Selamanya kita adalah luka,
pura-pura menanamkan rupa,
sebagai kata berjeda,
pariwara tergenggam daksa;
terpaksa sandiwara.
Jejal sekali terjal,
yang angkuh adalah riwayat,
yang keras bukanlah kamu,
tapi bebal di kata sirna.
Jadi apa yang lebih heran daripada keras kepala?
Kecuali, terlena!
Hendak kupasrahkan, arah melintang, kalimat bersahaja, pintu yang terdulang, dan kita yang bukanlah kita.
Aku pergi dari sini.
Shofiyah
Stasiun Bayuangga, 1 Juli 2019
No comments:
Post a Comment