Bianglala
dan Rindu Ibu
Shofiyah
“Lihat itu!” jari telunjukmu
memaksa mataku mengikutinya.
“Bianglala,” kataku. “Apa
bagusnya?”
“Aku seperti itu, bukan?”
“Maksud?”
“Apa sikapku seperti bianglala?
Sekali menyebalkan, lalu mengagumkan?”
“Oh, apa iya?”
“Aku bisa membuatmu jatuh cinta,
lalu membuatmu benci kepadaku.”
“Untuk apa?”
“Karena itu sifatku.”
“Kau selalu baik di hadapanku.”
“Kau keras kepala.”
“Daripada keras hati.”
“Aku sudah lama tidak memiliki
hati.”
“Kau lupa. Kau telah mengecewakan
teman curhatku.”
“Siapa? Memang kita pernah punya
teman yang sama?”
“Iya.”
“Siapa?”
“Tuhanku!”
“Sok tahu, kau, anak kecil!”
“Sudahlah! Kau selalu menolak
takdirnya, bukan?”
“Begitulah!”
“Lalu siapa yang keras kepala
sekarang?”
-_-
“Aku sedang merindukanmu.”
“Jangan!”
“Bukan kamu. Seseorang yang masih
menjadi miikmu.”
“Siapa?”
“Ibumu.”
“Untuk?”
“Mendengarkan omelannya
kepadamu.”
“Kapan kamu pernah tahu aku
diomelin Ibu?”
“Kemarin kau cerita sedang
diomelin Ibu karena masih belum fokus skripsi. Kau sibuk mendaki. Berwisata,
dll.”
“Ah, aku lagi suntuk saja.”
“Arah pikiranku sama dengan Ibumu.
Aku kurang suka kau keluyuran gak jelas untuk saat ini. Nanti saja!”
“Tapi kau senang kan dapat hadiah
foto-foto cantik dariku?”
“Iya.... Aku suka kamu.”
“Aku sudah tahu.”
“Lalu?”
“Semoga menemukan keseriusan.”
Probolinggo, 24 Juni 2019
No comments:
Post a Comment