Sebagai pagi, telah kau bentangkan harapan
setangkup hidangan sempat cercecap dari tungku Ibu
adalah takdir:
Kau berhenti di ujung reda,
meredam gamang yang ada
menjadi tiada.
Terkadang dunia tidak adil!
Ia menawarkanku harga segelas airmata
tapi hendak kuminta sepiring percakapan
Untuk kita, agar kusamakan antara keduanya menjadi keseimbangan.
"Adil yang bagaimana yang kau maksud?" kamu pada waktu menandakan kepergian.
Cukuplah jangan ditambah satu lagi, sepotong kasih Ibu saja untukku tanpa kau harus tahu cara merawat bibir yang salah berucap.
Kita kembali ke kota masing-masing!
Shofiyah
Probolinggo, 4 Juli 2019
No comments:
Post a Comment