Wednesday, July 10, 2019
Menunggu: Kau Kembali
"Sebaik-baiknya pergi adalah kembali ke tempatmu," katamu, tanpa ragu.
"Aku meyakininya sejak sebelum hari ini."
"Kau gigih, ya?"
Kecuali halal, rupiah acapkali meninggalkan peluh
di punggungmu
bagaimana sistem kerja otak menyelesaikan kerumitan;
Pernah kau abstain untuk mendebatku seraya
berucap 'mulai hening'.
Aku tidak mau kita abstrak. Bisakah menjadi kon?....
Aku belum menyudahi kalimatku dalam hati. Kau munculkan dirimu sebagai engkau yang aku, dan aku tak pernah selesai menjadi aku yang utuh tanpamu.
"Aku ingin nyata dalam dunia mayamu, tapi tidak maya dalam dunia nyatamu." Kamu.
"Aku butuh itu," kau menggeledah isi kepalamu.
--pesan Ibu--
Kecuali titah, boleh kupinjam Ibumu?
Lantas, katamu tak perlu. Biar dia menjadi milikku. Aku tersenyum getir, getar di dada masih terdengar mahsyur.
Kita bertemu di ruang yang serba bertanya, sepetak janji akan tertunai, yang tertunda menjadi mimpi, dan nyata adalah barang ajaib.
Seperti tatap yang belum terpaut ketika itu, ia lunas dengan ragam harap.
Kita bertemu dalam pertemuan singkat.
"Maaf, mencoba membuatmu khawatir."
Shofiyah
Enam bulan sebelum ijab janji, 2019
Labels:
Puisi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment