Transkrip Rasa
Shofiyah
Segalanya, jika ada yang ingin kubicarakan, maka tiada lain
perihal belajar. Sesuatu kau anggap maya, lalu kita terlanjur menamakan diri
sebagai “suara” hasil dari jeritan hati ketika sedang akut-akutnya berkata: kita. Iya, kita tidak pernah terbersit
sedikit pun memanggil aku atau kamu secara utuh sebagai kesatuan yang berdiri
sendiri, kokoh tanpa sandar, dan pikir menyadarkan bahwa kita terlampau
melewati celah-celah rindu di ruang angkasa, yang entah bernama apa.
“Rindu adalah luka,” kataku,
menatap rambutmu yang legam, berbatas siluet silam, bersama pundak yang kekar.
“Aku tidak suka dengan luka,” kau
menghardik kalimatku dengan percuma.
“Kau harus paham dengan luka!”
“Masa bodoh! Aku dibesarkan
dengan darah dan airsusu Ibu, kenapa aku harus memikirkan luka yang barangkali
aku dan kita tidak menginginkannya?”
“Kau payah!”
“Memang.”
“Aku ingin suatu saat kau
melihatku sebagai luka!”
“Tidak mau.”
“Harus mau!”
“Terserah, ada penjabaran lain
dari rindu?”
“Ada.”
“Apa?”
“Dirimu!”
***
Aku ingin belajar mengeja,
setelahnya membaca kerumitan, dan pada akhirnya aku akan menuliskan kekeliruan
di antara kita. Kau boleh menemaniku dari mengeja senja.
“Aku jarang ada ketika senja
berada di ambang sore,” katamu.
“Aku menyukainya.”
“Bisakah beralih ke arunika
saja?”
“Wah, apa itu? Semacam permainan,
makanan, atau another...?”
“Ah, katanya kau penulis? Masa kata ‘arunika’ tidak
pernah kau gunakan sebagai diksi yang memukau?”
“Kalau saja....”
Penulis,
Penikmat Kopi, dan Sepotong Masa Lalu
“Kenapa teman-teman yang kukenal
memiliki hobi yang sama?”
“Apa?” aku masih dengan tinta di
tangan dan kertas yang separuh terisi dengan darah.
“Penulis!”
“Dia penulis, kau penulis, tapi aku
tidak mau membaca tulisan kalian.”
“Oke, tak mengapa. Aku hanya
ingin menjadikanmu objek dalam tulisanku, bukan sebagai pembaca tulisanku. Eh,
sebentar! Dia, siapa maksudmu?”
“Oh itu..., lupakan!”
Barangkali
lupa adalah jalan pintas agar lekas sampai di titik kesembuhan.
Aku mengaamiini setiap apa-apa
yang dianggap oleh mayoritas orang baik, dan aku menolak untuk tidak
melakukannya jikalau tiada hubungannya dengan kamu.
Dan aku percaya kekuatan terbesar
di dunia adalah hati kita sendiri.
“Aku
menyukai kopi.” Katamu sambil mengirimi gambar seduhan kopi di
teras waktu.
“Ah, aku tidak. Ia membuatku
sakit perut. Aku sudah tahu kau sangat menyukai kopi.”
“Tahu dari mana?”
“Tiap hari disodorkan memo
begituan, pahamlah. Sangat, malah.”
Kau tampak tersenyum simpul.
“Kau lihai meraciknya, ya?”
“Bisa. Apa itu disebut keahlian? By the way, kata temanku, ‘kopi yang
enak adalah kopi buatan istri’.”
“Kekasihmu sudah jadi istri orang
lain. Ngapain bicara perihal itu kepadaku?”
“Ingin saja. Kenapa?”
“Oh..., bukan kau bermaksud
menjadikanku sebagai istrimu?”
“Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, why?”
“Nggak. Aku hanya mau berteman
denganmu.”
“Kalau kau suka aku, bagaimana?”
“Itu takdir.”
Kau adalah teman bercerita,
berbagi emosi, menyelesaikan konflik, menciptakan alur, drama pernah kita
mainkan di panggung yang bernama “rupa” dengan aku sebagai aku; kau sebagai
engkau; dan engkau adalah aku yang demikian.
Hal yang paling menyakitkan
katamu adalah masa lalu. Bagiku, masa lalu adalah hal yang ingin kuraih
kembali. Ada cinta berlimpah ketika itu. Kau mengatakan pesakitan yang teramat.
Sukar menangkap klimaks dari ceritamu, sebab mungkin airmukamu ketika itu
sembab dengan keadaan. Entah airmata berapa mili telah kau tanggalkan dan
ditinggalkan untuk menguburnya.
-masa lalu-
“Aku menyayangi Ibu,” kau.
“Semua anak menyayanginya, tak
terkecuali kau.”
“Apa kau sayang Bapakmu?”
“Sangat! Kau pun?”
“Tidak! Aku lupa cara
menyayanginya.”
“Kau brengsek!”
“Bisa jadi. Dahulu aku begitu
menyayanginya, sebelum dia pergi.”
“Pergi ke?”
“Surga.”
Aku terkejut, kau biasa saja.
Kita selalu bertanggapan berbeda terhadap setiap hal.
“Aku memiliki dua Bapak, apa kau
mau satu untukmu?”
“Tidak.”
“Lalu? Selamanya kau tidak akan
merasakannya lagi. Apa kau kuat?”
“Kenapa tidak? Aku lelaki!”
“Aku perempuan, apa itu sebabnya
dua malaikat itu menjagaku?”
“Mungkin. Aku akan memilikinya
lagi. Segera!”
“Caranya?”
“Menikah denganmu.”
“Tadi bilangnya gak mau kukasih
satu. Sekarang mau menduplikat sesuatu milikku? Kau jahat!”
“Bukan, maknai saja perkataanku.”
“Aku tidak bisa.”
“Dasar anak kecil. Bisanya apa
selama ini?”
“Berbicara denganmu.”
Probolinggo, 24 Juni 2019
No comments:
Post a Comment