Saturday, July 20, 2019

Prolog (Kubawa Segenggam Cinta pada Telapak Tanganmu)


Prolog

Setiap manusia, secara fitrah pasti pernah merasa jatuh cinta. Lakilaki- perempuan; remaja-dewasa-tua; ekstrovert-introvert; orang yang malas sekalipun, atau abai dengan dirinya sendiri, pernah berada dalam lingkar jatuh cinta. Cinta tidak perlu ditemukan barangkali, hanya saja dirasakan tanpa melihat, bertatap, bersinggungan, dan dalam waktu serta jarak yang dekat.
Aish, cinta yang seperti apa yang aku maksud?
Sejatinya, aku belum pernah benar-benar merasakan jatuh cinta itu sendiri. Kata orang, cinta adalah barang mustahil! Buktinya orang-orang di desa terpencil, atas dasar perjodohan orangtuanya, mereka bisa fight dengan kehidupan. Bisa memiliki anak-anak yang lucu sebagai penghibur ketika penat bekerja, jalan-jalan dengan keluarga, menimbun kekayaan dari nol. Cinta sederhana yang tidak pernah sederhana di mata mereka. Toh, bahkan, jikalau ada perceraian, pasti setelahnya ada pernikahan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Menikah bagi mereka cukup ada kedua mempelai, mahar, wali, saksi, dan kesepakatan menuai janji bermaterai. Buku terindah melebihi indahnya penerbit mana pun: KUA.
Ah, no! Please, aku muak membahasnya.
Aku tidak mau bernasib sama dengan mereka. Aku mau melalui pernikahan atas dasar sama-sama cinta. Aku mencintainya. Dia mencintaiku dengan sangat. Namun, bisakah? bahkan saat ini saja aku masih berkubang dengan ketidakpastian.
Eh, tunggu! “Selamat bekerja, aku istirahat dulu. Nanti kalau sudah pulang dan sampai di rumah, bangunkan aku ya?”
Kalimat itu baru saja kutulis rapi pada badan pesan WA.
Dan, dia adalah....

No comments:

Post a Comment