Tanpa kau tahu, ada sepi yang rimbun tanpamu.
***
"Aku menunggu hadiah darimu."
"Tak ada."
"Sia-sia berarti aku menunggu?"
Seperti yang dinyana olehmu, "Iya, sia-sia." Selanjutnya, kau berkirim surat kabar dalam bentuk gambar.
"I like."
"Wajib!" katamu.
"Tak ada."
"Sia-sia berarti aku menunggu?"
Seperti yang dinyana olehmu, "Iya, sia-sia." Selanjutnya, kau berkirim surat kabar dalam bentuk gambar.
"I like."
"Wajib!" katamu.
***
Pada perjalanan, bukan lagi kata "nyasar" ingin diperkenankan sebagai cerita,
bukan pula engkau atas dasar curiga.
di perberhentian lampu masih tergelar sorot
: adalah matamu yang tak pernah lupa kuucap di setiap daun melambai.
bukan pula engkau atas dasar curiga.
di perberhentian lampu masih tergelar sorot
: adalah matamu yang tak pernah lupa kuucap di setiap daun melambai.
***
"Adakah yang lebih berharga daripada nyawa?"
"Jangan bertanya yang tidak-tidak!" katamu, meredam gelisahku.
"Aku sedang serius. Dengarkan dulu!"
"Bagaimana? Bisakah bicara yang tidak melantur?"
"Aku sedang takut saja."
"Kalau begitu, aku nyawa bagimu."
"Jangan bertanya yang tidak-tidak!" katamu, meredam gelisahku.
"Aku sedang serius. Dengarkan dulu!"
"Bagaimana? Bisakah bicara yang tidak melantur?"
"Aku sedang takut saja."
"Kalau begitu, aku nyawa bagimu."
***
"Aku tidak bisa tidur!"
"Jangan menunggu! Aku pulangnya larut."
"Hei..., siapa menunggu?"
"Itu tadi bilang apa, coba?"
"Di sini mati lampu. Sesak. Harus ada cahaya, baru bisa aku tidur."
"Coba pejamkan mata! Ada bintang bertabur, bukan? Aku menjagamu dari sini.
"Jangan menunggu! Aku pulangnya larut."
"Hei..., siapa menunggu?"
"Itu tadi bilang apa, coba?"
"Di sini mati lampu. Sesak. Harus ada cahaya, baru bisa aku tidur."
"Coba pejamkan mata! Ada bintang bertabur, bukan? Aku menjagamu dari sini.
***
Kita terlalu dini untuk menyebut Juli sebagai musim yang basah
Sedangkan Juni, kita sebut apa selain hujan?
Kemarau datangnya tak diduga, apalagi rasa atas nama cinta?
Lebih tidak berlogika katanya.
Ah, nalarmu terlalu pesimis, Kawan!
Sedangkan Juni, kita sebut apa selain hujan?
Kemarau datangnya tak diduga, apalagi rasa atas nama cinta?
Lebih tidak berlogika katanya.
Ah, nalarmu terlalu pesimis, Kawan!
***
Wajahmu sebagai teka-teki,
untuk melukisnya, aku perlu menerka
mengumpulkan satu per satu bagian dari kehidupanmu.
Lantas merampungkan pandang yang belum kutembus retinanya.
Ibu, tahukah yang paling menyesakkan dalam hati itu?
untuk melukisnya, aku perlu menerka
mengumpulkan satu per satu bagian dari kehidupanmu.
Lantas merampungkan pandang yang belum kutembus retinanya.
Ibu, tahukah yang paling menyesakkan dalam hati itu?
***
Sejak hari itu; aku lupa cara menyambut malam
Desir yang membawa suaramu, curam untuk diabaikan
Maka, sekalinya gelap memunggungi terang
Tiada suntuk untuk kubawa kepadamu sebagai pelukmu paling erat.
Desir yang membawa suaramu, curam untuk diabaikan
Maka, sekalinya gelap memunggungi terang
Tiada suntuk untuk kubawa kepadamu sebagai pelukmu paling erat.
***
Sebentar!
Lampu di jalan masih terang,
Rambut kita masih legam,
Anak Adam ricuh dengan suara azan,
Kau lupa belum mencuci bekas tangismu,
Airmata mili ke berapa yang telah tanggal?
"Ah, masih pertengahan Juli," katamu spontan.
Lampu di jalan masih terang,
Rambut kita masih legam,
Anak Adam ricuh dengan suara azan,
Kau lupa belum mencuci bekas tangismu,
Airmata mili ke berapa yang telah tanggal?
"Ah, masih pertengahan Juli," katamu spontan.
***
Seperti dadu; keenam bidangnya adalah bahasa nyata tertentu,
Tak bisa dipilah atau kau pilih dalam permainan,
Semua sisi tak dapat ditemui bedanya,
Engkau yang kamu; Aku yang saya; atau barangkali engkau yang aku.
Sama-sama beretorika dalam diam.
Tak bisa dipilah atau kau pilih dalam permainan,
Semua sisi tak dapat ditemui bedanya,
Engkau yang kamu; Aku yang saya; atau barangkali engkau yang aku.
Sama-sama beretorika dalam diam.
***
"Jangan menawar sepiku!" aku.
"Justru aku memintamu untuk tersenyum, Puan." Lalu, katanya lagi, "Apa kau tidak lelah dengan sepi?"
"Ia selalu menemaniku ketika orang-orang pergi, termasuk dirimu."
Tapi aku sedang di sini. Lalu siapa yang paling setia?
"Justru aku memintamu untuk tersenyum, Puan." Lalu, katanya lagi, "Apa kau tidak lelah dengan sepi?"
"Ia selalu menemaniku ketika orang-orang pergi, termasuk dirimu."
Tapi aku sedang di sini. Lalu siapa yang paling setia?
***
Di ujung kedai penantian
Seorang barista membiarkanmu menikmati kopi racikannya
Kau, "Ada rasa lain selain pahit dan sedikit manis dari kopi buatanmu?"
Ada! Aroma yang pekat pada segelas kerinduan.
Seorang barista membiarkanmu menikmati kopi racikannya
Kau, "Ada rasa lain selain pahit dan sedikit manis dari kopi buatanmu?"
Ada! Aroma yang pekat pada segelas kerinduan.
***
"Allah..., bolehkah menyerah?"
Lalu, Allah berucap, "Bukannya dulu kamu orang yang gigih? Dan Aku tidak pernah memberimu ujian jikalau kau tak mampu menuntaskan. Jalani, toh kemudahan itu sangat dekat denganmu."
"Benar ya, ya Allah?"
"Iya, hambaKu."
Lalu, Allah berucap, "Bukannya dulu kamu orang yang gigih? Dan Aku tidak pernah memberimu ujian jikalau kau tak mampu menuntaskan. Jalani, toh kemudahan itu sangat dekat denganmu."
"Benar ya, ya Allah?"
"Iya, hambaKu."
Shofiyah
Kraksaan, 2019
No comments:
Post a Comment