Monday, July 8, 2019

Menunggu: Kau Kembali



"Sebaik-baiknya pergi adalah kembali ke tempatmu," katamu, tanpa ragu.
"Aku meyakininya sejak sebelum hari ini."
"Kau gigih, ya?"

Kecuali halal, rupiah acapkali meninggalkan peluh
di punggungmu
bagaimana sistem kerja otak menyelesaikan kerumitan;
Pernah kau abstain untuk mendebatku seraya
berucap 'mulai hening'.

Aku tidak mau kita abstrak. Bisakah menjadi kon?....

Aku belum menyudahi kalimatku dalam hati. Kau munculkan dirimu sebagai engkau yang aku, dan aku tak pernah selesai menjadi aku yang utuh tanpamu.

"Aku ingin nyata dalam dunia mayamu, tapi tidak maya dalam dunia nyatamu." Kamu.
"Aku butuh itu," kau menggeledah isi kepalamu.

--pesan Ibu--
Kecuali titah, boleh kupinjam Ibumu? 

Lantas, katamu tak perlu. Biar dia men…
Maklumat

Sebagai pagi, telah kau bentangkan harapan
setangkup hidangan sempat cercecap dari tungku Ibu
adalah takdir:
Kau berhenti di ujung reda,
meredam gamang yang ada
menjadi tiada. 

Terkadang dunia tidak adil!

Ia menawarkanku harga segelas airmata
tapi hendak kuminta sepiring percakapan

Untuk kita,  agar kusamakan antara keduanya menjadi keseimbangan.

"Adil yang bagaimana yang kau maksud?" kamu pada waktu menandakan kepergian.

Cukuplah jangan ditambah satu lagi, sepotong kasih Ibu saja untukku tanpa kau harus tahu cara merawat bibir yang salah berucap.

Kita kembali ke kota masing-masing!


Shofiyah
Probolinggo, 4 Juli 2019

No comments:

Post a Comment