Desir
laju meliuk ucap
Nyanyian
gemuruh bak debu beterbangan
Kata,
kalimat, lirih, mereka haturkan
Seuntai
dan sejenis klausa
Kian
terpatri pada jerat benang
Helat,
Kusingkir
masam, muram sebab rekayasa
Luluh
pada fatamorgama ingin semata
Semampai
pinta mau aku tolak
Perimbun
serdadu memekik telinga
Biar,
Biarlah
embun tetap pada jernihnya
Setitik
jujur bisa merdeka
Laksana
desir angin melambai
Membawa
sadis genangan jiwa
Bukan
ku tak kasihan
Kapan
lagi,
Air
mengalir pada jernihnya
Padam
mulai menekat pelampiasan
Karena
satu alasan
Seribu
cara pun jadi
Tega,
Tidak
tega
Korban,
Mengorbankan
Satu,
pilih dan pilihan
Lilin
akan menerawang gelap malam
Setiap
bait kebaikan
Pun
(jua) ku temukan
Shofiyah
Jember,
30/5/2017
Puisimu nikmat dan kaya metafora. Sampai aku terpesona dan malah lupa apa makna dibaliknya.
ReplyDeleteAku share, tapi nggak izin. Ini baru aku ijin.
Kata yang benar itu ijin atau izin?
wkwk, tersanjung jadinya. Syukurlah jika suka. Terima kasih.
ReplyDeleteizin yang baku, Kak