Untuk Re
PLEASE
Pertemuan, Lepas, Egois, Aku, Sementara, End
(Shofiyah)
Kesalahan
1: Acuh
Tiada yang indah selain majas yang terangkai dan meringkas,
hatimu! Sedang kau dibesarkan bersama harapan, disiram kasih sayang, dirawat
penuh sukarela, dan balasan yang seharusnya tak sampai, kau pedulikan percuma.
Tak mengapa J
Hikayat
melepaskan adalah ritual paling
dinanti untuk sebagian orang. Tidak seberapa berharga pertemuan yang diciptakan
secara sengaja ataupun terbilang sederhana. Kali itu--orang-orang menyebutnya,
Re--kau bersikeras menetap menatap tugas yang katanya acak-adul. Kau acuh dengan
pekerjaanmu, teman sisi kanan dan kirimu adalah musuh ketika mereka mengajakmu
dan mengatakan hal paling busuk yang kau dengar, “Re, aku bantu mengerjakan,
ya?”
Kau
mulai menampakkan diri kaku, matamu yang besar luruh pada sebagian kertas yang
hambur, tanganmu bergerak memainkan tinta bulpoin yang kau miliki, kemudian kau
usapkan pada meja milik sekolah. Iya, itulah, kau! Dengan segala tabiat, kau
adalah benar dengan katamu sendiri, sementara orang sekitarmu menganggap yang
kau lakukan adalah kerusuhan di bangku formal.
Pernah
sekali waktu kau dijanjikan sepotong roti ketika nilaimu berhasil naik. Tidak
seberapa, memang! Yang terpenting ialah nilaimu bertambah saja. Dari 50 menjadi
55. Bukan pada pelajaran sains, akan tetapi pada mata pelajaran sosial. Tahu
yang kau lakukan telah membuat hati mereka sedikit tergores?
Mereka
tidak perlu kau membalas apa-apa, cukup perhatikan mereka ketika sedang
mengoceh di depan kelas. Kau letakkan sementara jari-jarimu, telinganya jangan
disombongkan, matamu untuknya, dan hatimu--teduhlah. Jika demikian, kau tak
perlu memperoleh perhatian khusus, apalagi sering diajak bicara empat mata
meskipun seringkali kau mengelak dengan kalimat rumpangmu itu. Sadarkah?
“Anu,
saya..., iya..., itu..., karena.”
Kau
tidak pernah serius untuk memenuhi undangan pembicaraan oleh mereka, Re.
Sampai
pada angka 1.095 hari--barangkali kurang atau lebih--dengan kesukacitaan,
kerelaan, kebesaran hati, dan kepurnatugasan mereka terhadap dirimu. Tubuhmu
dikembalikan kepada orangtua yang satu, sementara Ayah adalah seorang yang
lebih Allah cintai daripadamu dan keluarga. Kau sandang gelar alumni sebuah
nama “Hati” di saku kehidupanmu. Kelak, di mana pun kau berkembang setelah hari
itu, maka salah satu penyandang ketidaktahuanmu adalah ia. Semoga!
Kesalahan 2: Perpisahan
23 Mei
2019, akhir dari segala diskusi ketika itu. Sebagiannya adalah aku, menetapkan
salah seorang anak sebagai kandidat wisuda.
Jika pertemuan tidak memiliki perayaan, lantas mengapa ajang
pelepasan adalah perpisahan yang sakral dengan party on the afternoon, ketika
senja sedang jatuh-jatuh cintanya kepada bumi?
Sebuah
tanya tidak mampu terjawab sempurna ketika takdirmu diputuskan sebagai pemerhati
kepemimpinan (barangkali) kelak, ketika napasmu dijunjung ucapan selamat,
ketika kepulanganmu diantar senyum--alhamdulillah,
tiada lagi beban berat di pundak kami--dan disambut antusias oleh Kakak dan
Ibumu. Kau patut berucap syukur untuk itu semua.
Semenjak
gladi kotor dan bersih, orang-orang mengkhawatirkanmu sebagai anak yang
tingkahnya tidak sama dengan kawan yang lain. Akhirnya, kau didoktrin tidak
boleh berada di urutan terakhir meskipun pada presensi, namamu terdaftar
demikian. Kau diapit oleh separuh jumlah teman angkatanmu yang berada di depan
dan belakangmu. Romantis, bukan?
Jika
sajak adalah kata paling indah bagi yang sedang jatuh hati dengan tulisan. Jika
senandung dengan lantunan tuts-tuts piano adalah irama yang selaras dengan isi
hati para penikmat lagu. Jika libur adalah hari ditunggu kehadirannya dan
enggan dilepas kepergiannya bagi para penduduk yang telah bekerja. Jika
menunggu dosen adalah bahasa kuno mahasiswa akhir dan bimbingan yang memuakkan
dinikmati sebagai uji keberanian mental untuk dapat bertahan. Jika penjual
sayur di pasar menghendaki dagangannya laku, meskipun pesaing bukan hanya satu,
sementara pembeli jumlahnya tidak selalu bertambah. Maka, kau adalah sepasang
antara jasad dan pikiran yang menyatu menyeru keadilan atas nama kebahagiaan,
yang sama sekali kami tak ketahui. Itulah, kau!
Kawanmu
sibuk berdedikasi untuk sekolah. Mereka mempersiapkan bekal dengan berbagai
prestasi yang mengagumkan meski tidak semua. Ada sebagian yang namanya telah
terukir di hati dan isi kepala guru-gurumu. Sementara kamu?
Kau sibuk dengan hewan piaraan, si jago, katanya. Teriakan orang-orang
yang mencarimu: security, budhe asrama, kawan-kawan, parahnya lagi, gurumu(?) ibarat tong kosong yang isinya
telah tumpah membanjiri tempatmu berdiri saat ini.
Kau lulus!
Pembicaraan: Pamit
Usai
tarawih.
Setiap
anak digiring dengan rangkulan orangtua untuk dibawa ke kampung halaman. Ia tak
ketinggalan dengan adegan tersebut. Seperti luka yang sedang dikuliti. Perih.
Ia merasakan kegagalan yang dibungkus kesuksesan. Selesai! Semua usai. Tiada
sandiwara lagi yang harus dicerna oleh beberapa khalayak. Ia diperbolehkan melalang-buana
ke mana pun sesuka hatinya. Tidak ada takdir yang harus dilawan berulang kali.
“Saya
pamit dulu, nggih Bu. Saya ke sini
lagi besok ketika pengumuman kelulusan. Maafkan saya,” katanya dengan tulus.
Seberapa
ketulusan dapat dirasa ialah sedalam mata seseorang berbicara dengan geriknya
yang layu, gentar, dan apa adanya. Kedengarannya aneh, tapi bagaimanapun
seseorang pernah nakal atau masih hyper
active daripada yang lain--ranah negatif--, maka ia tetap memiliki sebuah
tempat kecil untuk membenamkan penyesalannya: hati.
Senyum yang Curang
Tiga
hari berlalu. Asrama dipenuhi kursi dan meja-meja kosong. Kamar-kamar berbaris
rapi dengan tertutup. Tanpa penghuni, hanya ada tiga cleaning service dan dua security
yang menjaga keamanan gedung. Seseorang datang, lalu memotret sudut ruang.
Giliran sedang libur begini, asrama sepi, jadi rindu
anak-anak. Masih teringat ucapan Re waktu berpamitan kepada saya. Teringat dulu
di tahun 90-an, saya punya murid ya modelnya seperti dia. Namun, beberapa tahun
yang lalu, dia dipilih sebagai kepala desa.
Begitulah
kira-kira isi pesan singkat yang ditulisnya dalam sebuah grup.
Lalu,
seseorang menimpalinya, “Memang anak dididik di sekolah untuk memperoleh
pengetahuan yang layak. Jikalau anaknya enggan, kita telah berusaha keras, maka
jalan terakhir adalah mendoakan kebaikan untuknya. Kita tidak pernah tahu dia
akan jadi apa setelah ini, bukan?”
Pengalihan
Pengumuman
kelulusan tiba. Menjadi yang teratas adalah kewajaran bagi yang pintar dan
nurut terhadap guru. Namun, bagaimana jadinya jikalau seperti Re mampu
mengalahkan temannya, meskipun satu orang di bawahnya. Sudah menjadi langganan
jika nilai dia selalu kurang dari target dan selalu terbawah. Ketika hari itu
dinantikan, MasyaAllah setidaknya nilainya tergolong baik walaupun dua terendah
di sekolah. Maka, sedikit dawuh Bapak
terhadap kami:
Nilai UN tidak mengukur kesuksesan seseorang. Nilai UN hanya
mengukur kita berhak lulus, atau tidak(?) dan itu pun kelulusan tidak 100%
ditentukan dari nilai tersebut. Sukses tidaknya seseorang di bangku menengah
pertama dan atas, ya dilihat dari itu.
Kemudian menambahkan, saya bukan orang
yang ahli dalam bidang hitung-hitungan. Saya orang sosial. Nilai kuliah saya ya
pas-pasan dulu ketika masa studi. Sementara ada teman saya yang IP-nya sering
sempurna, bahkan IPK-nya nyaris sempurna. Kehidupannya sekarang bagaimana(?)
kehidupannya tidak jauh lebih baik daripada saya. You can caught what I mean?
Jikalau kesuksesan diukur dari satu segi saja, tapi ‘kan tidak begitu? Ada hal
lain.
Probolinggo,
4 Juni 2019
No comments:
Post a Comment