Wednesday, July 3, 2019

Berbeda Keyakinan


Pada suatu titik,  kita akan menemukan kelemahan,
Kekuatan yang terlihat sama halnya dirimu,
Yang menelusup
Sempat pongah, lalu sadar, 
Bukan sesiapa. 
*
Namamu sebagai luka, 
Tidak perlu lagi, cara memperolehnya,
Aku yakin di sini, 
Sementara kau, di sana dengan yakin yang berbeda
Kita berbeda keyakinan, 
Bisakah salah satunya
: Adalah kesepakatan?
*
Lalu kita berdiri, lantas menyusuri
Melintasi jalan,  sungai,  samudera, 
Dan anehnya kita belum pernah sampai
Pada gedung baru;
Rumah. 
*
Kita pernah bertanya tentang jalan buntu,
Dibantu kepahaman yang tidak lain adalah "iya"
Kau mengalah demi apa?
*
"Pada akhirnya tulisanku menemukan pembacanya sendiri,  bukan dia, tapi kamu," katamu suatu ketika. 
*
Lalu sekarang kukembalikan kalimatmu,  "Pada akhirnya,  kau tak bisa membaca tulisanku meskipun itu adalah dirimu sebagai narasinya dan hidupmu adalah diksi yang tak pernah kupelajari sebelumnya."
*
Barangkali setetes luka jauh lebih besar pengorbanannya, daripada sekadar setitik bahagia yang tersemat di jari pertemuan;
Aku mengartikan luka sebagai pembelajaran berharga, sebagai obat penyembuhnya, tak perlu berdiskusi dengan orang ternama,  cukuplah kau tiada, ia akan reda dengan sendirinya. 
*
Sebagai aku yang enggan menjadikanmu pribadi yang lain, kuungkap terima kasih. 

Tertanda, airmata

Shofiyah
Probolinggo,  3 Juli 2019

No comments:

Post a Comment