Saturday, May 9, 2020
Apasih Maunya Allah?
Seringkali harapan tak sejalan dengan kenyataan. Ada keinginan, tapi tak terlalu dibutuhkan. Seringkali pula menganggap bahwa Allah tak menjawab doa-doa yang dipanjatkan. Eits, tunggu dulu! Bukankah sesuatu yang kamu anggap baik, malah buruk untukmu, sedangkan yang dianggap buruk, malah baik untukmu?
Akhir-akhir kuliah, aku suka mendengarkan ceramah Ustaz Hanan. Entah penyampaiannya yang ringan, tidak pernah menjudge, atau narasinya yang sering puitis. Eh 😃 Ketika itu--saat galau-galaunya skripsi--satu kalimat nasihat yang masih kuingat sampai saat ini. Beliau berkata, "Nggak apa-apa, judul ini ditolak, cari lagi. Siapa tahu judul yang baru itu lebih aplikatif dan dibutuhkan untukmu di masa setelahnya."
Aku yang mendengarkan kadang mengabaikan, kadang pula menjadi introspeksi diri. Begitulah, wajar masih disebut manusia. Pikirannya mau yang logis saja, padahal miracle itu ada lho. Akhirnya, dengan segala tantangan, skripsiku jadi dengan judul: "Pengaruh PDRB dan IPM terhadap Angka Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016." Hasilnya adalah: IPM dominan berpengaruh terhadap angka kemiskinan daripada PDRB. Pengaruh IPM terhadap angka kemiskinan yakni -1,868236 yang artinya apabila terjadi 1 satuan kenaikan IPM di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016, maka angka kemiskinan akan menurun sebesar 1,868236 persen. Sementara, PDRB hanya berpengaruh sebesar -0,251899 terhadap angka kemiskinan.
Qodarullah, hari ini kami mengadakan rapat mengenai kelulusan PPDB. Ada dua jalur, yakni: beasiswa prestasi dan mandiri prestasi. Pembicaraan itu disambut oleh Bapak. Beliau mengatakan yang intinya, "Upaya pendidikan dan program beasiswa yang diberikan semata-mata untuk meningkatkan IPM di Kab. Probolinggo karena saat ini peringkatnya pada 35 dari 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur." Seingatku dulu pada penelitianku malah Kab. Probolinggo berada di peringkat 36 🤧.
Jleb. Ingatanku merangkak pada dua tahun silam. Iya, benar. Skripsiku membahas IPM (Indeks Pembangunan Manusia) atau HDI (Human Development Index). Ada tiga hal yang mendasari suatu IPM bisa tinggi atau rendah pada suatu daerah, yakni: kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran per kapita. Kesehatan dan pengeluaran per kapita Kab. Probolinggo sudah cukup tinggi, akan tetapi nilai indeks pendidikannya masih rendah. Indeks pendidikan diukur dari rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah. Hal yang fundamental adalah pendidikan di Kab. Probolinggo masih rendah dan belum menyeluruhnya pendidikan ke semua lini masyarakat.
Akhirnya saya paham, mengapa harus ada sekolah Hati yang notabene input peserta didiknya adalah perwakilan dari masing-masing kecamatan dengan syarat ekonomi keluarga menengah ke bawah dan nilai akademik dan juga non akademik dapat dipertanggungjawabkan. Tidak lain hanya untuk memeratakan pendidikan dan membantu keluarga yang kurang mampu bagi masyarakat.
Besar syukur karena ini merupakan salah satu terobosan untuk membantu yang dibutuhkan. Melalui Bapak Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si., dan Ibu Bupati Kab. Probolinggo, Hj. Puput Tantriana Sari, S.E., selaku pemilik HIBS (Hati Islamic Boarding School), Allah memberikan rezeki masyarakat Kab. Probolinggo melalui beliau.
Senyum untuk kisah ini. Memang benar, sabar tiada batas. Jika sabar berbatas, maka itu bukan sabar. Bersabarlah atas sesuatu yang tak kau sukai. Kelak, kau akan mengerti dan mengganti kalimat, Apasih Maunya Allah? menjadi Oh, ternyata ini maksud Allah. Setidaknya, dulu aku pernah tahu tentang ini dan pada akhirnya sekaranglah praktiknya. Teori yang dienyam 2 tahun lalu dengan penelitian data, tapi sekarang bukti fisiknya wkwk.
Labels:
Catatan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment