka apa yang diperoleh
sesudahnya?
"Lupa!"
***
Kemudian...,
pada angka ganjil, kita menyelisihinya untuk membagi dengan tiga,
tiada bernilai rata.
Sebelumnya, jika menambahkan dengan yang genap, maka percumalah! akan
ganjil pula pada endingnya.
Demikian, pun perkalian juga tidak diperkenankan.
Biarkan saja!
***
Rinduku lebih rimbun dari alam bebas,
Lebih jauh daripada langkah kaki berdentum,
Lebih miris dari luka, sayatan pisau,
Lebih manis dari gulali yang dilumat anak kecil,
Lebih dari yang tidak tertulis, tapi kau mengerti.
Sedikit lagi!
***
Sepasang jari telunjuk sempat lupa cara memilih
Menunjukkan satu agar tak tergerus musim
Mengabadikan jiwa di tempat yang baru, katanya
Lantas, jasad kita berpulang ke mana?
***
Bagaimana beradaptasi dengan dingin?
Di perapian milik Ibu, kuberikan kedua telapak tangan yang saling mengasihi
dingin. Berharap percikan hawa sekitar api memberi ketenangan untuk bertahan.
Antara dingin dan api, kutemukan hubungan yang kausal.
15 Juli 2019
***
Kau ciptakan warna yang menjadi aksen hidupku; bukan lagi semburat tak jelas.
Di ruang ini, wajah lugu menjadi saksi, perihal kau yang melafalkan
kegagalan untuk kulupa, tapi tidak pernah gagal untuk diam di sini.
Kau, pewarna!
***
"Apa kau mengingat namaku?" aku sempat keliru.
"Seharusnya?"
"Iya. Tanggal lahirku?"
"Bukankah kita akan sama merayakannya?"
"Entah."
Antaramu dan aku, kelak menjadi kita tanpa peduli, "Ini milikku,
milikmu; hariku, harimu; tapi adalah kita."
Kau menenangkan
***
Ada sepasang detak yang terus menghantui; satunya melekat di dinding waktu,
satunya lagi di dadaku.
"Aku pamit sekarang," katamu ketika hampir tengah malam.
"Hati-hati," aku.
"Hati saja."
"?"
"Jangan dua hati, satu saja."
Baiklah, kita meresmikan HATI.
Suatu hari nanti, pada hati tertentu, aku tak lagi memikirkan hati sendiri.
Tak mau menoleh ke belakang, bukan karena enggan; ketahuilah, aku tak ingin
tersulut masa lalumu meski sederhana.
"Hiduplah di masa depan anakku, Nak!" Ibumu memberi kesan dalam pesan.
***
Kau terlalu sungkan untuk dipanggil, Sayang!
Terlalu naif untuk dipanggil, Nak!
Tidak cukup mudah menghapusmu sebagai teman
Atau barangkali lebih enak diucap musuh?
Ah, kau terlalu dini untuk disapa.
***
Lelahmu tak pernah tuntas tersampaikan
Aku harus mafhum dengan bahasa tubuhmu
Yang seringkali berpura tegar,
membungkus kecewa sebagai hal tak perlu,
Menghidangkan senyum selembut awan di tiang kehidupanmu.
Bu, aku menyana cinta tak semudah itu padaku!
***
Telah kupilih pedih daripada perih yang menimpa.
"Keduanya sama!" katamu menuang senyum.
Tidak! Keduanya berbeda. Pedih mengajariku bertahan karena luka; sementara
perih hanya membuatku menutup mata seketika, lalu membukanya lagi. Aku
menikmati pedih yang lama.
***
Pada riak air yang tenang, kau basuh air muka tetangis sisa semalam.
Tersemat di jari waktu perihal dusta,
nestapa,
simalakama,
dan percaya yang tergerus perlahan.
Memulai kembali; perlahan kita roboh di kampung ini.
@PelangiPuisi
Aku melihatmu dalam maya, tersebab dunia nyata enggan berterus terang
padaku.
Melalui kepakan burung, kutahu berita tentang jasadmu abadi di beranda
otakku.
Melalui hening, kupeluk kau dengan rimbun doa yang dirapal atas nama
"baik-baik saja".
Sajak kebiasaan
***
Hari ini, Kawan
Kita tak lagi menyaringkan suara agar tak didengar oleh tawanan masa lalu
Kita berbahagia dengan rangkai masa depan yang baru
Tahu-tahu antara kemarin dan esok, masihlah berbasah baju
Menekuk lutut sendiri tanpa senyum Ibu!
***
Sebagai sesuatu yang pucat, kau bagi tubuhmu untuk dikelir ragam warna:
kematian,
keceriaan,
kerelaan melepas,
kesendirian,
keberanian,
kesucian,
dan yang terakhir adalah ketiadaan.
Pada warna terakhir, tubuhmu tak lagi berstruktur indah; hancur.
***
Tanpa diringkas!
Orang menyebutmu duka, terlahir dari rahim yang luka,
Segala yang terbeber adalah nyawa,
Darahmu mengerak di ujung cinta nan gelisah,
Pada selembar perjanjian, kau akui bahwa
: kau bukanlah sesiapa, hanya bertanda air mata.
***
Telah kulipatkan kedatanganmu sebagai candu
Ia merekat pada jiwa yang membisu
Menempuhnya adalah barang paling berharga
Menunggu,
Mengirimimu doa,
Mengantarmu pada silsilah bukan lagi duka.
Ibu, yang berkasta sederhana.
***
Setengah windu, darahku mendidih memanggilmu
sedangkan pada tahun kelima, kita tak lagi menyatu
enam bulan setelahnya, dia bertandang.
"Agar kau tahu bagian yang harus hilang!" kalimatmu membuat
degupku berhenti sejenak.
Tidakkah kau tahu, dia menyusun kecewa terhadapku, Tuan.
"Kau masih menganggapnya baik, bukan?"
Itu kewajiban yang tak ingin kurenggangkan.
Sudahkah(?)
Persembahan kaktus;
kau tanya duri,
kau tanya bertahan,
kau tanya hausnya,
kau tanya sebagai apa ia.
Seperti seorang yang kau tinggal. Tetaplah ia berdiri kokoh, bersama
bayangmu yang tanggal seribu;
lepas!
***
"Apa kau bisa membaca tentang diriku, selain kesedihan?"
"Tak ada!"
"Pasti ada," aku merengek.
"Letakkan masa lalumu, dan bawalah hatimu pergi dari sini!"
"Aku sendiri?"
"Jangan takut, aku ikut denganmu!"
***
"Sedang apa?" kamu.
"Menentukan hari."
"Untuk apa?"
"Agar aku bisa menentukan pelannya waktu, kuperbanyak angka agar
sehari bukan hanya 24 jam."
"Ada-ada saja."
"Begitulah caranya supaya aku menemanimu sepanjang hidup."
Air matamu tampak mengkristal.
***
Mendekati hari ke-160, bagaimana engkau tak mau kualami dua,
tiga,
empat,
atau angka berapa pun.
Pada hari ke-200, sebelum genap setahun; bincang perihal apakah yang kita
nanti?
Sendiri!
***
Sepenggal hari kusedekahkan pada dirimu--tinggal bayang saja--sedangkan
sisanya, dibawa lari kepenatan.
Antaramu dan waktuku, tak pernah mencipta hal baru; kecuali tidur yang
kualami susah.
Ajari aku tertidur tanpa memikirkanmu! Bisakah?
***
Selain menuliskan jalanan berkabut, sering pula aku menjadi subjek bagi
jalan tak bersiut.
Pada senja yang katanya menandakan kepulangan, aku menjamah dekap tanpa
sahabat yang datang.
Ketika kusampai engkau, tiada engkau di sana.
***
Di langit berpintu ketuk, kukirim syair tanpa ketukan senada
biar seirama antara aku dan hatiku saja
sisanya ialah apa-apa yang tak dianggap.
Jangan dibuang untuk mendapat yang baru.
Tentu jangan!
***
Katanya takdir tak pernah membiarkan kita sendiri
Kau pergi, aku sendiri
“Itulah mengapa kata legam jauh lebih berarti!”
“Tapi legam dan gelap sama-sama menakutkan!” aku.
“Beda! Legam punya kekuatan di dalamnya.”
Saat ini kutahu, kepergianmu adalah kekuatan untuk bertahan sendiri.
Shofiyah
Probolinggo, Juli 2019
No comments:
Post a Comment