Sebelum berakhir, pernah surat pertama atas nama "Bukan Surat Berharga" telah sampai di altar keyakinanmu. Kali kedua adalah "Surat Berharga" katamu. Sekalinya kita mengasumsikan bahwa surat dan saham adalah harga yang harus dibayar tuntas, entah terhitung dengan LOT (ratusan lembar saham) atau barangkali segepok kerinduan yang harus tersusun menjadi hari ini.
Sepetak ruang yang bernama "kita" telah mendeklarasikan bahwa seumpama peluk telah berakhir, keributan menjadi hawa dingin di musim kemarau panjang ini, lelahmu tersusun atas restu di hari tua demi segenggam tabungan yang tersimpan dalam memori dan keyakinanku, kau adalah sepasang tanggung jawab yang hendak kelar.
Kepada Ibu yang namanya masih kuterka: tiada maksud sehingga aku mengubur rasa malu. Kepadamu kutitipkan salam menggebu dari anak kecil yang merengek meminta perhatianmu. Barangkali jika diasumsikan betapa rindunya Nabi kepada kita umatnya, tak ayal aku merasa sebagian dari perihal itu, Ibu. Aku tidak pernah menemuimu, kau pun terlanjur jauh untuk kujangkau dengan nama tetangga serumpun.
"Ke mana Ayah?" kataku terhadap jagoanmu, Bu.
"Ah, dia telah lebih dulu mencicipi aroma bunga di surga," Dinyana dia hanya bercanda, rupanya kalimatnya rampung dengan tegas.
"Lalu, Ibu?" Aku.
"Pergi!"
"Tak seharusnya kau mengizinkan beliau pergi."
"Tiada yang memintanya pergi, Orang-orang di rumah telah melarangnya, tapi itu pilihannya."
Sekeras apa pun suatu pilihan, pasti ada maksud terkandung di dalamnya. Sekeras apa pun menolak, pastilah akan datang suatu hari nanti untuk meluluhkannya. Ibu, ibarat mimpi, kau selalu kumintakan kepada kantuk agar ia segera membawaku menemuimu, mengenal rupamu, memeluk namamu, dan menangis di dekapanmu. 'Kenapa menangis?' barangkali kau akan bertanya demikian, bukan? Tersebab dengan menangislah aku membagi kehadiranku untuk kau eja tentang aku yang sebenarnya. Aku yang tak tahu harus berbuat apa selain menangis, kalaupun ada tertawa, pastilah itu hanya milikmu--dia--alasannya. Ya, dia! Yang kau sebut, nyawa kedua.
Ibu; yang punggung tangannya ingin kukecup dengan perasaan bukan iba.
Ketahuilah, aku tidak membual hanya persoalan rindu yang kutulis jujur kepadamu. Kau pun tahu, sejatinya rindu adalah senjata paling setia menemani perjalanan langkah gontai kita.
Ya, itu aku. Hari ini aku ragu. I need someone to hear my decision making, discuss, and give me solution.
Sajak di bulan Juli adalah keraguan dan argumen yang mendasar kekuatan. Kelemahanku ialah mencari apa-apa yang mengganjal dan tak kuterima pekerjaan yang tak wajar.
Bilakah kiranya ada waktu, sebelum jarak beringsut semakin menjauhi titik damai, sebelum orang kedua yang kau temui di negeri ini adalah kecewa, temuilah aku, Ibu! Aku tidak ingin mengatakan, kau harus mengejarku. Sekalinya, tidak! Aku hanya merindukanmu yang entah doa ke berapa ratus kali telah melambung di catatan Tuhan, tetapi aku hanyalah anak kecil yang tidak pernah tahu arah rumahmu berada.
Dari sejuk hati yang memandang, dari kejauhan jarak yang menghalangi, dari kalimat yang tak pernah kudengar, kecuali kubaca dari deretan pesan milik dia, kutahu kau sederhana mengungkap cinta.
Ibu, dialah yang kupanggil aku. Meski kami tak sama, terkadang panggilan kita senyampang menjadi ketakutan, kecuali pula airmata milik engkau menetes di senja yang kutunggu. Barangkali rindu tak perlu sesiapa untuk mendukungnya, terlebih harapan. Atau sesuatu yang terlanjur berpisah ingin bertemu. Perlahan di tempat ini, akan ada rute sampai kita memang diskusikan perihal ke mana langkah setelah ini.
Ibu, bolehkah aku menanti untuk tidur denganmu? Nyanyikan lagu kedamaian penuh cinta tanpa kueja sampai di mana harus kulepas kecewa yang tak pernah ingin menetap di hatiku.
Ibu, biarkan aku sendiri untuk menjadi bagian kedua untuknya setelah dirimu!
Shofiyah
Kraksaan, 3 Juli 2019
No comments:
Post a Comment