Friday, June 28, 2019

Bianglala dan Rindu Ibu


Bianglala dan Rindu Ibu
Shofiyah
 
“Lihat itu!” jari telunjukmu memaksa mataku mengikutinya.
“Bianglala,” kataku. “Apa bagusnya?”
“Aku seperti itu, bukan?”
“Maksud?”
“Apa sikapku seperti bianglala? Sekali menyebalkan, lalu mengagumkan?”
“Oh, apa iya?”
“Aku bisa membuatmu jatuh cinta, lalu membuatmu benci kepadaku.”
“Untuk apa?”
“Karena itu sifatku.”
“Kau selalu baik di hadapanku.”
“Kau keras kepala.”
“Daripada keras hati.”
“Aku sudah lama tidak memiliki hati.”
“Kau lupa. Kau telah mengecewakan teman curhatku.”
“Siapa? Memang kita pernah punya teman yang sama?”
“Iya.”
“Siapa?”
“Tuhanku!”
“Sok tahu, kau, anak kecil!”
“Sudahlah! Kau selalu menolak takdirnya, bukan?”
“Begitulah!”
“Lalu siapa yang keras kepala sekarang?”
-_-


“Aku sedang merindukanmu.”
“Jangan!”
“Bukan kamu. Seseorang yang masih menjadi miikmu.”
“Siapa?”
“Ibumu.”
“Untuk?”
“Mendengarkan omelannya kepadamu.”
“Kapan kamu pernah tahu aku diomelin Ibu?”
“Kemarin kau cerita sedang diomelin Ibu karena masih belum fokus skripsi. Kau sibuk mendaki. Berwisata, dll.”
“Ah, aku lagi suntuk saja.”
“Arah pikiranku sama dengan Ibumu. Aku kurang suka kau keluyuran gak jelas untuk saat ini. Nanti saja!”
“Tapi kau senang kan dapat hadiah foto-foto cantik dariku?”
“Iya.... Aku suka kamu.”
“Aku sudah tahu.”
“Lalu?”
“Semoga menemukan keseriusan.”

Probolinggo, 24 Juni 2019

No comments:

Post a Comment