Saturday, June 13, 2020
Surat Juni (pertama)
>> Bagaimana jika nanti aku tumbuh menjadi gadis cantik?
Sesuai kodratnya, perempuan tercipta memang 'cantik' dengan kadarnya masing-masing. Malah aneh jadinya jika ada perempuan berwajah ganteng, iya atau iya? Namun, bagaimana jika tingkat cantikku bertambah? Cantik banyak segi ukuran. Cantik menurutku ialah tak lagi tergerak untuk menggertak amarah ketika lawan bicara di hadapanku memancing ego. Cantik itu melandaskan aura senyum meski di balik semua itu ada perih yang sengaja tak dikabarkan pada orang lain. Cantik itu dapat bertutur dengan tanpa tergesa, melafalkan yang telah diproses olah otak, sehingga banyak pertimbangan yang dilakukan sebelum dikeluarkan. Bagaimana jika nanti aku tumbuh menjadi gadis cantik itu? Apakah kau akan takjub atau malah sebaliknya--mengenalku bukan yang dulu lagi(?) Kuharap tidak demikian. Pikirkanlah apa-apa yang menurutmu pantas.
>> Bagaimana jika nanti aku lebih dewasa daripada umurku?
Aku tahu, usia kepala dua sangatlah terbilang muda bahkan masih di tahap awal dari kata 'dewasa'. Psikologi mengurutkan usia 18-21 tahun merupakan tahap remaja atas, selanjutnya tahap dewasa awal. Aku yang notabene berada di tahap tersebut, boleh dong jika Allah memberiku beban lebih dari yang orang lain peroleh? Apa nanti kau akan menganggapku sebagai orang yang sok dewasa sebelum waktunya? Atau justru sebaliknya, kau menganggap bahwa tindakanku adalah wujud ketidaktergesa-gesanya aku menutup segala masalah yang telah terbuka? Hakmu.
>> Bagaimana jika nanti aku tak seperti ekspektasimu?
Lagi, lagi, satu hal sederhana yang membuatku kacau adalah kecewa -mu. Aku tak bisa membuat semua orang bertahan dengan rasa sukanya atau sekadar melibasku dengan sosok yang ramah. Bagaimana jika nanti aku menyebalkan? Dan itu terbukti akhir-akhir ini, bukan? Bagaimana jika aku ke luar dari fase ke-aku-an yang kau tahu perihalku? Apakah kau akan meninggalkanku sebagai kawan hidupmu ataukah kau akan berada di sisi dan mendiktekan satu persatu hal yang perlu kuubah tanpa gegabah?
Pada akhirnya, semua hanyalah persoalan opini. Opiniku terhadap opini orang lain (termasuk dirimu) yang barangkali akan muncul setelah aku beropini hal ini. Hari ini, ah sudah Juni saja ya? Kapan mampir ke gubuk aksaraku--lagi--akan kusediakan kau setenang dan semenyenangkan puisi. Tenang saja, kedaiku masih buka hingga sajak-sajakku laris dibeli pemborong kata. Oh iya, bagaimana perjalananmu? Asyik, bukan? Semoga segala perjalanan selalu menemukan tujuan akhir--datang ke rumah kawan.
Shofiyah (2020)
Re
Re, aku ingin segera menjauh, tapi lututku tak henti merajuk ingin istirahat. Iya, kita sama-sama menjadi penadah untuk hal yang ganjil, semacam bertualang tapi lupa membawa peta perjalanan. Baiknya kita mundur dan mengeja kenyataan bahwa sebaik-baiknya pergi, adalah bukan kepada rumahku yang penuh dengan harapan tergelar (Shofiyah, 2020).
Sesuatu harus berhenti meski belum kita mulai. Sama sekali tak ada kata pengecut, yang kutahu hanya tidak mau lanjut. Bukan waktu yang menjauh darimu, tapi dirimulah yang enggan berlabuh. Aku punya aksara, tapi kau tak mau membaca. Aku ingin dilihat, tapi tak pernah sekali pun mata itu bertaut di muara jantungku. Aku ingin memaksa langkah agar tak berhenti di sampingmu, nyatanya kau sengaja menghentikanku pada kesangsian yang bisu.
Pada Juni Nanti, Aku Ingin Membahasmu
kepada yang wajah dan matanya tak lagi beradu; Re.
Pada Juni nanti
Ketika bukan petrichor yang mampir di depan rumahku
Melainkan penantian-penantian atau beragam tanya perihalmu
Kuharap semoga tak lagi ada benang abu
Tanpa kalimat setuju
Darimu, yang kuanggap kaku
Sedangkan aku tetiba gagu untuk mengungkap sesuatu
.
Pertengahan Juni nanti
Bulan masihlah Syawal dan kita belum sepenuhnya anggap selesai
Barangkali ada hal ganjil yang harus dikawal dan diawali
Agar menjadi genap dengan ketentuan-Nya
.
Aku masih ingat benar ketika namamu digiring
Agar selalu muncul sebagai diksi pada tulisanku
Yang selalu membelenggu
Lupa menamatkan yang disebut rindu
Aku ingin menyudahinya,
pada Juni nanti
.
Pada Juni yang diikrarkan sebagai dalih penawaran
Juga permintaanku yang barangkali tak tentu
Dengar! Dengarlah bincangku seperlunya
Selebihnya biar kusimpan di atas tadahan telapak tangan
Pun di bawah derai mataku mengalirkan sendu
.
Katamu benar, kita tak dapat menafsir takdir. Juga tak boleh berhenti berpikir.
Shofiyah
Probolinggo, 23 Mei 2020
Pada Juni nanti
Ketika bukan petrichor yang mampir di depan rumahku
Melainkan penantian-penantian atau beragam tanya perihalmu
Kuharap semoga tak lagi ada benang abu
Tanpa kalimat setuju
Darimu, yang kuanggap kaku
Sedangkan aku tetiba gagu untuk mengungkap sesuatu
.
Pertengahan Juni nanti
Bulan masihlah Syawal dan kita belum sepenuhnya anggap selesai
Barangkali ada hal ganjil yang harus dikawal dan diawali
Agar menjadi genap dengan ketentuan-Nya
.
Aku masih ingat benar ketika namamu digiring
Agar selalu muncul sebagai diksi pada tulisanku
Yang selalu membelenggu
Lupa menamatkan yang disebut rindu
Aku ingin menyudahinya,
pada Juni nanti
.
Pada Juni yang diikrarkan sebagai dalih penawaran
Juga permintaanku yang barangkali tak tentu
Dengar! Dengarlah bincangku seperlunya
Selebihnya biar kusimpan di atas tadahan telapak tangan
Pun di bawah derai mataku mengalirkan sendu
.
Katamu benar, kita tak dapat menafsir takdir. Juga tak boleh berhenti berpikir.
Shofiyah
Probolinggo, 23 Mei 2020
Kita Senantiasa Sendiri
Shofiyah
Kita (kau dan aku) tercipta dari: satu dari 40 juta sel sperma yang mampu mencapai satu di antara 3-30 sel telur dalam ovarium wanita. Kemudian, perjalanan berikutnya ialah penentuan genetik alat kelamin anak yang notabene hanya satu pilihan. Calon bayi hidup sendiri dalam perut Ibu. Ketika dilahirkan, masih seorang diri dan di dunia, ia mengenal beragam manusia (meski menikah, tetap saja ada saatnya perlu menyendiri). Sampai akhirnya, kita kembali pada-Nya juga dalam keadaan sendiri. Kelak, masing-masing dari kita akan mempertanggungjawabkannya seorang diri. Selamanya kita sendiri. Lantas, untuk apa mengejar ramai?
Probolinggo, 1 Syawal 1441 H.
Ayah!
Aku tak tahu dia siapa, seingatku dari dulu kupanggil 'Bapak'. Aku tak tahu hubunganku dengannya, yang pasti dia selalu ada ketika aku (akan) pergi jauh-dekat dan dia pulalah yang selalu menboncengku di belakang motornya. Aku tak tahu ketika aku harus mengirimkan pesan--semasa belajar di kota orang--kepada siapa(?) hanya dirinyalah yang mampu mengenyahlah pikiran buruk perihal takdir yang kuangan-angankan sendiri. Aku tak tahu sampai kapan bersembunyi di balik bahu yang tak lagi kekar itu, padahal tinggi badanku sudah di ambang sejajar dengannya. Aku tak tahu cara mengungkap rasa ini, maka dari itu sering kubilang pada Tuhanku, "Biarkan aku bersamanya sampai aku puas merajuk di hadapannya!" Aku tak tahu kesukaannya, yang pasti semua masakan Ibu selalu memperoleh bintang sepuluh di lidahnya. Itu saja. Katanya, "Kelak, Bapak akan menitipkanmu pada dia yang dipilihkan oleh-Nya untuk memilihmu dan Bapak pula yang memilih dia untukmu.
🌹- Shofiyah (2020) - 🌹
🌹- Shofiyah (2020) - 🌹
Na Na Na
Di simpang itu
Kulihat bahumu berlalu
Membawa wajahmu yang abu
Dalam lingkar yang kerapkali kugapai,
tapi tak pernah kutahu
: maksudmu
Kulihat bahumu berlalu
Membawa wajahmu yang abu
Dalam lingkar yang kerapkali kugapai,
tapi tak pernah kutahu
: maksudmu
Ada yang merasa bersalah, tapi tak tahu cara membenarkannya. Ada yang ingin pergi, tapi sengaja ada yang membuntuti. Ada yang bersajak, tapi tak tahu ke mana akan dibacakan nantinya. Ada yang ingin berjalan, tapi terpaksa ada simpang tiga dan harus memilih satu di antaranya. Ada yang hendak menyerah, tapi seketika doa sesiapa telah sampai untuk membangunkannya. Ada yang terlihat, tapi bukan mata.
Sehabis Mengungsi
Shofiyah
Aku kembali membawa karung-karung
berisi sebilah alur yang kerapkali bersandiwara
menjejal di tiap tangis yang mengerang tapi tak tentu
barangkali nahas lebih dulu menggelayut di selasar
: pengungsianku yang akut
Aku pulang membawa yang dulu pernah kubawa pergi
sengaja tak kububuhkan titipan bermaterai padanya
sebab
kutahu, banyak canda yang selebihnya duka yang tertutup
Aku memakan sepotong roti
tawar--rasanya sepat
yang tertelan adalah air yang asin
bukan lautan
Di lingkar yang menjadi gubuk singgahku adalah kelakar
menjelma sebagai penyedia sumsum
dengan tulang belakang tak lagi sederhana
Aku kembali ke rumah yang ibu
meski bukan kepalang tak ada denyut yang memeluk leherku
semuanya berpiatu
sebelum kuucap restu
Probolinggo, 2 Juni 2020
Wajah yang Iba
Shofiyah
Diambilnya secarik senyum, kemudian digambarkannya pada sebuah kertas
ia mencoba merekatkan pada wajahku
"Ah, hanya bercanda," kataku mengutuk perasaan
Kali kedua, seretas tas jinjung dibawanya berkeloni
mengumpul dan membiarkan wajah-wajah kusam
tergeletak tak tentu apakah masih berperasa ataupun hilang?
Sejatinya pernah tapi tak ingin menjadi selalu
Sekerat logika berdiskusi di antara pandangku
pandangnya,
juga pandang banyak pasang mata
Tirai-tirai mulai membuka gerai
yang ada hanyalah perkusi dengan nada tak sempurna
sibuk meluruskan pandang sesaat saja
Selebihnya ialah iba
Probolinggo, 2 Juni 2020
Subscribe to:
Comments (Atom)