Shofiyah
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Yang kutahu hanyalah perasaan tiada arti
sering menitipkan diri
pada tali temali, yang mengeratkanku
'tuk selalu diam; tak pernah ada niat berjanji
Aku mengenal sendiri
tanpa ada yang mengajak basa-basi
sana-sini sibuk bernarasi
panjang, kugapai hal yang sangsi
: sebelum mengenalmu
Aku Tak Pernah Tahu Sepi
mengasingkan diri adalah caraku menatap dunia
dengan malu-malu, sehingga
Aku tak pernah menahu soal rindu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Ah, sialnya aku tak lagi sendiri
ditemani seribu kata yang menderap di telinga sunyi
Kucoba mengerti
barangkali sepi tercipta karena aku tak mau membaca lain hati
Aku meraba-raba, kini tiada lagi
sebait puisi yang katanya haus akan kepemilikan
kurela ia dinisankan atas nama kenang yang tertinggal
pada garis yang kau singsingkan di lengan waktu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Bagiku, arwah adalah karib dekat,
sedang bayangmu ialah dusta
yang masih bertengger di area mimpi
bermukim untuk mengutuk malam,
dengan mata julingku yang lajang sengaja kugilas agar terbiasa tanpamu,
lagi ....
Setelah mengenalmu, aku tahu sepi
aku cemburu dengan jiwa-jiwa yang melayat
melantunkan diksi-diksi
atas namamu
Sekarang, aku tak mau tahu soal sepi
Semenjak kau kurung aku dalam tangis kehilangan,
nyawa di dadamu berhenti berdenyut
dan sama lagi--dulu dan kini--aku tak pernah tahu sepi
Tersebab, hari-hariku adalah pembalasan;
untuk mengingatmu
Jadi, sepi dan kamu
apa bedanya?
Probolinggo, 14 Mei 2020
No comments:
Post a Comment