Cinta Tanpa Kata Tanya: Siapa dan
Mengapa
Shofiyah
Barangkali kekeliruan sempat
diperdengarkan
narasi ditulis atas dasar sesuatu
terbaca, dan pada angka yang
ganjil
seseorang hendak mengingatmu di
kepalanya.
*
"Mencintaimu tanpa ada cinta
selebihnya darimu," katanya
mungkin kalimat paling naif yang
serta merta keluar dari bibir Ibu
sebelum senja usai,
sebelum malam purna,
sebelum esok yang (masih) tanggal
dalam perjalanan.
*
Dalam balut doa, seseorang
menyebutnya segala yang terkasih,
menyesap rindu dalam kedai hampa
pun terkadang rindu tak bisa
dieja
lawan kata;
Kau tegar, karena sempat terluka.
*
"Rindu tidak pernah berujung,
Ayah!"
*
Barangkali tangisan dikulum
tertawa,
juga peluh yang lebih deras dari
hujan
ia mengakar pada lensa pandangmu
Semua baik-baik saja.
*
Dewasa, bukan perkara kita di
ambang usia berapa(?)
arca prestasi yang bagaimana
sebagai persembahan
atau
penerimaan takdir usai memesan
bahagia.
*
Percayalah!
Cinta tak sekadar pemberian
juga penerimaan yang akan
dinikmati
Cinta adalah Ibu pada sajak malam
ketika semua sedang kantuk
ketika matanya tak henti bergurau
atas nama airmata
ketika keringatnya tak mau kita
dengar
ketika senyumnya tak henti dikata
indah
ketika semua hanya tentangnya.
*
Probolinggo,
15 Juni 2019
No comments:
Post a Comment