Wednesday, August 7, 2019

Menciptakan Cerita




Laiknya sejarah, ia punya ragam sisi untuk diabadikan sebagai kisah
ada perkataan yang dihimpun, untuk selanjutnya dibagikan kepada pembaca.

Sama halnya kau dan dirimu. Menuliskan nama untuk diabadikan setelahnya; untuk dibaca oleh mereka!

***

Sebagian hidup adalah jelajah
Lainnya bagian tanpa noktah
Lihatlah mereka penuh sumringah
Tiada raut kesal, perlu diterjemah
.
Tanaman dan hewan menjadi kawan
Ditanggung semesta untuk memberi kehidupan
Di jantung pengandian
Janganlah sekali menukar keadaan.

***

Kita bagi waktu menjadi sama rata; untuk bermain dan bersenang. Agar kelak tak ada lagi kata "belum pernah"; agar tak ada kalimat:

hari mudaku telah melupa masa, sekarang aku tak mau kehilangan masa yang menguburku dalam tanah.

Berterus teranglah!

***

Tidaklah ia dapat dilipat sebagai jarak. Tidaklah pula, waktu dikejar agar melambat perjalanannya. Jikalau "terlambat" lebih riuh dan (akan) terjadi. Maka, biasakanlah saja tanpa meninggalkan debar yang ragu dengan kata takut.

Berusahalah!

Seutas jala menghidupi keluarganya. Dari pagi yang ranum, sebelum arunika  banyak diketahui orang, dia petik waktunya untuk berkawan di perairan. Sempat ditanya, "Apakah besok masih seperti ini?" Batin tetaplah batin. Iya, dia tahu cara membuat duka menjadi lupa!


***

Puisi sunyi sebelum memejamkan mata.

Selamat malam wahai penari di negeri kegelapan,
Selamat menuai janji membesarkan terang dengan mengusir ketakutan,
Kepada Tuan, salam terucap sempurna,
Sebelum hamba melipat senyum yang abadi.

Tragis

***

Bukanlah tertidur di bahumu adalah cita paling luhur, akan tetapi sengaja rebah, lalu sekejap tertidur, tanpa memikirkanmu
: adalah cara paling romantis yang Tuhan gariskan.

Tersebab, selamanya waktu lelapku kesemuanya bermata, "kamu".

***

Biduk yang kau tulisi akhir kepergiannya,
angka di kalender sempat diberi warna,
tidaklah purba apa-apa yang tertinggal,
di sungai yang janggal dari mukim
: seorang mencari keberadaan dirinya!

Pada suatu biduk yang menuruni nama panjangnya.

***

Tanah kita masihlah serumpun,
Air sebagai tadah kehausan,
Di tempat biasa mencerna perkataan,
Barang sedetik pun, jangan engkau sungkan!
.
Kepada siapa yang mau menerima
Jejak pualam, wanginya seperti kamboja;
Melati singgah sebentar tak dihirau
Kita di dunia apa?

***

Di selat matamu, kutahu tak akan karam sesuatu apa pun di sana.

Barangkali, Tuhan menciptakan kedua daratan, lalu dipisahkannya oleh sebagian lautan; itu karenamu. Kau ingin selalu ada di antara aku dan hidupku. Bisa jadi!


***

Kubingkai memori kita, kutanyakan pada semesta, kudengar jawab begitu tegar.

Kurupa sandi menjadi ilusi, rekam jejak kini tinggal satu senti.

"Nanti kau akan dibesarkan oleh kehilangan," katanya.

Kau benar Ayah. Kehilangan telah merenggut seperdelapan hidupku.

***

Kuharap senja tak mendekatiku lebih jauh,
lebih utuh dari separuh nyawa,
lebih pandai untuk mengatur takaran angka,
lebih paham dari aritmetika.

Aku lebih suka logika dan mengikuti alur hati,
ulur kau tarik, lalu lepas,
kau tak pernah mau percaya.

Sudahlah!

***

Di jalur kuning, kita waspadai kesudahan. Setelahnya tak ada lagi bahasa tubuh untuk mengungkap.

Apa lagi yang bisa kita tangkap, selain tanggap menganggap bahwa kita berakhir? Mungkinkah?

Selamanya kita berteduh di bawah jarimu yang Aku.

***

Dan, jangan biarkan hujan terdampar di tempatmu yang gersang,
kecuali aba-aba memberimu kata "siap"
maka, untuk bertanya siapa setelah ini bersamamu,
kau akan menjawabnya dengan lantang sebagai "dia" untukmu.

Bukan untukku!

***

Rebahlah di dada malam,
Angin berkesiur membelai anak rambutmu,
Ada selimut yang kucuci dengan sabun keabadian,
Ia sengaja kukeringkan, agar menjagamu.

Kau tak perlu apa-apa lagi sekarang, Tuan?

Baiklah aku sendiri.

***

Kau memutuskan untuk pergi di bulan Juli.

Aku, beritahu perihal Januari, aku kembali.

Kau belajar dengan orang baru, dan aku sibuk mempersunting halaman lama untuk berkenalan lagi dengannya.

Antara kita, sama-sama asyik membaca, bukan?

Di halaman berbeda.

***

"Rindu itu lelucon!"

Aku tak pernah membenarkan pernyataanmu,
sampai saat ini:
di sela-sela linglungku, aku mulai berpikir,

Mengapa aku menangis ketika tak mendengar kabarmu seharian?

Ah, lebih jenaka yang mana kalau begini?

***

Sehabis hujan, aku memesan hujan lagi,

"Untuk apa?" aku tak menjawab tanyamu.

Sehabis hujan, aku tak memesan hujan lagi

"Aku pesan hujan untukmu, ya?"

Aku pergi dan mencari kemarau.

Tak ada!

Di samping pohon ceri, kau membawa segelas tetes hujan dari matamu.

***

Biarlah yang pergi mencari jalannya sendiri
Yang datang, jangan larang untuk dihaturkan kemari
Di meja bertaplak bunga matahari
Mereka sebut pertemuan dengan rajut mimpi

Kita putuskan untuk kita yang papa!

Seandainya aljabar di antara kita, maka jadilah engkau sebagai koefisien saja. Jangan engkau menduduki peringkat variabel, tersebab ia selalu berubah. Sebagai konstanta, aku akan menetap seperti dulu lagi.

Aljabar dan kita adalah perupa bentuk saja; mungkin!

***

Lima dari 300 detik memerhatikanmu, ada pengabaian sedetiknya.

"Aku yang mana?" katamu mencoba menipu.

Ah, sudahlah! Bagaimanapun telah terjadi. Aku hapal denganmu, terlebih dirimu sendiri, bukan? Lantas, untuk apa bertanya, kamu yang mana(?)

Curiga!

***

Ketika kubicara rahasia, maka selayaknya menjadi bungkam. Tanpa tahu sesuatu yang kusebut rahasia. Memang rahasia hanyalah rahasia.
Memohon dirahasiakan, percuma! "Rahasia telah diketahui bahwa itu rahasia yang tak boleh diketahui," dan kau tahu itu.

***

Sesungguhnya dalam nama kita--hanya aku dan Aku--bermula seperti sebuah benang, lengkap dengan jarumnya.

Keduanya menghasilkan simpul pada kedua kain

Simpul-simpul itu selanjutnya menjadi keeratan, setelahnya jangan dilepas!

***

Katanya, maut pernah mengintai di antara tebing-tebing rindu yang naif?
di dinding jantung,
di hati yang syahdu dengan luapan lara,
di seluruh kota yang mati,
Batu Ruby sebagai saksi.

Seharusnya kau percaya?

***

Aku tak mau jadi terlambat hadir

Di sini!

Sebagian caraku mengeja ialah "kamu"
tanpa kutahu kata berikutnya.
Mungkin sunyi, sepi, lari, atau?

setelahnya....

Tiada!

***

Sebagai pengganti Ibu.

Kita tuang sayur, kita potong lauknya, dan kita minum di gelas;
sama.

Pagi yang ritmis, tiada gerimis menyambut tangis,
matahari sibuk menerawang sesiapa berada di bawahnya.

Kau, aku, dan mereka bercerita laiknya pagi tak pernah pergi.

***

Jika tahun ini bukanlah tersisa hanya Juli,
masihlah lima bulan lagi belum tercatat;
tanggalnya,
harinya,
kepadanya,
tandanya,
dan jedanya.

Jika tahun ini tersisa sepetak untuk melabuhkan janji
maka, ke mana kujerat agar aku tak lari
dari sisimu?

Sepasang tanya

***

Selebihnya akulah sisa dari angka 7 yang terbagi menjadi 3 bagian, keenamnya adalah mereka.

"Di sini surga!"

Aku tak percaya lagi warna surga,
menujunya:
sebagai harapan yang patah setelah
tangkainya kau tumbangi

Sedemikian rupa

Kita salah!

Aku suka jadi sisa

***

Kalimat ini, misalnya

Kau tepat berkawan dengan dia yang sembunyi di balik kalimat
Apa-apa tentangmu tergambar jelas
seperti sapuan kuas di bibir senja
.
Kau tak 'kan seberuntung hari ini, misalnya

Ketika semua kalimat tertuju padamu, dan ya..., kaulah objeknya.

@PelangiPuisi
Di balik jendela kereta, ia menuntunmu menjauh.

Aku pasrah dengan ketiadaanmu (lagi)

***

Tanpamu, Ibu?!

Aku bukan lagi pergelaran di depan penonton
Tak mau Kisanak satu pun menjejal rayu
Meski ia terampil
Sedalam duka, isak tangis pernah melumuri hidupku.

Ibu, di pintu neraka, aku tak mau diadili!

***

Di lautan cintamu, aku tak ingin karam sebagai kepergian

Di istanamu, aku tak ingin menjadi selir; menatapmu di balik tirai jendela kamar

Di daratan kepedihan, aku tak ingin kemarau panjang menyirnakan rinai sebagai kasihmu

Aku, kau, selalu menjagaku

***

Kita bersatu di rumah Ibu
Halamannya penuh dengan bunga rindu
Ketika pintu terbuka, ia menyuguhkan aroma silam
Jangan tanya perihal jendelanya!

Di sana, kita melihat kita yang tak lagi ada.

***

Kita
sepasang janji
saling besuk
menunaikan sakit

Lalu belajar untuk menyembuhkannya

Masing-masing!

***

Sepintar-pintarnya aku, adalah bodoh!

Aku bodoh memercayaimu sebagai seorang yang pintar
Bodohnya lagi, aku tak bisa lebih pintar darimu
Pintar saja tak mampu membuatmu lebih bodoh daripadaku
Bodoh sekali aku pura-pura tak meyakini kunci kebodohanku.

***

Bukan Tuhan tak peduli dengan tatapmu di jendela kayu tua itu!

Selebihnya, ransel yang dipunggungi Ayahmu menjauh darimu,
semenjak itu mulutmu terkunci,
hatimu teriris,
tubuhmu bergeming,
dan
di ujung tirai basah, kau usapi air matamu seorang diri.

***

Barangkali, kita lupa dengan kata "maaf"

Barangkali, kita lupa menulis "terima kasih"

Barangkali, kita tak bisa meminta "tolong" pada hati yang telah kau kunci.

Barangkali..., ya barangkali kita tak ingin melupa segala! Tapi amnesia datang kemarin.

***

Jendela yang kau sebut-sebut sebagai tempat menyimpan surga,
serupa senja yang datang membawa kabar kedukaan,
surat tak pernah lekas berbalas,
di suatu pagi, kau bertanya lagi:

"Masihkah dunia 'kan kumiliki seutuhnya?"

Dunia!

***

Di Kota Nun, seseorang melupakan jarak antara rumah dan tempat peristirahatannya,
tiada seorang pun tahu bahwa nyawa meletup di ujung seoknya berjalan.

Sebagian menyebutnya gila!

Ia punya rahasia; pernah pulang, tapi pintu rumahnya tak pernah terbuka.
@PelangiPuisi #jumatpuisi
Pernah; bayangmu melintas,
lantas kubasuh mata dengan air,
ia murni dari segala yang terlarut,
turut menghadiahkan kecemasan sebagai
: doa!

Pernah pula; tiada bayangmu sebagai denting,
bahwa melupakanmu bukanlah suatu cita.

Air itu kembali lagi hadir,

Menangis.

***

Nyatanya, sebagian dari mereka, bukanlah menu.

Aku menjadi kamu yang lupa dengan kata siapa
Nama kutanggalkan, namamu ditinggalkan sebagai aku.

"Aku suka aromanya saja," kataku sewaktu dulu.

Kali ini, ingin kukatakan, "Aku menyukai kopi!"

Kau terlanjur tiada.

***

Segala sesuatu perlu dirayakan!
Termasuk pertemuan kita.

"Tahukah cara merayakan pertemuan?" kataku di suatu pagi yang beku dengan sikapmu.

Kau, "Dengan kehilangan!"

Baiklah, sejak saat itu. Kupahat kalimatmu dalam-dalam.

***

Sajak tunggal:
Aku!

Sajak sepasang:
Kamu

Kita? Bukan sajak, melainkan objek darinya.

***

Ingin kubicarakan cinta, tapi aku tak pandai mendefinisikannya.

Ingin kubicara kamu, ah kamu milik siapa?

Ingin kubicara aku,
baiknya aku lupa, siapa aku dan di mana aku berada? di kepalamu, masa mudamu, atau kita teman di usia senja?

Barangkali kita setakdir

***

Malam!

Sudah saatnya, kita kembali menjadi arwah
Tak diharap datang bertandang
Sekalinya menghilang, lenyapkan segala pongah!

Mereka terdidik menjadi penakut.

***

Di jantung puisi
Satu per satu denyutmu menciptakan ritme; bunyi diksi

Bagaimana aku lupa, cara merangkai kalimat menjadi bait(?)
Jika kesemuanya adalah kamu yang menjelma menjadi puisi.

***

Jangan pernah tinggalkan aku sendiri, di sini!

Sebagai kamu, aku tak pernah selesai membaca gelisahmu, menerjemahkannya ke dalam bahasa mudahku.

Sebagai aku, kamu hendak melupa selagi tak ada yang mengejamu.

Kita bertemu di lain cerita, ya?

***

Kedatanganmu memberiku pelajaran, kepergianmu mengajarkan banyak hal, bahwa:
mencintaimu tak perlu berpikir keras agar memperoleh pengembalian yang sama.

Bukankah kita tak sama, bukan?

Aku mencintaimu, tapi kau belum!

***


Kau sebagai lentera,
tak mengobarkan api kemarahan,
tapi menerangkan.

Kau sebagai air yang dingin,
enggan diteguk, tapi kau adalah satu-satunya pilihan ketika haus.

Kau sebagai udara,
terkadang kau bawa debu,
tapi tak pernah sesak kuhirup

Kau selalu menghidupiku

***

"Aku pulang 21.30 WIB," pesanku terbaca sempurna di ponselmu.

"Ngapain sampai segitunya? Jangan gila kerja!"

"Tidak! Aku sedang belajar menjadi Ibu. Jika tak berkesempatan menjadi Ibu kandung bagi anakmu, maka aku akan menjadi Ibunya di sekolah."

Senyap.

***

Ketika dulu kusampaikan hendak pulang larut. Kau bilang, "Aku menunggumu, segelas kopi kuhabiskan. Jelas aku tidak akan ngantuk."

Padahal kutahu, kau pulang ketika senja, malam menjadi nokturnal

Hendak kubilang lagi. Ah, tapi suasana menyapa, "Rindu adalah Luka!"

Shofiyah
Probolinggo, Juli 2019

No comments:

Post a Comment