Monday, July 8, 2019

Capricorn; Menciptakan Bintang

Aku sedang butuh tidur, barangkali yang lebih sedap daripada tidur dikata lelah. Orang percaya bahwa tidur adalah sahabat yang tidak pernah melupakan, meninggalkan sesiapa yang dipeluknya. Kadang sehelai mimpi yang bertengger di imajinasi, atau mungkin fakta yang terjadi aneh; sementara otak sedang sibuk menelan makanan mengawang.

Seperti diksi yang berdendang di telinga anak kecil, sebelum tidur, usai menelan air susu ibu atau susu sapi perah,  sudah diganti dengan potensi penyeduhannya.

Kadang aku lupa untuk selalu diam, memerhatikan lawan, dan tersenyum; tidak mengapa

Seumpama dalam tidurmu, berebut tempat. Kasta adalah jajakan. Tepat dan tidak pernah tertukar. Sebagaimana Tuhan melukis dan mewarnai apa-apa yang masih memiliki sela pucat untuk diberi warna. Tidak terkecuali dirimu!

"Mengapa tidak kita baikan saja? Apa ada yang harus dihasut ulang?"
"Tiada! Apa semua akan menjadi percuma?" kau menanam diam.
"Sebaiknya ia punah."
"Siapa?"
"Hatiku."
"Kenapa?"
"Aku takut sedang sadar aku berada di tempat yang sedang tidak mampu menahan. Sehingga, yang terjadi adalah aku semakin takut."
"Kau pengecut, Piya!"

Pengecut tidak selalu jadi tumbal. Ia menjadi terpaksa mengungkap takut, tapi di ujung tanduk emosinya tersimpan berani yang belum dikeluarkan.

Kau pasti tahu, setiap yang belajar--anak kecil--dari cara menulis, lalu mengeja dan membaca, kemudian menghitung. Aku bisa menghitung perih, sekaligus luka yang panjangnya menganga untuk diingat. Apa kau tahu diksi apa yang paling tepat untuk membicarakannya?

Kamu!

Pasrah. Seseorang mengenalkan kawan yang bernama, Pasrah!
Aku membiarkan orang lain tertawa, aku mengambil ancang-ancang untuk pelan, selanjutnya mendahului dari sisi kanan. Boleh mempercepat laju asal bermain cantik, bukan?

"Aku mengenal Januari," katamu suatu Arunika yang pas disebut semangat.
"Apa kau membicarakan perayaanku?"
"Bukan!"
"Lantas?"
"Perayaanku. Apa kau mau merayakannya denganku?"
"Apa aku akan dapat feed back?"
"Iya."
"What?"
"Aku!"

Ibuku lebih setuju dengan dokumentasi yang isinya gambar dan beberapa keterangan untuk ilustrasi. Kau menciptakan ilustrasi. Menyisakan girang di kepalanya yang tumbuh subur pada angka 43.

"Di manakah gambar yang ingin kau tunjukkan?"
"Duplikat saja segala yang Ibumu mau," katamu jangan.

Ibu, tanpa engkau minta pun, apa-apa yang menjadi permintaanmu, selalu datang mendekat kepadamu. Entah melalui aku, atau yang lain?

Mungkinkah dia adalah permintaanmu yang lain juga?

Tiada upacara yang menyulut lilin, yang ada kecupan Ibu di ambang waktu. Setahun sekali. Juni adalah waktumu. 

Shofiyah
Probolinggo, 6 Juli 2019

No comments:

Post a Comment