kepada yang wajah dan matanya tak lagi beradu; Re.
Pada Juni nanti
Ketika bukan petrichor yang mampir di depan rumahku
Melainkan penantian-penantian atau beragam tanya perihalmu
Kuharap semoga tak lagi ada benang abu
Tanpa kalimat setuju
Darimu, yang kuanggap kaku
Sedangkan aku tetiba gagu untuk mengungkap sesuatu
.
Pertengahan Juni nanti
Bulan masihlah Syawal dan kita belum sepenuhnya anggap selesai
Barangkali ada hal ganjil yang harus dikawal dan diawali
Agar menjadi genap dengan ketentuan-Nya
.
Aku masih ingat benar ketika namamu digiring
Agar selalu muncul sebagai diksi pada tulisanku
Yang selalu membelenggu
Lupa menamatkan yang disebut rindu
Aku ingin menyudahinya,
pada Juni nanti
.
Pada Juni yang diikrarkan sebagai dalih penawaran
Juga permintaanku yang barangkali tak tentu
Dengar! Dengarlah bincangku seperlunya
Selebihnya biar kusimpan di atas tadahan telapak tangan
Pun di bawah derai mataku mengalirkan sendu
.
Katamu benar, kita tak dapat menafsir takdir. Juga tak boleh berhenti berpikir.
Shofiyah
Probolinggo, 23 Mei 2020
Bulan Juni sudah lewat nih.... Lanjuttttt....
ReplyDelete