Friday, June 28, 2019

Transkrip Rasa


Transkrip  Rasa
Shofiyah

Segalanya, jika ada  yang ingin kubicarakan, maka tiada lain perihal belajar. Sesuatu kau anggap maya, lalu kita terlanjur menamakan diri sebagai “suara” hasil dari jeritan hati ketika sedang akut-akutnya berkata: kita. Iya, kita tidak pernah terbersit sedikit pun memanggil aku atau kamu secara utuh sebagai kesatuan yang berdiri sendiri, kokoh tanpa sandar, dan pikir menyadarkan bahwa kita terlampau melewati celah-celah rindu di ruang angkasa, yang entah bernama apa.
“Rindu adalah luka,” kataku, menatap rambutmu yang legam, berbatas siluet silam, bersama pundak yang kekar.
“Aku tidak suka dengan luka,” kau menghardik kalimatku dengan percuma.
“Kau harus paham dengan luka!”
“Masa bodoh! Aku dibesarkan dengan darah dan airsusu Ibu, kenapa aku harus memikirkan luka yang barangkali aku dan kita tidak menginginkannya?”
“Kau payah!”
“Memang.”
“Aku ingin suatu saat kau melihatku sebagai luka!”
“Tidak mau.”
“Harus mau!”
“Terserah, ada penjabaran lain dari rindu?”
“Ada.”
“Apa?”
“Dirimu!”
***
Aku ingin belajar mengeja, setelahnya membaca kerumitan, dan pada akhirnya aku akan menuliskan kekeliruan di antara kita. Kau boleh menemaniku dari mengeja senja.
“Aku jarang ada ketika senja berada di ambang sore,” katamu.
“Aku menyukainya.”
“Bisakah beralih ke arunika saja?”
“Wah, apa itu? Semacam permainan, makanan, atau another...?”
“Ah, katanya kau penulis? Masa kata ‘arunika’ tidak pernah kau gunakan sebagai diksi yang memukau?”
“Kalau saja....”

Penulis, Penikmat Kopi, dan Sepotong Masa Lalu
“Kenapa teman-teman yang kukenal memiliki hobi yang sama?”
“Apa?” aku masih dengan tinta di tangan dan kertas yang separuh terisi dengan darah.
“Penulis!”
“Dia penulis, kau penulis, tapi aku tidak mau membaca tulisan kalian.”
“Oke, tak mengapa. Aku hanya ingin menjadikanmu objek dalam tulisanku, bukan sebagai pembaca tulisanku. Eh, sebentar! Dia, siapa maksudmu?”
“Oh itu..., lupakan!”
Barangkali lupa adalah jalan pintas agar lekas sampai di titik kesembuhan.
Aku mengaamiini setiap apa-apa yang dianggap oleh mayoritas orang baik, dan aku menolak untuk tidak melakukannya jikalau tiada hubungannya dengan kamu.
Dan aku percaya kekuatan terbesar di dunia adalah hati kita sendiri.
“Aku menyukai kopi.” Katamu sambil mengirimi gambar seduhan kopi di teras waktu.
“Ah, aku tidak. Ia membuatku sakit perut. Aku sudah tahu kau sangat menyukai kopi.”
“Tahu dari mana?”
“Tiap hari disodorkan memo begituan, pahamlah. Sangat, malah.”
Kau tampak tersenyum simpul.
“Kau lihai meraciknya, ya?”
“Bisa. Apa itu disebut keahlian? By the way, kata temanku, ‘kopi yang enak adalah kopi buatan istri’.”
“Kekasihmu sudah jadi istri orang lain. Ngapain bicara perihal itu kepadaku?”
“Ingin saja. Kenapa?”
“Oh..., bukan kau bermaksud menjadikanku sebagai istrimu?”
“Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, why?”
“Nggak. Aku hanya mau berteman denganmu.”
“Kalau kau suka aku, bagaimana?”
“Itu takdir.”

Kau adalah teman bercerita, berbagi emosi, menyelesaikan konflik, menciptakan alur, drama pernah kita mainkan di panggung yang bernama “rupa” dengan aku sebagai aku; kau sebagai engkau; dan engkau adalah aku yang demikian.
Hal yang paling menyakitkan katamu adalah masa lalu. Bagiku, masa lalu adalah hal yang ingin kuraih kembali. Ada cinta berlimpah ketika itu. Kau mengatakan pesakitan yang teramat. Sukar menangkap klimaks dari ceritamu, sebab mungkin airmukamu ketika itu sembab dengan keadaan. Entah airmata berapa mili telah kau tanggalkan dan ditinggalkan untuk menguburnya.
-masa lalu-
“Aku menyayangi Ibu,” kau.
“Semua anak menyayanginya, tak terkecuali kau.”
“Apa kau sayang Bapakmu?”
“Sangat! Kau pun?”
“Tidak! Aku lupa cara menyayanginya.”
“Kau brengsek!”
“Bisa jadi. Dahulu aku begitu menyayanginya, sebelum dia pergi.”
“Pergi ke?”
“Surga.”
Aku terkejut, kau biasa saja. Kita selalu bertanggapan berbeda terhadap setiap hal.
“Aku memiliki dua Bapak, apa kau mau satu untukmu?”
“Tidak.”
“Lalu? Selamanya kau tidak akan merasakannya lagi. Apa kau kuat?”
“Kenapa tidak? Aku lelaki!”
“Aku perempuan, apa itu sebabnya dua malaikat itu menjagaku?”
“Mungkin. Aku akan memilikinya lagi. Segera!”
“Caranya?”
“Menikah denganmu.”
“Tadi bilangnya gak mau kukasih satu. Sekarang mau menduplikat sesuatu milikku? Kau jahat!”
“Bukan, maknai saja perkataanku.”
“Aku tidak bisa.”
“Dasar anak kecil. Bisanya apa selama ini?”
“Berbicara denganmu.”

Probolinggo, 24 Juni 2019

No comments:

Post a Comment