Friday, March 6, 2020

Abstrak



Di cekat itu, aku kembali mengingat nama-nama yang dahulu pernah pergi dari tempat tinggalnya dan menuju kediamanku yang rapuh. Sesekali kami mengabadikan pertemuan dengan penjamuan yang miris juga ritmis akan tetangis yang dipuja gadis-gadis belia. Aku mengira, dunia hanya jadi ujian, aku menanti iba yang jatuh dari deret tangan proletar bersahaja. Dia memelukku dari jauh, serta merta kudorong dirinya ke lembah yang kusebut derai ingin yang harap. Aku penuh suka cita memangku rindu yang terkesiur di tangan yang adil. Kemudian, aku mengibaratkan: Apakah sama sepasang rasa dapat diutarakan dengan canda dan hasil senyummu?

2020

No comments:

Post a Comment