Friday, June 28, 2019

71 Penghuni Terakhir di Bumi


Kelak kita akan dikembalikan ke suatu tempat sebagaimana mestinya. Upaya yang dilakukan ahli pun tak cukup untuk meyelamatkan dirinya sendiri, terlebih orang lain. Pada akhirnya menjadi sia-sia belaka. Tiada titisan kehidupan yang disebut dengan ‘karma’ atau balasan seketika di dunia, ia akan dipersaksikan di singgasanaNya. Bukan itu, ini soal manusia-manusia yang berspekulasi dengan menamatkan kesangsiannya menjadi manusia seutuhnya. Tentang manusia yang terkadang menyalahi kodratnya sebagai pemegang tampuk kehidupan sekaligus penyederhana yang merencanakan keberlangsungan kehidupan meski hanyalah perihal waktu menunggu kembali.
Mereka telah lama berada di atas daratan yang kesemuanya adalah pemandangan. Menikmati, mengendalikan, menguasai, memimpin, menguras, memberi, serta menjalin hubungan keakraban dengan penduduk bumi lainnya. Pemandangan alam tersebut seperti gunung yang menjuntaikan pohon-pohon tinggi di samping menyerasikan dengan yang rendah. Sawah yang menghampar hijau ketika musim tanam, merekahkan senyum yang sempat disimpan ketika gagal bercerita bagi mereka, si penguasa sepetak tanah pertanian. Kehidupan yang gemericiknya membawa arus modernitas, bukan hanya pada remaja, akan tetapi terhadap kalangan banyak. Tetangga yang ditemui pada via jaringan online mengalahkan siapa yang berada di sisi tanpa kompromi soal tradisi. Kadang menggelikan, tetapi seru untuk diceritakan melalui tutur. Itulah daratan! Tempat menemukan kepekaan terhadap sesuatu yang menjadi cikal bakal beradaptasi.
Bumi tidaklah selamanya menyebut dirinya sebagai bumi seperti sebelumnya. Suatu hari, tepatnya ketika sebagian besar desa tidak menyebut dirinya sumber kehidupan, beras pun menjadi mangsa yang diburu pangsa pasar. Sementara, produsen enggan menitikberatkan penawarannya terhadap permintaan. Maka, peran kelangkaan adalah teman menikmati secangkir teh hangat di sela senja. Bumi sesekali akan sedikit meratap nasib yang tidak pernah dimintanya. Maukah kuceritakah sebuah perairan dengan kebiasaan kehidupan yang baru dikutip dari masa lalu sebelum percobaan bumi berakhir?
Sejak abad ke negatif dua puluh satu, tentu manusia bukanlah seperti yang sekarang kita jumpai. Mereka banyak menjadi ahli untuk menjalin kerjasama. Kemampuan untuk berspekulasi tentang kehidupan yang tidak akan berjalan sebelum adalah sanak tetangga, ialah benar adanya. Hidup bersebelah sisi kanan dan kiri dengan kebahagiaan, melupakan kecemasan, bahkan mereka tidak pernah mengenal sisi lain dari kebaikan manusia lainnya. Kehidupan seperti itulah membuat dunia terkontrol dari keterasingan dan kemelaratan. Kehidupan yang banyak memperoleh pengakuan penafsiran tentang ketenangan.
Karena posisi bumi menjadi trending topic yang dibicarakan sisi positifnya oleh planet lain, suatu kali planet yang bernama pluto—bahkan sampai sekarang keberadaannya lebih dulu lenyap daripada bumi—menawarkan sebuah argumen yang sama sekali tidak menarik untuk disimak.
“Bumi akan terbelah menjadi dua bagian yang luasnya lebih banyak perairannya daripada daratan. Lama-kelamaan bumi akan terkikis oleh zaman dan jadilah ia sebagai budak dari keserakahan,” Pluto melantangkan argumennya tanpa memberi celah bagi planet lain untuk menyanggah. “Kau akan kehilangan daya keseimbanganmu, Bumi!” katanya smbil tertawa dan setelah itu dia menghilang dari daftar nama planet.
Planet lain sama sekali tidak menyalahkan pluto ataupun bumi. Mereka menganggap semua berjalan sesuai kodratnya sendiri. Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk perkataan pluto terhadap bumi. Mereka pun enggan mengusik ketenangan bumi dengan alasan pertemanan katanya. Mereka tidak pernah mengancam ataupun merasa terancam dengan hal lain yang mengganggu peta kehidupannya. Banyak asumsi yang beredar ketika itu bahwa semesta akan menemukan keserasiannya terkait hal itu dan semua benar adanya.
Suatu saat kita sebagai manusia katanya, akan mengalami sesuatu sebagaimana yang pernah terjadi sebelum bumi tercipta. Sebuah teori mengatakan, bumi tercipta karena ada rumus ‘ledakan besar’ atau orang asing menyebutnya, big bang theory. Ketika bumi sudah tua, daratan tidak dapat menampung miliaran makhluk di dalamnya, maka terjadilah sistem seleksi. Manusia diperbolehkan hidup untuk mencari kesempatan kedua setelah makhluk lainnya punah, habitatnya morat-marit, ekosistem tidak berjalan normal, dan banyak pelanggaran-pelanggaran yang justru diciptakan sendiri oleh manusia-manusia yang gila dengan kehidupan abstrak. Manusia-manusia tersebut rela menghatamkan kesabarannya dan menggantikan keegoisan demi diperbudak zaman.
Penyeleksian terhadap manusia berlangsung lama, ditargetkan akan selesai dalam 3.600 detik pendeteksian. Mula-mula daratan menyempit, manusia merasa sesak, dan makhluk hidup lainnya pun secara bergantian meninggalkan nyawa mereka sampai benar-benar habis. Manusia akan mengalami sesak napas selama periode tersebut. Semakin menyusutnya luas daratan, sampai akhirnya tinggal setitik, lalu hilang seperti debu beterbangan. Manusia telah digiring menuju perairan yang bernama lautan dengan bantuan kebaikan yang mereka perbuat sebelumnya. Mereka berlayar menuju sebuah kota yang terletak di tengah lautan.
Perjalanan cukup melelahkan, tersebab bagi mereka sebagian besar mengalami goncangan karena hantaman badai. Ada sebagian kecil manusia mengalami perjalanan yang santai. Perjalanan yang sepatutnya tidak pernah ditunggu kehadiranya karena banyak mengandung rahasia di dalamnya. Setelah semua pelayanan sampai di Kota Man, kota dengan nuansa biru sepadan dengan warna langit ketika berbicara kebahagiaan. Mereka mencoba mengenali tempat itu secara perlahan. Seketika goncangan dahsyat terjadi membuyarkan kekepoan mereka yang dipaksakan berhenti.
“Hanya ada 71 manusia yang berhak tetap tinggal di sini, menjadi penghuni terakhir.” Kalimat yang ditulis dengan huruf pallawa memaksa mereka menunaikan kewajibannya.
Bagi mereka yang kebaikannya diperjualbelikan di muka umum, jadilah tidak berarti ketika itu. Mereka yang dulunya sama sekali tidak sempat menyembah Tuhan yang diakuinya, tiba-tiba ada rasa ingin mengenalnya lebih dalam, tapi terlanjur dilumpuhkan dengan keadaan. Mereka yang dulunya enggan bersimpati dengan sesama, ketika itu akan mencari pertolongan, tapi tiada seorang pun yang melakukannya. Mereka sendiri, bertahan atau terhempas dari Kota Man.
Harapan terbaca jelas di langit-langit ingatan. Hidupkan aku setelah ini. Tiada yang benar-benar tahu tentang nasibnya sendiri, terlebih memilihkan sesiapa yang berhak tinggaldi Kota Man, hanya alam yang mampu melakukannya. Pluto tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Ia serius mengatakannya ketika itu. Daratan yang ada di bumi telah lenyap dan digantikan dengan lautan yang penuh dengan linangan harapan ingin hidup di sana. Sejauh apa pun pluto berada sekarang, ia seperti daratan bum yang lenyap. Kepergiannya meninggalkan apa yang masih ada, tanpa perjanjian suatu waktu akan kebali pulang.
Selang beberapa detik setelahnya, yang tersisa hanya yang namanya telah terdaftar sebagai anggota pelindung keabadian kebaikan bumi dan seisinya. Itulah balasan yang setimpal dengan yang dilakukan manusia di masa silam. Bumi dan planet lain tidak perlu penghuni yang merasa dirinya paling diprioritaskan untuk menjadi penghuni sesungguhnya. Manusia yang terbebas dari jerat hukum alam dan menuntaskan perjalanan selanjutnya. Sedangkan manusia yang terseleksi, kisahnya hilang tanpa ada catatan kaki di benak ke-71 manusia penghuni Kota Man. Mereka adalah kaum liberal yang taat kepada penguasa tanpa menaruh curiga. Bumi akan baik-baik saja!

Shofiyah
Probolinggo, 2 Maret 2019

No comments:

Post a Comment