Shofiyah
Mari
menuju muara yang sakti, Tuan!
Seperti
retorika, sengaja dihapus air
Mata
meninggalkan empunya
Sedari
derai tak kunjung menutup kering
Seperti
benalu, hilang dengan tandusnya
Muara
tinggallah sepi dan menggapai
Anai-anai
naik dengan kepak yang telantar
Telan
dan hanyutlah di dasar yang tumbang
Sebagai
welas, lalu asih menjilati saban terluka
Kukira,
Tuhan sedang tak bercanda
Berupaya
menjalani yang jadi beban
Serta
almanak melingkarkan diri sebagai engkau yang Aku--apa adanya
Katamu,
"Kau boleh pergi, agar aku tak jadi meninggalkanmu!"
Kupersilakan
sila-sila yang kupungut dari ribuan bersilanya pertapa
Sialan!
Aku menguap di tempat menunggu, dan
Menanti
hanyalah buai tak segera reda
Dari
pundak serta merta
Sebagai
akibat, bolehkah kau perkenankan aku tidur di sebelah siagamu, Re?
Probolinggo, 29 Februari 2020
No comments:
Post a Comment