Prolog
Setiap manusia, secara fitrah pasti
pernah merasa jatuh cinta. Lakilaki- perempuan; remaja-dewasa-tua; ekstrovert-introvert; orang yang malas
sekalipun, atau abai dengan dirinya sendiri, pernah berada dalam lingkar jatuh cinta. Cinta tidak perlu ditemukan
barangkali, hanya saja dirasakan tanpa melihat, bertatap, bersinggungan, dan
dalam waktu serta jarak yang dekat.
Aish,
cinta yang seperti apa yang aku maksud?
Sejatinya, aku belum pernah
benar-benar merasakan jatuh cinta itu sendiri. Kata orang, cinta adalah barang mustahil! Buktinya orang-orang di desa
terpencil, atas dasar perjodohan orangtuanya, mereka bisa fight dengan kehidupan. Bisa memiliki anak-anak yang lucu sebagai
penghibur ketika penat bekerja, jalan-jalan dengan keluarga, menimbun kekayaan
dari nol. Cinta sederhana yang tidak pernah sederhana di mata mereka. Toh,
bahkan, jikalau ada perceraian, pasti setelahnya ada pernikahan kedua, ketiga,
dan seterusnya.
Menikah bagi mereka cukup ada
kedua mempelai, mahar, wali, saksi, dan kesepakatan menuai janji bermaterai.
Buku terindah melebihi indahnya penerbit mana pun: KUA.
Ah, no! Please, aku muak membahasnya.
Aku tidak mau bernasib sama
dengan mereka. Aku mau melalui pernikahan atas dasar sama-sama cinta. Aku
mencintainya. Dia mencintaiku dengan sangat. Namun, bisakah? bahkan saat ini
saja aku masih berkubang dengan ketidakpastian.
Eh, tunggu! “Selamat bekerja, aku
istirahat dulu. Nanti kalau sudah pulang dan sampai di rumah, bangunkan aku
ya?”
Kalimat itu baru saja kutulis
rapi pada badan pesan WA.
Dan, dia adalah....
No comments:
Post a Comment