Saturday, June 29, 2019

Suatu Kejelasan dari Altar Keraguan


Hendak kau bertanya apa, selain catatan kaki dari lembar yang telah kaubaca nampak lengkap? Bilakah yang cacat ialah selarik atau hanya sekata yang mestinya tidak bermakna banyak, atau barangkali kau uji keresahan ini dengan caramu? Tenang saja, tiada pecundang yang akan kukirim sebagai mata-mata untuk mencari keberadaanmu. Lantas, ia akan kupetakan wajahmu samar-samar sehingga yang tergambar hanyalah abstrak.

Kau sempat menjadi tawanan, penghuni, pengatur untuk hati yang terluka. Pernah pula menjadi bagian dari tradisi yang dilestarikan, yaitu memikirkanmu. Namun, ketika kau tahu, itulah sia-sia adanya. Meski katamu tiada yang sia-sia di dunia ini. Benarkah?

Selama aku di tanah yang warnanya masih gelap, belum ada warna merah untuk dijadikan tempayan agar ia nantinya kuisi dengan air jernih, lalu kulihat bayangmu di situ. Tidak akan pernah! Kusampaikan pesan dari penjuru senja, katanya Mungkinkah kau akan menyukainya kembali? Seperti dua tahun terakhir kau habiskan seperdelapan waktumu hanya untuk menantinya.

Kita tidak bicara soal kemungkinan lagi. Bisakah tentang 'kepastian'?

Tak apa, kau tak usah ragu untuk tidak menjawab. Kebungkamanmu adalah sebuah jawab atas pertanyaan yang kububuhkan harapan getir kala itu.

Aku menemukan kehidupan setelah hujan; Aku menemukan rangkaian kata indah untuk mengungkap terima kasih; Aku menemukan jejak kepulangan yang lebih berarti; Aku menemukan siluet penari kehidupan yang cerdik berkat kehebatan yang sempat kau tularkan; Aku menemukan alam yang mampu kulukis dengan anak kalimat; dan aku menemukanmu yang hidup lagi dari kehidupanku.

"Berapa harga sekantong masa lalu?" katamu bertanya pada awan di atas.

Aku tersipu dengan gurauan yang ala kadarnya. Ingin kujawab padamu, "Masa lalu tidak dapat diharga! Ia akan selalu mengikutimu, karena tidak berharga di masa mana pun."

Aku pun cemburu karena belum sempat kukata, kau telah menerima jawaban lain yang lebih menyakitkan.

Kau percaya bahwa masa lalumu lebih indah menjadi amnesia.

Shofiyah
Probolinggo, 25 Januari 2019

No comments:

Post a Comment