Friday, March 6, 2020
Abstrak
Di cekat itu, aku kembali mengingat nama-nama yang dahulu pernah pergi dari tempat tinggalnya dan menuju kediamanku yang rapuh. Sesekali kami mengabadikan pertemuan dengan penjamuan yang miris juga ritmis akan tetangis yang dipuja gadis-gadis belia. Aku mengira, dunia hanya jadi ujian, aku menanti iba yang jatuh dari deret tangan proletar bersahaja. Dia memelukku dari jauh, serta merta kudorong dirinya ke lembah yang kusebut derai ingin yang harap. Aku penuh suka cita memangku rindu yang terkesiur di tangan yang adil. Kemudian, aku mengibaratkan: Apakah sama sepasang rasa dapat diutarakan dengan canda dan hasil senyummu?
2020
Gerilya
Shofiyah
Tanah
ini meracau untuk dicampur
Darah;
barangkali
Derai
ini mampu menggelegar
Pada
dasar yang menjamah sunyi
Ada
diam sekenanya
Turut
dipangku kelam
Menangkap
retina yang malang
Lantas
padam dengan gertakan-gertakan
Dahulu
sepi
Menyulam
rindumu yang teratur
Kini,
telah terlaksana
Ijabah-ijabah
yang mengantar doa
Pun
selamat dengan kiasan yang turut meminta
Apa
yang kabur dari jeruji rasamu?
Apa
yang tinggal di samping jantungmu
Selain
membatin, Tuhan pun tahu
Sebaik-baiknya
pergi adalah mengancam
:
'tuk kembali
Probolinggo, 27 Februari 2020
Isyarat
Shofiyah
Mari
menuju muara yang sakti, Tuan!
Seperti
retorika, sengaja dihapus air
Mata
meninggalkan empunya
Sedari
derai tak kunjung menutup kering
Seperti
benalu, hilang dengan tandusnya
Muara
tinggallah sepi dan menggapai
Anai-anai
naik dengan kepak yang telantar
Telan
dan hanyutlah di dasar yang tumbang
Sebagai
welas, lalu asih menjilati saban terluka
Kukira,
Tuhan sedang tak bercanda
Berupaya
menjalani yang jadi beban
Serta
almanak melingkarkan diri sebagai engkau yang Aku--apa adanya
Katamu,
"Kau boleh pergi, agar aku tak jadi meninggalkanmu!"
Kupersilakan
sila-sila yang kupungut dari ribuan bersilanya pertapa
Sialan!
Aku menguap di tempat menunggu, dan
Menanti
hanyalah buai tak segera reda
Dari
pundak serta merta
Sebagai
akibat, bolehkah kau perkenankan aku tidur di sebelah siagamu, Re?
Probolinggo, 29 Februari 2020
Keajaiban Mati
Shofiyah
Biarkan
ia mengisi waktunya 'tuk sendiri
Kemudian
diambilnya sekelebat nyawa dengan temaram
Yang
mulai beracun
Maka,
seperti candu
Pinang
dengan tabik dikelupaskan
Seperti
angka yang setelahnya melambung terkaan-terkaan
Di
batang tubuh yang angkuh
Ia
padamkan gejolak agar tak salah menafsir rindu
Dan
juga meramu gelisah
Ada
yang diam membujur hanya demi lekuk
Dan
tengkuk leher diri
Menyapihnya
dari beragam soal
Dan
hanya melekatkan keramaian yang abadi--ruam secara jelas mengikuti
gejolak--yang terkasih
Sekali-kalinya
pulang, adalah kepada bahumu, Kasih!
Hampir
mengepak sempurna segala ingin dan angan di atas awan logika
Hanya
saja ..., hanya soal penakut
Ketika
Izrail melayangkan lamaran akan hidupnya
Yang
turut dan patut tanpa menuntut segera
Didaulat
akhir yang merengut
Salam
dari keabadian; selesai.
Probolinggo, 27 Februari 2020
Mihrab yang Terkasih
Shofiyah
Dalam
hening, aku membaca
Pada
sujud, aku meminta
Entah
doa yang keberapa
Segala
rapal jadi leluasa
Hingar
dunia tak lagi menatap iba
Desir
kalimat terlantun lupa
Demi
harta dan juga nyawa, katanya
Sedangku,
masih bertahan 'tuk istikamah
Di sini, Januari 2020
Melansir Arti
Shofiyah
Waktuku,
waktumu, adalah kiasan
Yang
habis dijamah kesan-kesan
Dahulu
penghidupan hanya dihadapkan
Pada
masa silam; terlupakan
Mengeja
detak yang beriring
Di
bawah beringin tak cukup dingin
Angin
meraba hal yang mustahil
Maka,
seperti hati bicara; napas tersengal; dan jalan berupa setapak--tanpa rasa
mengaspal
Waktu
adalah kredit
Hendak
ditunaikan dengan temu
Mengertilah
meski sulit
Semacam
pelik yang lumat
Sebagai
beban melupakan
mu
Katanya,
hidup beralasan engkau
Mendengarnya
meski telinga akan sombong
Melupanya
meski segala tanduk ingin tunduk
:
dari hardikan dan pengusiran
hatimu,
Re!
Probolinggo, 28 Februari 2020
Subscribe to:
Comments (Atom)
