Wednesday, May 20, 2020
Yang Katanya, Bebas!
La_Tauhid
Merdeka
Di sudut kehidupan
Ketika yang lain merintih
Bebas
Berlarian dalam rimba kehidupan
Ketika tangan dan kaki dibelenggu
Lepas
Menista lawan demi kesenangan
Ketika lalu lalang keserakahan tertawa
Ia merintih
Dengan tangan dan kaki yang luka
Menyeringai menampakkan taring ketamakan
Memenuhi rongga sesak kehidupan
Ia merintih
Dalam kelu yang menumpuk kerinduan
Mengais cerita perjuangan pahlawannya
Di tengah deru dan debu pembangunan
Melapuk bersama angan
Kini
Tarian harapan dan kekecewaan saling menatap
Dalam hujan yang dingin menelan ludah
Dengan keringat meluapkan rasa
Masih saja tarian itu bergerak
Menandakan ada ritual kehidupan yang nampak
Jalinan kebangsaan kita, memang masih terus menyeruak, di tengah harapan dan luka yang masih sembab
Jawa Barat, 2020
NEGERI ORANG-ORANG SOK TAHU
La_Tauhid
Mereka gaduh
Berdebat tentang pengetahuan
Sedikit diketahui
Lebih banyak bicara
Sangat banyak
Mereka membagi berita dan pengetahuan
Mereka sendiri tak mengerti
Sekadar ingin mengada dalam waktu
Mengada yang tidak dipahami
Yang tidak dibeli
Mereka menjadi tampak lucu
Dengan ramalan-ramalan spontan
Bak futurolog kenamaan
Yang menang pasti dia
Yang itu pindah saja
Dia itu tidak bisa apa-apa
Yang itu bisa segalanya
Negeri orang-orang sok tahu
Ramalan bak pemanis bibir saja
Kadang mencibir tanpa diketahui
Ramalan buah syahwat kekuasaan
Menina dan membobokkan
Maka ditempuh berulang-ulang
Trial and error, gagal coba lagi
Negeri orang-orang sok tahu
Menari atas penderitaan isu
Melafalkan fitnah, kebohongan, dan cercaan
Menarik selimut kedamaian
Demi seonggok ambisi dan kepentingan
Juru keadilan memutuskan
Agar kecamuk selesai
Dalam babak keriuhan
Yang tidak dipahami banyak orang
Agar dihayati dalam diam
Sebentuk pedoman bagi kehidupan
Jawa Barat, 2020
KESEHATAN DI ERA POST TRUTH
La_Tauhid
Kita menghadapi kenyataan bersama, bahwa dunia tidak lagi nyaman bagi para penghuninya. Kenyamanan itu bukan hanya disebabkan karena di dalam dunia semakin sengit persaingannya, tetapi juga semakin hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling berlawanan. Ditambah lagi komentar yang hanya memahami persoalan dari sudut pandangnya semata.
Situasi itu sudah menjadi paripurna dalam segala bidang kehidupan dengan kompleksitas problema di dalamnya. Bagaimana kehidupan kita, yang disesaki dengan tontonan dan pertikaian telah merambah bukan hanya pada masalah agama, politik, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan bersamanya, tetapi juga masalah pangan dan kesehatan. Dua hal kunci yang menentukan masa depan manusia.
Dua masalah terkini, pangan dan kesehatan telah menjadi isu aktual dalam kehidupan. Korelasi antara kebutuhan pangan bagi manusia telah memberi konsekuensi bagi kesehatan yang lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya. Diversifikasi dan intensifikasi produksi pangan telah melampaui batas kewajaran pertumbuhan dan percepatan produksi pangan, ditambah lagi dengan "kreatifitas" manusia menciptakan pangan dalam kategori makanan cepat saji. Maka, konsekuensinya semakin nyata bagi kualitas kesehatan manusia.
Perkembangan situasi itu sebagian besarnya didorong oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan akan pangan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu yang dihadapi manusia. Ini yang dikhawatirkan oleh Robert Malthus pada hampir dua abad yang lampau. Malthus meramalkan bahwa, dalam perkembangan kehidupan manusia dalam kategori angka dan jumlahnya dibutuhkan ketersediaan pangan yang semakin besar. Ia menyimpulkan bahwa, "Kebutuhan pangan akan semakin lebih tinggi tuntutannya dibandingkan dengan kemampuan manusia memenuhinya. Perkembangan jumlah manusia berbanding terbalik dengan perkembangan jumlah kebutuhan pangan. Perkembangan jumlah manusia (angka kelahiran) diukur dengan deret ukur, sedangkan perkembangan kebutuhan pangan diukur dengan deret hitung." Situasi yang abnormal bagi kehidupan manusia. Pangan akan mengalami kelangkaan, demikian kata Malthus dan mendorong persaingan kehidupan semakin tajam.
Meskipun demikian, ramalan dan kegelisahan Malthus mendapatkan sanggahan yang kuat dari pengkritiknya. Para pengkritik itu mengatakan, "Malthus gagal memperhitungkan variabel perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa mendorong produksi pangan berkali lipat jumlahnya dan berlimpah ketersediaannya. Dengan temuan di bidang ini melalui riset dan pengembangan varietas unggul pada bibit tanaman dan hewan, problema kebutuhan akan kecukupan pangan diyakini dapat diatasi oleh manusia di masa depan. Di samping itu juga temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menekan angka kelahiran manusia secara rasional."
Tetapi Malthus membantah para pengkritiknya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa, Problema utamanya adalah pada persoalan hasrat manusia akan seks yang menjadi kebutuhannya dan bersifat sunnatullah. Konsekuensi dari relasi dan aktivitas seksual manusia adalah melahirkan keturunan." Situasi ini tidak bisa dibendung dan terbukti dalam perjalanan sejarah manusia di muka bumi, jumlah manusia yang menghuni bumi tidak bisa dihentikan dan semakin berkembang dengan angka rekor yang semakin tinggi (jumlah manusia dewasa ini mencapai tujuh Miliar lebih).
Kelangkaan pangan akan selalu hadir dan menghantui kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi pangan bukan tidak memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan ini, tetapi masalah pangan selalu hadir berhimpit dengan manusia dalam hidupnya. Bahkan masalah pangan telah melahirkan masalah lain yang bersifat reproduktif, yaitu masalah kesehatan. Manusia di era super modern rentan dengan masalah kesehatan disebabkan kebutuhan pangan sebagai suplayer utama untuk mempertahankan fisik dan produktivitas manusia, semakin indentik dengan proses yang bersifat kimiawi dan instan dalam kultur dan pola konsumsi junk food dan fast food.
Pola konsumsi dalam kultur masyarakat super modern semacam itu sesungguhnya membayakan eksistensi manusia. Kesehatan manusia secara massal akan mengalami gangguan yang semakin intens yang pada gilirannya akan mengganggu produktivitasnya dalam kehidupan. Perkembangan kemajuan ilmu kesehatan berhadapan dengan kondisi anomali dalam penyediaan dan ketersediaan pangan bagi manusia. Manusia telah memiliki kesempatan usia hidup yang semakin baik dan panjang disebakan oleh kemajuan ilmu kesehatan, tetapi juga memiliki ancaman usia pendek akibat pola makan dan pola konsumsi makanan dalam kehidupannya. Untuk sekadar menyebutkan jenis penyakit yang mengancam manusia dari waktu ke waktu dengan semakin bervariatif, misalnya: cancer, stroke, gagal ginjal, dsb. Terbaru adalah virus Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.
Itulah anomali dimaksud. Angka kematian dan kelahiran tinggi, tetapi laju pertumbuhan penduduk terus bergulir. Sementara, ancaman akan kehidupan melalui kesehatan yang semakin rentan dan mahal serta bersifat pandemi terus berlangsung dalam kehidupan bersama. Kesehatan manusia pada akhirnya menjadi lebih utama dan lebih bernilai. Era post truth dalam kesehatan manusia telah hadir menjadi babak baru yang mendorong manusia perlu mengubah cara pandang terhadap kehidupan bersama.
Merebaknya Covid-19 telah membangkitkan ketakutan masyarakat dunia. Ekonomi mengalami guncangan, pariwisata mengalami penurunan sangat tajam. Bahkan kehidupan beragama juga mengalami shut down, umroh dibatalkan, Mekah ditutup, sebagian masjid tidak menyelenggarakan shalat Jumat. Aktivitas dan produktivitas kehidupan mengalami penurunan tajam. Semua disebabkan "makhluk" yang bernama Corona.
Kebanyakan masyarakat meresponnya dengan ketakutan tanpa reserve. Informasi menyangkut Corona disebar secara massal melalui media sosial kita persis mirip perilaku dalam penyebaran informasi ketika hiruk pikuk politik berlangsung. Isu Corona juga mendorong masyarakat menyebarkan segala berita dan informasi yang cenderung intimidatif buat mereka sendiri.
Ketika banyak negara melakukan lockdown dan masyarakatnya mematuhi, kita masih sibuk membantah dan beragumen atas nama apapun yang bisa diutarakan dan bahkan tetap melakukan aktivitas yang normal. Ada yang beragumen atas nama agama, atas nama kesiapan pemerintah, atas nama kesiapan masyarakat, dan sebagainya. Inilah kesehatan di era post truth. Informasi Covid 19 dengan jumlah korban yang terus meningkat berbaur dengan hoax dan kebohongan. Bahkan juga berkelindan dengan berbagai flyer dan meme candaan dalam ruang publik media sosial kita.
Kesehatan telah menjadi bagian dari kepedulian manusia dengan lingkungannya, tetapi juga telah menjadi "komoditas informasi" yang berseliweran dalam lalu litas media sosial kita. Kita perlu memahami, mendalami, dan menyebarkan berbagai informasi dengan bijak dalam arus besar langgam budaya mencerap informasi yang masih kedodoran di sana sini.
Kemampuan kita memperoleh dan menerima informasi berbanding terbalik dengan kemampuan kita mengunyah dan memahami informasi. Lalu informasi sering menjadi lawan kita ketimbang menjadi sahabat kita. Anomali kehidupan di era informasi. Inilah era post truth.
Jawa Barat, 2020
Kita menghadapi kenyataan bersama, bahwa dunia tidak lagi nyaman bagi para penghuninya. Kenyamanan itu bukan hanya disebabkan karena di dalam dunia semakin sengit persaingannya, tetapi juga semakin hiruk pikuk dengan berbagai komentar yang saling berlawanan. Ditambah lagi komentar yang hanya memahami persoalan dari sudut pandangnya semata.
Situasi itu sudah menjadi paripurna dalam segala bidang kehidupan dengan kompleksitas problema di dalamnya. Bagaimana kehidupan kita, yang disesaki dengan tontonan dan pertikaian telah merambah bukan hanya pada masalah agama, politik, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan bersamanya, tetapi juga masalah pangan dan kesehatan. Dua hal kunci yang menentukan masa depan manusia.
Dua masalah terkini, pangan dan kesehatan telah menjadi isu aktual dalam kehidupan. Korelasi antara kebutuhan pangan bagi manusia telah memberi konsekuensi bagi kesehatan yang lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya. Diversifikasi dan intensifikasi produksi pangan telah melampaui batas kewajaran pertumbuhan dan percepatan produksi pangan, ditambah lagi dengan "kreatifitas" manusia menciptakan pangan dalam kategori makanan cepat saji. Maka, konsekuensinya semakin nyata bagi kualitas kesehatan manusia.
Perkembangan situasi itu sebagian besarnya didorong oleh upaya untuk memenuhi kebutuhan akan pangan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu yang dihadapi manusia. Ini yang dikhawatirkan oleh Robert Malthus pada hampir dua abad yang lampau. Malthus meramalkan bahwa, dalam perkembangan kehidupan manusia dalam kategori angka dan jumlahnya dibutuhkan ketersediaan pangan yang semakin besar. Ia menyimpulkan bahwa, "Kebutuhan pangan akan semakin lebih tinggi tuntutannya dibandingkan dengan kemampuan manusia memenuhinya. Perkembangan jumlah manusia berbanding terbalik dengan perkembangan jumlah kebutuhan pangan. Perkembangan jumlah manusia (angka kelahiran) diukur dengan deret ukur, sedangkan perkembangan kebutuhan pangan diukur dengan deret hitung." Situasi yang abnormal bagi kehidupan manusia. Pangan akan mengalami kelangkaan, demikian kata Malthus dan mendorong persaingan kehidupan semakin tajam.
Meskipun demikian, ramalan dan kegelisahan Malthus mendapatkan sanggahan yang kuat dari pengkritiknya. Para pengkritik itu mengatakan, "Malthus gagal memperhitungkan variabel perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa mendorong produksi pangan berkali lipat jumlahnya dan berlimpah ketersediaannya. Dengan temuan di bidang ini melalui riset dan pengembangan varietas unggul pada bibit tanaman dan hewan, problema kebutuhan akan kecukupan pangan diyakini dapat diatasi oleh manusia di masa depan. Di samping itu juga temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menekan angka kelahiran manusia secara rasional."
Tetapi Malthus membantah para pengkritiknya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa, Problema utamanya adalah pada persoalan hasrat manusia akan seks yang menjadi kebutuhannya dan bersifat sunnatullah. Konsekuensi dari relasi dan aktivitas seksual manusia adalah melahirkan keturunan." Situasi ini tidak bisa dibendung dan terbukti dalam perjalanan sejarah manusia di muka bumi, jumlah manusia yang menghuni bumi tidak bisa dihentikan dan semakin berkembang dengan angka rekor yang semakin tinggi (jumlah manusia dewasa ini mencapai tujuh Miliar lebih).
Kelangkaan pangan akan selalu hadir dan menghantui kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi pangan bukan tidak memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan ini, tetapi masalah pangan selalu hadir berhimpit dengan manusia dalam hidupnya. Bahkan masalah pangan telah melahirkan masalah lain yang bersifat reproduktif, yaitu masalah kesehatan. Manusia di era super modern rentan dengan masalah kesehatan disebabkan kebutuhan pangan sebagai suplayer utama untuk mempertahankan fisik dan produktivitas manusia, semakin indentik dengan proses yang bersifat kimiawi dan instan dalam kultur dan pola konsumsi junk food dan fast food.
Pola konsumsi dalam kultur masyarakat super modern semacam itu sesungguhnya membayakan eksistensi manusia. Kesehatan manusia secara massal akan mengalami gangguan yang semakin intens yang pada gilirannya akan mengganggu produktivitasnya dalam kehidupan. Perkembangan kemajuan ilmu kesehatan berhadapan dengan kondisi anomali dalam penyediaan dan ketersediaan pangan bagi manusia. Manusia telah memiliki kesempatan usia hidup yang semakin baik dan panjang disebakan oleh kemajuan ilmu kesehatan, tetapi juga memiliki ancaman usia pendek akibat pola makan dan pola konsumsi makanan dalam kehidupannya. Untuk sekadar menyebutkan jenis penyakit yang mengancam manusia dari waktu ke waktu dengan semakin bervariatif, misalnya: cancer, stroke, gagal ginjal, dsb. Terbaru adalah virus Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.
Itulah anomali dimaksud. Angka kematian dan kelahiran tinggi, tetapi laju pertumbuhan penduduk terus bergulir. Sementara, ancaman akan kehidupan melalui kesehatan yang semakin rentan dan mahal serta bersifat pandemi terus berlangsung dalam kehidupan bersama. Kesehatan manusia pada akhirnya menjadi lebih utama dan lebih bernilai. Era post truth dalam kesehatan manusia telah hadir menjadi babak baru yang mendorong manusia perlu mengubah cara pandang terhadap kehidupan bersama.
Merebaknya Covid-19 telah membangkitkan ketakutan masyarakat dunia. Ekonomi mengalami guncangan, pariwisata mengalami penurunan sangat tajam. Bahkan kehidupan beragama juga mengalami shut down, umroh dibatalkan, Mekah ditutup, sebagian masjid tidak menyelenggarakan shalat Jumat. Aktivitas dan produktivitas kehidupan mengalami penurunan tajam. Semua disebabkan "makhluk" yang bernama Corona.
Kebanyakan masyarakat meresponnya dengan ketakutan tanpa reserve. Informasi menyangkut Corona disebar secara massal melalui media sosial kita persis mirip perilaku dalam penyebaran informasi ketika hiruk pikuk politik berlangsung. Isu Corona juga mendorong masyarakat menyebarkan segala berita dan informasi yang cenderung intimidatif buat mereka sendiri.
Ketika banyak negara melakukan lockdown dan masyarakatnya mematuhi, kita masih sibuk membantah dan beragumen atas nama apapun yang bisa diutarakan dan bahkan tetap melakukan aktivitas yang normal. Ada yang beragumen atas nama agama, atas nama kesiapan pemerintah, atas nama kesiapan masyarakat, dan sebagainya. Inilah kesehatan di era post truth. Informasi Covid 19 dengan jumlah korban yang terus meningkat berbaur dengan hoax dan kebohongan. Bahkan juga berkelindan dengan berbagai flyer dan meme candaan dalam ruang publik media sosial kita.
Kesehatan telah menjadi bagian dari kepedulian manusia dengan lingkungannya, tetapi juga telah menjadi "komoditas informasi" yang berseliweran dalam lalu litas media sosial kita. Kita perlu memahami, mendalami, dan menyebarkan berbagai informasi dengan bijak dalam arus besar langgam budaya mencerap informasi yang masih kedodoran di sana sini.
Kemampuan kita memperoleh dan menerima informasi berbanding terbalik dengan kemampuan kita mengunyah dan memahami informasi. Lalu informasi sering menjadi lawan kita ketimbang menjadi sahabat kita. Anomali kehidupan di era informasi. Inilah era post truth.
Jawa Barat, 2020
Friday, May 15, 2020
Kepercayaan
Shofiyah
Aku percaya
Secangkir kopi dapat mengubahmu
Dari yang semula banyak pikir, lantas menggantinya dengan sedikit mangkir
: untuk menemuinya
Aku percaya pula
Secangkir kopi membuatmu frustasi,
menghabiskan tanpa sisa atau mengambil ampasnya
lalu melukiskan wajah ia di bangku kedai
Bahkan, aku percaya
Bukan hanya kopi yang membuatmu mati kata,
terlena dengan kenikmatannya
lupa meletakkan komentar atas sesapannya,
kecuali dia
Aku tak ingin percaya
Bahwa satu-satunya yang membuatmu begini hanyalah secangkir kopi
dari hidangan kedai yang terbuka
pun kau tertutup soal rasa
Sudahlah, aku percaya
Dengan berat kupertimbangkan agar kau menjauhi kopi
yang kini berada tepat di genggamanmu,
beralihkan untuk tidak menyeduhnya
Pulanglah dengan kepercayaan lain!
Probolinggo, 15 Mei 2020
Aku percaya
Secangkir kopi dapat mengubahmu
Dari yang semula banyak pikir, lantas menggantinya dengan sedikit mangkir
: untuk menemuinya
Aku percaya pula
Secangkir kopi membuatmu frustasi,
menghabiskan tanpa sisa atau mengambil ampasnya
lalu melukiskan wajah ia di bangku kedai
Bahkan, aku percaya
Bukan hanya kopi yang membuatmu mati kata,
terlena dengan kenikmatannya
lupa meletakkan komentar atas sesapannya,
kecuali dia
Aku tak ingin percaya
Bahwa satu-satunya yang membuatmu begini hanyalah secangkir kopi
dari hidangan kedai yang terbuka
pun kau tertutup soal rasa
Sudahlah, aku percaya
Dengan berat kupertimbangkan agar kau menjauhi kopi
yang kini berada tepat di genggamanmu,
beralihkan untuk tidak menyeduhnya
Pulanglah dengan kepercayaan lain!
Probolinggo, 15 Mei 2020
Sebelum Mengenalmu, Aku Tak Pernah Tahu Sepi
Shofiyah
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Yang kutahu hanyalah perasaan tiada arti
sering menitipkan diri
pada tali temali, yang mengeratkanku
'tuk selalu diam; tak pernah ada niat berjanji
Aku mengenal sendiri
tanpa ada yang mengajak basa-basi
sana-sini sibuk bernarasi
panjang, kugapai hal yang sangsi
: sebelum mengenalmu
Aku Tak Pernah Tahu Sepi
mengasingkan diri adalah caraku menatap dunia
dengan malu-malu, sehingga
Aku tak pernah menahu soal rindu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Ah, sialnya aku tak lagi sendiri
ditemani seribu kata yang menderap di telinga sunyi
Kucoba mengerti
barangkali sepi tercipta karena aku tak mau membaca lain hati
Aku meraba-raba, kini tiada lagi
sebait puisi yang katanya haus akan kepemilikan
kurela ia dinisankan atas nama kenang yang tertinggal
pada garis yang kau singsingkan di lengan waktu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Bagiku, arwah adalah karib dekat,
sedang bayangmu ialah dusta
yang masih bertengger di area mimpi
bermukim untuk mengutuk malam,
dengan mata julingku yang lajang sengaja kugilas agar terbiasa tanpamu,
lagi ....
Setelah mengenalmu, aku tahu sepi
aku cemburu dengan jiwa-jiwa yang melayat
melantunkan diksi-diksi
atas namamu
Sekarang, aku tak mau tahu soal sepi
Semenjak kau kurung aku dalam tangis kehilangan,
nyawa di dadamu berhenti berdenyut
dan sama lagi--dulu dan kini--aku tak pernah tahu sepi
Tersebab, hari-hariku adalah pembalasan;
untuk mengingatmu
Jadi, sepi dan kamu
apa bedanya?
Probolinggo, 14 Mei 2020
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Yang kutahu hanyalah perasaan tiada arti
sering menitipkan diri
pada tali temali, yang mengeratkanku
'tuk selalu diam; tak pernah ada niat berjanji
Aku mengenal sendiri
tanpa ada yang mengajak basa-basi
sana-sini sibuk bernarasi
panjang, kugapai hal yang sangsi
: sebelum mengenalmu
Aku Tak Pernah Tahu Sepi
mengasingkan diri adalah caraku menatap dunia
dengan malu-malu, sehingga
Aku tak pernah menahu soal rindu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Ah, sialnya aku tak lagi sendiri
ditemani seribu kata yang menderap di telinga sunyi
Kucoba mengerti
barangkali sepi tercipta karena aku tak mau membaca lain hati
Aku meraba-raba, kini tiada lagi
sebait puisi yang katanya haus akan kepemilikan
kurela ia dinisankan atas nama kenang yang tertinggal
pada garis yang kau singsingkan di lengan waktu
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah tahu sepi
Bagiku, arwah adalah karib dekat,
sedang bayangmu ialah dusta
yang masih bertengger di area mimpi
bermukim untuk mengutuk malam,
dengan mata julingku yang lajang sengaja kugilas agar terbiasa tanpamu,
lagi ....
Setelah mengenalmu, aku tahu sepi
aku cemburu dengan jiwa-jiwa yang melayat
melantunkan diksi-diksi
atas namamu
Sekarang, aku tak mau tahu soal sepi
Semenjak kau kurung aku dalam tangis kehilangan,
nyawa di dadamu berhenti berdenyut
dan sama lagi--dulu dan kini--aku tak pernah tahu sepi
Tersebab, hari-hariku adalah pembalasan;
untuk mengingatmu
Jadi, sepi dan kamu
apa bedanya?
Probolinggo, 14 Mei 2020
Saturday, May 9, 2020
Catatan Hati
Tentang: calon pemimpin negeri
Mengetuk atau mengambil hati seorang anak memang mudah, yang lebih sulit adalah menjaga hatinya. Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan, bisa! Hanya saja perlu trik tersendiri. Apalagi jika anak kita memasuki usia remaja menengah, yang notabene pada masa tersebut mereka berada di tahap pencarian jati diri. Upaya-upaya yang dilakukan, entah ucapan atau tindakan, seringkali meletup-letup, mengikuti egonya. Wajar. Ada saatnya kita berganti peran, dari orang tua menjadi sahabat atau bahkan kadang kalanya harus berpura menjadi asing di hadapan mereka. Mereka hanya perlu didengar tanpa perlu kita mengikuti ritme permintaannya sebelum dipilah dan dipilih. Akhir-akhir ini, saya lebih suka memerhatikan anak-anakku agar sedikit paham dengan mereka, meskipun tidak semua hal dapat saya pahami. Saya yakin, kelak mereka akan menjadi pribadi tangguh, mampu memimpin di mana pun mereka berada. Hanya doa yang bisa dirapal saat ini untuk melunakkan hatinya dan menguatkan hatinya sebagaimana kata pepatah, "Semakin banyak kau ditempa, maka kau akan semakin kuat."
dari Ibu yang tak pernah melahirkan kalian.
Mengetuk atau mengambil hati seorang anak memang mudah, yang lebih sulit adalah menjaga hatinya. Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan, bisa! Hanya saja perlu trik tersendiri. Apalagi jika anak kita memasuki usia remaja menengah, yang notabene pada masa tersebut mereka berada di tahap pencarian jati diri. Upaya-upaya yang dilakukan, entah ucapan atau tindakan, seringkali meletup-letup, mengikuti egonya. Wajar. Ada saatnya kita berganti peran, dari orang tua menjadi sahabat atau bahkan kadang kalanya harus berpura menjadi asing di hadapan mereka. Mereka hanya perlu didengar tanpa perlu kita mengikuti ritme permintaannya sebelum dipilah dan dipilih. Akhir-akhir ini, saya lebih suka memerhatikan anak-anakku agar sedikit paham dengan mereka, meskipun tidak semua hal dapat saya pahami. Saya yakin, kelak mereka akan menjadi pribadi tangguh, mampu memimpin di mana pun mereka berada. Hanya doa yang bisa dirapal saat ini untuk melunakkan hatinya dan menguatkan hatinya sebagaimana kata pepatah, "Semakin banyak kau ditempa, maka kau akan semakin kuat."
dari Ibu yang tak pernah melahirkan kalian.
Cinta yang Sederhana
Ketika cinta harus dibacakan, maka lidah ini kelu, mulut terasa bungkam, seraya yang tersisa hanya detak jantung yang gemuruh. Ketika cinta dituliskan, maka jangankan satu buku, selembar pun tak ada catatan, yang ada hanyalah kebingungan untuk mengungkapkan. Cinta adalah adegan-adegan yang tak diketahui kapan datangnya, bermuasal dari mana, dan sampai kapan dilabuhkan. Cinta adalah kesederhanaan rasa yang tak dapat dijadikan materi, akan tetapi ia menghidupkan jiwa-jiwa yang berkabung dalam tudung gelisah karena kesendirian. (Shofiyah, 2020).
Tentang Kamu
Kamu berdoa untuk si A. Dia berdoa yang terbaik untukmu dan berdoa untuk si B. Si C dan D berdoa untukmu. Si E datang dan lambat laun kau berdoa untuknya. Si F sampai Z berdoa yang terbaik untukmu. Kemudian, si A ternyata untukmu. Si B untuk orang lain yang lebih pantas.
Lucu ya ..., semacam kuat-kuatan melangitkan doa :)
Apasih Maunya Allah?
Seringkali harapan tak sejalan dengan kenyataan. Ada keinginan, tapi tak terlalu dibutuhkan. Seringkali pula menganggap bahwa Allah tak menjawab doa-doa yang dipanjatkan. Eits, tunggu dulu! Bukankah sesuatu yang kamu anggap baik, malah buruk untukmu, sedangkan yang dianggap buruk, malah baik untukmu?
Akhir-akhir kuliah, aku suka mendengarkan ceramah Ustaz Hanan. Entah penyampaiannya yang ringan, tidak pernah menjudge, atau narasinya yang sering puitis. Eh 😃 Ketika itu--saat galau-galaunya skripsi--satu kalimat nasihat yang masih kuingat sampai saat ini. Beliau berkata, "Nggak apa-apa, judul ini ditolak, cari lagi. Siapa tahu judul yang baru itu lebih aplikatif dan dibutuhkan untukmu di masa setelahnya."
Aku yang mendengarkan kadang mengabaikan, kadang pula menjadi introspeksi diri. Begitulah, wajar masih disebut manusia. Pikirannya mau yang logis saja, padahal miracle itu ada lho. Akhirnya, dengan segala tantangan, skripsiku jadi dengan judul: "Pengaruh PDRB dan IPM terhadap Angka Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016." Hasilnya adalah: IPM dominan berpengaruh terhadap angka kemiskinan daripada PDRB. Pengaruh IPM terhadap angka kemiskinan yakni -1,868236 yang artinya apabila terjadi 1 satuan kenaikan IPM di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016, maka angka kemiskinan akan menurun sebesar 1,868236 persen. Sementara, PDRB hanya berpengaruh sebesar -0,251899 terhadap angka kemiskinan.
Qodarullah, hari ini kami mengadakan rapat mengenai kelulusan PPDB. Ada dua jalur, yakni: beasiswa prestasi dan mandiri prestasi. Pembicaraan itu disambut oleh Bapak. Beliau mengatakan yang intinya, "Upaya pendidikan dan program beasiswa yang diberikan semata-mata untuk meningkatkan IPM di Kab. Probolinggo karena saat ini peringkatnya pada 35 dari 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur." Seingatku dulu pada penelitianku malah Kab. Probolinggo berada di peringkat 36 🤧.
Jleb. Ingatanku merangkak pada dua tahun silam. Iya, benar. Skripsiku membahas IPM (Indeks Pembangunan Manusia) atau HDI (Human Development Index). Ada tiga hal yang mendasari suatu IPM bisa tinggi atau rendah pada suatu daerah, yakni: kesehatan, pendidikan, dan pengeluaran per kapita. Kesehatan dan pengeluaran per kapita Kab. Probolinggo sudah cukup tinggi, akan tetapi nilai indeks pendidikannya masih rendah. Indeks pendidikan diukur dari rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah. Hal yang fundamental adalah pendidikan di Kab. Probolinggo masih rendah dan belum menyeluruhnya pendidikan ke semua lini masyarakat.
Akhirnya saya paham, mengapa harus ada sekolah Hati yang notabene input peserta didiknya adalah perwakilan dari masing-masing kecamatan dengan syarat ekonomi keluarga menengah ke bawah dan nilai akademik dan juga non akademik dapat dipertanggungjawabkan. Tidak lain hanya untuk memeratakan pendidikan dan membantu keluarga yang kurang mampu bagi masyarakat.
Besar syukur karena ini merupakan salah satu terobosan untuk membantu yang dibutuhkan. Melalui Bapak Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si., dan Ibu Bupati Kab. Probolinggo, Hj. Puput Tantriana Sari, S.E., selaku pemilik HIBS (Hati Islamic Boarding School), Allah memberikan rezeki masyarakat Kab. Probolinggo melalui beliau.
Senyum untuk kisah ini. Memang benar, sabar tiada batas. Jika sabar berbatas, maka itu bukan sabar. Bersabarlah atas sesuatu yang tak kau sukai. Kelak, kau akan mengerti dan mengganti kalimat, Apasih Maunya Allah? menjadi Oh, ternyata ini maksud Allah. Setidaknya, dulu aku pernah tahu tentang ini dan pada akhirnya sekaranglah praktiknya. Teori yang dienyam 2 tahun lalu dengan penelitian data, tapi sekarang bukti fisiknya wkwk.
Subscribe to:
Comments (Atom)