La_Tauhid
Kita menghadapi kenyataan bersama, bahwa dunia tidak lagi nyaman bagi para penghuninya. Kenyamanan itu bukan hanya disebabkan karena di dalam dunia semakin sengit persaingannya, tetapi juga semakin hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling berlawanan. Ditambah lagi komentar yang hanya memahami persoalan dari sudut pandangnya semata.
Situasi itu sudah menjadi paripurna dalam segala bidang kehidupan dengan kompleksitas problema di dalamnya. Bagaimana kehidupan kita, yang disesaki dengan tontonan dan pertikaian telah merambah bukan hanya pada masalah agama, politik, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan bersamanya, tetapi juga masalah pangan dan kesehatan. Dua hal kunci yang menentukan masa depan manusia.
Dua masalah terkini, pangan dan kesehatan telah menjadi isu aktual dalam kehidupan. Korelasi antara kebutuhan pangan bagi manusia telah memberi konsekuensi bagi kesehatan yang lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya. Diversifikasi dan intensifikasi produksi pangan telah melampaui batas kewajaran pertumbuhan dan percepatan produksi pangan, ditambah lagi dengan "kreatifitas" manusia menciptakan pangan dalam kategori makanan cepat saji. Maka, konsekuensinya semakin nyata bagi kualitas kesehatan manusia.
Perkembangan situasi itu sebagian besarnya didorong oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan akan pangan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu yang dihadapi manusia. Ini yang dikhawatirkan oleh Robert Malthus pada hampir dua abad yang lampau. Malthus meramalkan bahwa, dalam perkembangan kehidupan manusia dalam kategori angka dan jumlahnya dibutuhkan ketersediaan pangan yang semakin besar. Ia menyimpulkan bahwa, "Kebutuhan pangan akan semakin lebih tinggi tuntutannya dibandingkan dengan kemampuan manusia memenuhinya. Perkembangan jumlah manusia berbanding terbalik dengan perkembangan jumlah kebutuhan pangan. Perkembangan jumlah manusia (angka kelahiran) diukur dengan deret ukur, sedangkan perkembangan kebutuhan pangan diukur dengan deret hitung." Situasi yang abnormal bagi kehidupan manusia. Pangan akan mengalami kelangkaan, demikian kata Malthus dan mendorong persaingan kehidupan semakin tajam.
Meskipun demikian, ramalan dan kegelisahan Malthus mendapatkan sanggahan yang kuat dari pengkritiknya. Para pengkritik itu mengatakan, "Malthus gagal memperhitungkan variabel perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa mendorong produksi pangan berkali lipat jumlahnya dan berlimpah ketersediaannya. Dengan temuan di bidang ini melalui riset dan pengembangan varietas unggul pada bibit tanaman dan hewan, problema kebutuhan akan kecukupan pangan diyakini dapat diatasi oleh manusia di masa depan. Di samping itu juga temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menekan angka kelahiran manusia secara rasional."
Tetapi Malthus membantah para pengkritiknya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa, Problema utamanya adalah pada persoalan hasrat manusia akan seks yang menjadi kebutuhannya dan bersifat sunnatullah. Konsekuensi dari relasi dan aktivitas seksual manusia adalah melahirkan keturunan." Situasi ini tidak bisa dibendung dan terbukti dalam perjalanan sejarah manusia di muka bumi, jumlah manusia yang menghuni bumi tidak bisa dihentikan dan semakin berkembang dengan angka rekor yang semakin tinggi (jumlah manusia dewasa ini mencapai tujuh Miliar lebih).
Kelangkaan pangan akan selalu hadir dan menghantui kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi pangan bukan tidak memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan ini, tetapi masalah pangan selalu hadir berhimpit dengan manusia dalam hidupnya. Bahkan masalah pangan telah melahirkan masalah lain yang bersifat reproduktif, yaitu masalah kesehatan. Manusia di era super modern rentan dengan masalah kesehatan disebabkan kebutuhan pangan sebagai suplayer utama untuk mempertahankan fisik dan produktivitas manusia, semakin indentik dengan proses yang bersifat kimiawi dan instan dalam kultur dan pola konsumsi junk food dan fast food.
Pola konsumsi dalam kultur masyarakat super modern semacam itu sesungguhnya membayakan eksistensi manusia. Kesehatan manusia secara massal akan mengalami gangguan yang semakin intens yang pada gilirannya akan mengganggu produktivitasnya dalam kehidupan. Perkembangan kemajuan ilmu kesehatan berhadapan dengan kondisi anomali dalam penyediaan dan ketersediaan pangan bagi manusia. Manusia telah memiliki kesempatan usia hidup yang semakin baik dan panjang disebakan oleh kemajuan ilmu kesehatan, tetapi juga memiliki ancaman usia pendek akibat pola makan dan pola konsumsi makanan dalam kehidupannya. Untuk sekadar menyebutkan jenis penyakit yang mengancam manusia dari waktu ke waktu dengan semakin bervariatif, misalnya: cancer, stroke, gagal ginjal, dsb. Terbaru adalah virus Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.
Itulah anomali dimaksud. Angka kematian dan kelahiran tinggi, tetapi laju pertumbuhan penduduk terus bergulir. Sementara, ancaman akan kehidupan melalui kesehatan yang semakin rentan dan mahal serta bersifat pandemi terus berlangsung dalam kehidupan bersama. Kesehatan manusia pada akhirnya menjadi lebih utama dan lebih bernilai. Era post truth dalam kesehatan manusia telah hadir menjadi babak baru yang mendorong manusia perlu mengubah cara pandang terhadap kehidupan bersama.
Merebaknya Covid-19 telah membangkitkan ketakutan masyarakat dunia. Ekonomi mengalami guncangan, pariwisata mengalami penurunan sangat tajam. Bahkan kehidupan beragama juga mengalami shut down, umroh dibatalkan, Mekah ditutup, sebagian masjid tidak menyelenggarakan shalat Jumat. Aktivitas dan produktivitas kehidupan mengalami penurunan tajam. Semua disebabkan "makhluk" yang bernama Corona.
Kebanyakan masyarakat meresponnya dengan ketakutan tanpa reserve. Informasi menyangkut Corona disebar secara massal melalui media sosial kita persis mirip perilaku dalam penyebaran informasi ketika hiruk pikuk politik berlangsung. Isu Corona juga mendorong masyarakat menyebarkan segala berita dan informasi yang cenderung intimidatif buat mereka sendiri.
Ketika banyak negara melakukan lockdown dan masyarakatnya mematuhi, kita masih sibuk membantah dan beragumen atas nama apapun yang bisa diutarakan dan bahkan tetap melakukan aktivitas yang normal. Ada yang beragumen atas nama agama, atas nama kesiapan pemerintah, atas nama kesiapan masyarakat, dan sebagainya. Inilah kesehatan di era post truth. Informasi Covid 19 dengan jumlah korban yang terus meningkat berbaur dengan hoax dan kebohongan. Bahkan juga berkelindan dengan berbagai flyer dan meme candaan dalam ruang publik media sosial kita.
Kesehatan telah menjadi bagian dari kepedulian manusia dengan lingkungannya, tetapi juga telah menjadi "komoditas informasi" yang berseliweran dalam lalu litas media sosial kita. Kita perlu memahami, mendalami, dan menyebarkan berbagai informasi dengan bijak dalam arus besar langgam budaya mencerap informasi yang masih kedodoran di sana sini.
Kemampuan kita memperoleh dan menerima informasi berbanding terbalik dengan kemampuan kita mengunyah dan memahami informasi. Lalu informasi sering menjadi lawan kita ketimbang menjadi sahabat kita. Anomali kehidupan di era informasi. Inilah era post truth.
Jawa Barat, 2020
No comments:
Post a Comment