Monday, July 8, 2019

Catatan Sebelum Ketiadaan


Kau sedang berlari-lari riang pada hari-hari yang bertanya "berapa"
dalam sepekan, mataku mulai juling karena terpaksa menjadi jalang untuk melihat dan membaca perihal tatap yang tidak berdua.

Aku beringsut, mengutarakan yang hendak kuberitahu.

Ketika aliran Syn sampai ke hilirnya; kau di jembatan terbuat dari pelepah pisang.
Duduk sebagai tungku memangku tulang punggung yang rawan tegak
sekalinya berkata, maka mau tak mau,  kau adalah menang.

Jika dalam setiap kayuhan sepeda menemukan tempat berkunjung, setiap garis tegak dan lurus akan berhipotenusa,  setiap premis akan menemukan konklusi,  maka setiap engkau menemukan dia. 

Sebagai pecahan, aku tak ingin membaginya lagi sebagai perkalian setelahnya. Jika memilih, menjadi penjumlahan adalah kata yang barangkali bermakna.

Lewat pengurangan kalimat, penambahan suasana yang diciptakan seseorang, lelakimu tak seharusnya mendengar.

Hati, selalu saja benar, Re.

Sebelum mereka meninggalkanmu percuma, pergilah atas dasar sadar,  mereka bukan sesiapa. 

Hiduplah sebagaimana kupu-kupu hinggap,  lalu terbang melintasi cakrawala. Bisakah belajar untuk menakuti bahwa kau tidak takut dengan keadaan.

All is well. 

Untuk Kakak, 

Dari, adik kecilmu,

Shofiyah

Kraksaan, 3 Juli 2019

No comments:

Post a Comment