Kelak kita akan
dikembalikan ke suatu tempat sebagaimana mestinya. Upaya yang dilakukan ahli pun
tak cukup untuk meyelamatkan dirinya sendiri, terlebih orang lain. Pada
akhirnya menjadi sia-sia belaka. Tiada titisan kehidupan yang disebut dengan
‘karma’ atau balasan seketika di dunia, ia akan dipersaksikan di singgasanaNya.
Bukan itu, ini soal manusia-manusia yang berspekulasi dengan menamatkan
kesangsiannya menjadi manusia seutuhnya. Tentang manusia yang terkadang menyalahi
kodratnya sebagai pemegang tampuk kehidupan sekaligus penyederhana yang
merencanakan keberlangsungan kehidupan meski hanyalah perihal waktu menunggu
kembali.
Mereka telah lama
berada di atas daratan yang kesemuanya adalah pemandangan. Menikmati, mengendalikan,
menguasai, memimpin, menguras, memberi, serta menjalin hubungan keakraban
dengan penduduk bumi lainnya. Pemandangan alam tersebut seperti gunung yang
menjuntaikan pohon-pohon tinggi di samping menyerasikan dengan yang rendah. Sawah
yang menghampar hijau ketika musim tanam, merekahkan senyum yang sempat
disimpan ketika gagal bercerita bagi mereka, si penguasa sepetak tanah
pertanian. Kehidupan yang gemericiknya membawa arus modernitas, bukan hanya
pada remaja, akan tetapi terhadap kalangan banyak. Tetangga yang ditemui pada
via jaringan online mengalahkan siapa
yang berada di sisi tanpa kompromi soal tradisi. Kadang menggelikan, tetapi
seru untuk diceritakan melalui tutur. Itulah daratan! Tempat menemukan kepekaan
terhadap sesuatu yang menjadi cikal bakal beradaptasi.
Bumi tidaklah selamanya
menyebut dirinya sebagai bumi seperti sebelumnya. Suatu hari, tepatnya ketika
sebagian besar desa tidak menyebut dirinya sumber kehidupan, beras pun menjadi
mangsa yang diburu pangsa pasar. Sementara, produsen enggan menitikberatkan
penawarannya terhadap permintaan. Maka, peran kelangkaan adalah teman menikmati
secangkir teh hangat di sela senja. Bumi sesekali akan sedikit meratap nasib
yang tidak pernah dimintanya. Maukah kuceritakah sebuah perairan dengan
kebiasaan kehidupan yang baru dikutip dari masa lalu sebelum percobaan bumi
berakhir?
Sejak abad ke negatif
dua puluh satu, tentu manusia bukanlah seperti yang sekarang kita jumpai.
Mereka banyak menjadi ahli untuk menjalin kerjasama. Kemampuan untuk
berspekulasi tentang kehidupan yang tidak akan berjalan sebelum adalah sanak
tetangga, ialah benar adanya. Hidup bersebelah sisi kanan dan kiri dengan
kebahagiaan, melupakan kecemasan, bahkan mereka tidak pernah mengenal sisi lain
dari kebaikan manusia lainnya. Kehidupan seperti itulah membuat dunia
terkontrol dari keterasingan dan kemelaratan. Kehidupan yang banyak memperoleh
pengakuan penafsiran tentang ketenangan.
Karena posisi bumi
menjadi trending topic yang
dibicarakan sisi positifnya oleh planet lain, suatu kali planet yang bernama pluto—bahkan
sampai sekarang keberadaannya lebih dulu lenyap daripada bumi—menawarkan sebuah
argumen yang sama sekali tidak menarik untuk disimak.
“Bumi akan terbelah
menjadi dua bagian yang luasnya lebih banyak perairannya daripada daratan.
Lama-kelamaan bumi akan terkikis oleh zaman dan jadilah ia sebagai budak dari
keserakahan,” Pluto melantangkan argumennya tanpa memberi celah bagi planet
lain untuk menyanggah. “Kau akan kehilangan daya keseimbanganmu, Bumi!” katanya
smbil tertawa dan setelah itu dia menghilang dari daftar nama planet.
Planet lain sama sekali
tidak menyalahkan pluto ataupun bumi. Mereka menganggap semua berjalan sesuai
kodratnya sendiri. Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk perkataan pluto
terhadap bumi. Mereka pun enggan mengusik ketenangan bumi dengan alasan
pertemanan katanya. Mereka tidak pernah mengancam ataupun merasa terancam
dengan hal lain yang mengganggu peta kehidupannya. Banyak asumsi yang beredar
ketika itu bahwa semesta akan menemukan keserasiannya terkait hal itu dan semua
benar adanya.
Suatu saat kita sebagai
manusia katanya, akan mengalami sesuatu sebagaimana yang pernah terjadi sebelum
bumi tercipta. Sebuah teori mengatakan, bumi tercipta karena ada rumus ‘ledakan
besar’ atau orang asing menyebutnya, big
bang theory. Ketika bumi sudah tua, daratan tidak dapat menampung miliaran
makhluk di dalamnya, maka terjadilah sistem seleksi. Manusia diperbolehkan
hidup untuk mencari kesempatan kedua setelah makhluk lainnya punah, habitatnya morat-marit, ekosistem tidak berjalan
normal, dan banyak pelanggaran-pelanggaran yang justru diciptakan sendiri oleh
manusia-manusia yang gila dengan kehidupan abstrak. Manusia-manusia tersebut
rela menghatamkan kesabarannya dan menggantikan keegoisan demi diperbudak
zaman.
Penyeleksian terhadap
manusia berlangsung lama, ditargetkan akan selesai dalam 3.600 detik
pendeteksian. Mula-mula daratan menyempit, manusia merasa sesak, dan makhluk
hidup lainnya pun secara bergantian meninggalkan nyawa mereka sampai
benar-benar habis. Manusia akan mengalami sesak napas selama periode tersebut. Semakin
menyusutnya luas daratan, sampai akhirnya tinggal setitik, lalu hilang seperti
debu beterbangan. Manusia telah digiring menuju perairan yang bernama lautan
dengan bantuan kebaikan yang mereka perbuat sebelumnya. Mereka berlayar menuju
sebuah kota yang terletak di tengah lautan.
Perjalanan cukup
melelahkan, tersebab bagi mereka sebagian besar mengalami goncangan karena
hantaman badai. Ada sebagian kecil manusia mengalami perjalanan yang santai. Perjalanan
yang sepatutnya tidak pernah ditunggu kehadiranya karena banyak mengandung rahasia
di dalamnya. Setelah semua pelayanan sampai di Kota Man, kota dengan nuansa biru
sepadan dengan warna langit ketika berbicara kebahagiaan. Mereka mencoba
mengenali tempat itu secara perlahan. Seketika goncangan dahsyat terjadi
membuyarkan kekepoan mereka yang dipaksakan berhenti.
“Hanya ada 71 manusia
yang berhak tetap tinggal di sini, menjadi penghuni terakhir.” Kalimat yang
ditulis dengan huruf pallawa memaksa mereka menunaikan kewajibannya.
Bagi mereka yang
kebaikannya diperjualbelikan di muka umum, jadilah tidak berarti ketika itu.
Mereka yang dulunya sama sekali tidak sempat menyembah Tuhan yang diakuinya,
tiba-tiba ada rasa ingin mengenalnya lebih dalam, tapi terlanjur dilumpuhkan
dengan keadaan. Mereka yang dulunya enggan bersimpati dengan sesama, ketika itu
akan mencari pertolongan, tapi tiada seorang pun yang melakukannya. Mereka
sendiri, bertahan atau terhempas dari Kota Man.
Harapan terbaca jelas
di langit-langit ingatan. Hidupkan aku
setelah ini. Tiada yang benar-benar tahu tentang nasibnya sendiri, terlebih
memilihkan sesiapa yang berhak tinggaldi Kota Man, hanya alam yang mampu
melakukannya. Pluto tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Ia serius
mengatakannya ketika itu. Daratan yang ada di bumi telah lenyap dan digantikan
dengan lautan yang penuh dengan linangan harapan ingin hidup di sana. Sejauh
apa pun pluto berada sekarang, ia seperti daratan bum yang lenyap. Kepergiannya
meninggalkan apa yang masih ada, tanpa perjanjian suatu waktu akan kebali
pulang.
Selang beberapa detik
setelahnya, yang tersisa hanya yang namanya telah terdaftar sebagai anggota
pelindung keabadian kebaikan bumi dan seisinya. Itulah balasan yang setimpal
dengan yang dilakukan manusia di masa silam. Bumi dan planet lain tidak perlu
penghuni yang merasa dirinya paling diprioritaskan untuk menjadi penghuni
sesungguhnya. Manusia yang terbebas dari jerat hukum alam dan menuntaskan
perjalanan selanjutnya. Sedangkan manusia yang terseleksi, kisahnya hilang
tanpa ada catatan kaki di benak ke-71 manusia penghuni Kota Man. Mereka adalah
kaum liberal yang taat kepada penguasa tanpa menaruh curiga. Bumi akan
baik-baik saja!
Shofiyah
Probolinggo, 2 Maret
2019
No comments:
Post a Comment