Wednesday, August 7, 2019

PLEASE


Untuk Re

PLEASE
Pertemuan, Lepas, Egois, Aku, Sementara, End
(Shofiyah)

Kesalahan 1: Acuh

Tiada yang indah selain majas yang terangkai dan meringkas, hatimu! Sedang kau dibesarkan bersama harapan, disiram kasih sayang, dirawat penuh sukarela, dan balasan yang seharusnya tak sampai, kau pedulikan percuma. Tak mengapa J

Hikayat melepaskan adalah ritual paling dinanti untuk sebagian orang. Tidak seberapa berharga pertemuan yang diciptakan secara sengaja ataupun terbilang sederhana. Kali itu--orang-orang menyebutnya, Re--kau bersikeras menetap menatap tugas yang katanya acak-adul. Kau acuh dengan pekerjaanmu, teman sisi kanan dan kirimu adalah musuh ketika mereka mengajakmu dan mengatakan hal paling busuk yang kau dengar, “Re, aku bantu mengerjakan, ya?”
Kau mulai menampakkan diri kaku, matamu yang besar luruh pada sebagian kertas yang hambur, tanganmu bergerak memainkan tinta bulpoin yang kau miliki, kemudian kau usapkan pada meja milik sekolah. Iya, itulah, kau! Dengan segala tabiat, kau adalah benar dengan katamu sendiri, sementara orang sekitarmu menganggap yang kau lakukan adalah kerusuhan di bangku formal.
Pernah sekali waktu kau dijanjikan sepotong roti ketika nilaimu berhasil naik. Tidak seberapa, memang! Yang terpenting ialah nilaimu bertambah saja. Dari 50 menjadi 55. Bukan pada pelajaran sains, akan tetapi pada mata pelajaran sosial. Tahu yang kau lakukan telah membuat hati mereka sedikit tergores?
Mereka tidak perlu kau membalas apa-apa, cukup perhatikan mereka ketika sedang mengoceh di depan kelas. Kau letakkan sementara jari-jarimu, telinganya jangan disombongkan, matamu untuknya, dan hatimu--teduhlah. Jika demikian, kau tak perlu memperoleh perhatian khusus, apalagi sering diajak bicara empat mata meskipun seringkali kau mengelak dengan kalimat rumpangmu itu. Sadarkah?
“Anu, saya..., iya..., itu..., karena.”
Kau tidak pernah serius untuk memenuhi undangan pembicaraan oleh mereka, Re.
Sampai pada angka 1.095 hari--barangkali kurang atau lebih--dengan kesukacitaan, kerelaan, kebesaran hati, dan kepurnatugasan mereka terhadap dirimu. Tubuhmu dikembalikan kepada orangtua yang satu, sementara Ayah adalah seorang yang lebih Allah cintai daripadamu dan keluarga. Kau sandang gelar alumni sebuah nama “Hati” di saku kehidupanmu. Kelak, di mana pun kau berkembang setelah hari itu, maka salah satu penyandang ketidaktahuanmu adalah ia. Semoga!

Kesalahan 2: Perpisahan
23 Mei 2019, akhir dari segala diskusi ketika itu. Sebagiannya adalah aku, menetapkan salah seorang anak sebagai kandidat wisuda.
Jika pertemuan tidak memiliki perayaan, lantas mengapa ajang pelepasan adalah perpisahan yang sakral dengan party on the afternoon, ketika senja sedang jatuh-jatuh cintanya kepada bumi?
Sebuah tanya tidak mampu terjawab sempurna ketika takdirmu diputuskan sebagai pemerhati kepemimpinan (barangkali) kelak, ketika napasmu dijunjung ucapan selamat, ketika kepulanganmu diantar senyum--alhamdulillah, tiada lagi beban berat di pundak kami--dan disambut antusias oleh Kakak dan Ibumu. Kau patut berucap syukur untuk itu semua.
Semenjak gladi kotor dan bersih, orang-orang mengkhawatirkanmu sebagai anak yang tingkahnya tidak sama dengan kawan yang lain. Akhirnya, kau didoktrin tidak boleh berada di urutan terakhir meskipun pada presensi, namamu terdaftar demikian. Kau diapit oleh separuh jumlah teman angkatanmu yang berada di depan dan belakangmu. Romantis, bukan?
Jika sajak adalah kata paling indah bagi yang sedang jatuh hati dengan tulisan. Jika senandung dengan lantunan tuts-tuts piano adalah irama yang selaras dengan isi hati para penikmat lagu. Jika libur adalah hari ditunggu kehadirannya dan enggan dilepas kepergiannya bagi para penduduk yang telah bekerja. Jika menunggu dosen adalah bahasa kuno mahasiswa akhir dan bimbingan yang memuakkan dinikmati sebagai uji keberanian mental untuk dapat bertahan. Jika penjual sayur di pasar menghendaki dagangannya laku, meskipun pesaing bukan hanya satu, sementara pembeli jumlahnya tidak selalu bertambah. Maka, kau adalah sepasang antara jasad dan pikiran yang menyatu menyeru keadilan atas nama kebahagiaan, yang sama sekali kami tak ketahui. Itulah, kau!
Kawanmu sibuk berdedikasi untuk sekolah. Mereka mempersiapkan bekal dengan berbagai prestasi yang mengagumkan meski tidak semua. Ada sebagian yang namanya telah terukir di hati dan isi kepala guru-gurumu. Sementara kamu?
Kau sibuk dengan hewan piaraan, si jago, katanya. Teriakan orang-orang yang mencarimu: security, budhe asrama, kawan-kawan, parahnya lagi,  gurumu(?) ibarat tong kosong yang isinya telah tumpah membanjiri tempatmu berdiri saat ini.
Kau  lulus!

Pembicaraan: Pamit
Usai tarawih.
Setiap anak digiring dengan rangkulan orangtua untuk dibawa ke kampung halaman. Ia tak ketinggalan dengan adegan tersebut. Seperti luka yang sedang dikuliti. Perih. Ia merasakan kegagalan yang dibungkus kesuksesan. Selesai! Semua usai. Tiada sandiwara lagi yang harus dicerna oleh beberapa khalayak. Ia diperbolehkan melalang-buana ke mana pun sesuka hatinya. Tidak ada takdir yang harus dilawan berulang kali.
“Saya pamit dulu, nggih Bu. Saya ke sini lagi besok ketika pengumuman kelulusan. Maafkan saya,” katanya dengan tulus.
Seberapa ketulusan dapat dirasa ialah sedalam mata seseorang berbicara dengan geriknya yang layu, gentar, dan apa adanya. Kedengarannya aneh, tapi bagaimanapun seseorang pernah nakal atau masih hyper active daripada yang lain--ranah negatif--, maka ia tetap memiliki sebuah tempat kecil untuk membenamkan penyesalannya: hati.

Senyum yang Curang
Tiga hari berlalu. Asrama dipenuhi kursi dan meja-meja kosong. Kamar-kamar berbaris rapi dengan tertutup. Tanpa penghuni, hanya ada tiga cleaning service dan dua security yang menjaga keamanan gedung. Seseorang datang, lalu memotret sudut ruang.
Giliran sedang libur begini, asrama sepi, jadi rindu anak-anak. Masih teringat ucapan Re waktu berpamitan kepada saya. Teringat dulu di tahun 90-an, saya punya murid ya modelnya seperti dia. Namun, beberapa tahun yang lalu, dia dipilih sebagai kepala desa.
Begitulah kira-kira isi pesan singkat yang ditulisnya dalam sebuah grup.
Lalu, seseorang menimpalinya, “Memang anak dididik di sekolah untuk memperoleh pengetahuan yang layak. Jikalau anaknya enggan, kita telah berusaha keras, maka jalan terakhir adalah mendoakan kebaikan untuknya. Kita tidak pernah tahu dia akan jadi apa setelah ini, bukan?”

Pengalihan
Pengumuman kelulusan tiba. Menjadi yang teratas adalah kewajaran bagi yang pintar dan nurut terhadap guru. Namun, bagaimana jadinya jikalau seperti Re mampu mengalahkan temannya, meskipun satu orang di bawahnya. Sudah menjadi langganan jika nilai dia selalu kurang dari target dan selalu terbawah. Ketika hari itu dinantikan, MasyaAllah setidaknya nilainya tergolong baik walaupun dua terendah di sekolah. Maka, sedikit dawuh Bapak terhadap kami:
Nilai UN tidak mengukur kesuksesan seseorang. Nilai UN hanya mengukur kita berhak lulus, atau tidak(?) dan itu pun kelulusan tidak 100% ditentukan dari nilai tersebut. Sukses tidaknya seseorang di bangku menengah pertama dan atas, ya dilihat dari itu. Kemudian menambahkan, saya bukan orang yang ahli dalam bidang hitung-hitungan. Saya orang sosial. Nilai kuliah saya ya pas-pasan dulu ketika masa studi. Sementara ada teman saya yang IP-nya sering sempurna, bahkan IPK-nya nyaris sempurna. Kehidupannya sekarang bagaimana(?) kehidupannya tidak jauh lebih baik daripada saya. You can caught what I mean? Jikalau kesuksesan diukur dari satu segi saja, tapi ‘kan tidak begitu? Ada hal lain.

Probolinggo, 4 Juni 2019

No comments:

Post a Comment