Friday, June 28, 2019

Cinta Tanpa Kata Tanya


Cinta Tanpa Kata Tanya: Siapa dan Mengapa
Shofiyah

Barangkali kekeliruan sempat diperdengarkan
narasi ditulis atas dasar sesuatu
terbaca, dan pada angka yang ganjil
seseorang hendak mengingatmu di kepalanya.

*

"Mencintaimu tanpa ada cinta selebihnya darimu," katanya
mungkin kalimat paling naif yang serta merta keluar dari bibir Ibu
sebelum senja usai,
sebelum malam purna,
sebelum esok yang (masih) tanggal dalam perjalanan.

*

Dalam balut doa, seseorang menyebutnya segala yang terkasih,
menyesap rindu dalam kedai hampa
pun terkadang rindu tak bisa dieja
lawan kata;
Kau tegar, karena sempat terluka.

*

"Rindu tidak pernah berujung, Ayah!"

*

Barangkali tangisan dikulum tertawa,
juga peluh yang lebih deras dari hujan
ia mengakar pada lensa pandangmu
Semua baik-baik saja.

*

Dewasa, bukan perkara kita di ambang usia berapa(?)
arca prestasi yang bagaimana sebagai persembahan
atau
penerimaan takdir usai memesan bahagia.

*

Percayalah!
Cinta tak sekadar pemberian
juga penerimaan yang akan dinikmati
Cinta adalah Ibu pada sajak malam
ketika semua sedang kantuk
ketika matanya tak henti bergurau atas nama airmata
ketika keringatnya tak mau kita dengar
ketika senyumnya tak henti dikata indah
ketika semua hanya tentangnya.

*

Probolinggo, 15 Juni 2019

No comments:

Post a Comment