: kepada perempuan di bawah gersang
Tiada Subuh yang bicara
Nada yang bertalu, bungkam sementara
Jasad hanyalah penonton dengan delik di mata mereka
Pagi bertanya perihal ambyar; entah mengadu
Selepasnya, terkesiur dua di antara empat malam sirna
Hanya satu, Sayang!
Masihlah Ibu dengan suara paling gaduh, agar dirasa kecupan mampir di pipi kirinya
Dengan lebur,
Dengan suratan,
Dengan gubahan--antara padang pasir dengan lautan--menyatukan puing-puing penyesalan
Shofiyah
Probolinggo, 11 Oktober 2019 5.32 AM
Friday, October 11, 2019
Wednesday, October 9, 2019
Mengerang Namamu
Di
puncak gunung Nun, kutemukan pepohonan rindang menua
Disapih
gempita, barangkali darah pernah mengisi pori tanah di bawahnya
Dan
akarnya membawa ke atas pangkal yang bernama ‘tumbuh’
Dengan
gusar, kami meniadakan sengketa perihal sejahtera
Ada
lumbung tak dapat selamat ketika peri berpijak angkuh
Di
sana, nyawa-nyawa bertengger seram
Tahun
berikutnya, ialah kasta melarat tersenyum lebih dulu
Sukma-sukma
berhambur jauh, menyoyak tubuh--meninggalkan jiwa merana
Cerdik
menguasai takhta paling mulia, katanya
Binar
di matanya, berkerling duka manusia-manusia seperti kami
Dahulu
cerita adalah embun, yang tetesnya dirindu jernih
Usai
jajah pergi, merdeka sekuat baling-baling yang bertekuk di lutut sang surya
Singgasana
sang saka, adalah pengabdian tanpa efek pandang apa setelahnya
Air
mata yang jatuh dengan nama setia pada dunia--aku tak mengiba sebagai kami
Atas
nama negeri tercinta
Biarlah,
kuteguk haus yang bercampur haru kali ini!
Shofiyah
Kraksaan, 5 September 2019
Juara 1 lomba cipta puisi nasional OPMUA 2019
Tanpa Almanak
Sepotong kue bronis diletakkan di atas nakas, dekat dengan
alat make-up yang isinya tak seberapa
untuk mode belakangan ini. Paling
tidak, yang tersisa dari kebisingan, ialah suara diam, tanpa mengutarakan
maksud peduli dari hati. Hanya selembar hati
saja yang mampu menggerakkan tangan agar sampai di tempat yang kuanggap
berkasih; kamar.
“Hari ini Ibu pergi ke pasar ya?” kalimat itu biasa kudengar
dari jam pagi sebelum Minggu beranjak ke sekolah.
“Setelah mandi, jangan lupa sarapannya.”
Lagi, dan lagi. Aku bukan anak kecil yang keseluruhan
kegiatanku harus diperingati. Meski ia tahu betul kalau aku enggan sarapan pagi
di meja makan, ia selalu membawakanku sepotong kue atau roti--apalah saja yang mampu kujamah dengan baik. Tanpa
ada embel-embel merengut dan sebagainya.
***
Hari ini, aku sengaja bangun siang dan malas pergi ke
sekolah. Tiada yang memberiku komentar yang menyakitkan atau tidak sekalipun.
Berjalan normal.
Kini, untuk pertama kali kulangsungkan sarapan pagiku di
meja makan bersama Ayah dan kedua adikku.
Memang, tiada yang berbeda. Semangkok sup dan susu putih
racikan perempuan di dapur, turut menghadirkan senyum terpaksaku padanya.
“Tidak nambah minumnya lagi, Neng?” katanya dengan lembut.
“Tidak!” kataku berhasil melengos.
Kulihat kanan dan kiriku, teman makan(?)
Ah, aku tak pernah punya teman makan, bukan? Selama ini, aku
kan makannya selalu di kamar. Mana mungkin aku kehilangan teman di meja makan.
Aneh!
***
Aku kembali ke kamar, mendadak aku lapar lagi tatkala
seorang perempuan duduk di depan nakasku dan dia menghabiskan seluruh roti
milikku.
“Siapa kamu?”
“Aku? Aku adalah seorang yang selama ini menyimpan rindu
pada sepiring roti di sini. Kau tak pernah menyentuhnya.”
“Bi...bi....” kataku melepas takut.
Shofiyah
Kraksaan, 24 September 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
Bukan Sebab
Dieramkannya telur-telur milik pejabat
Agar kelak mewariskan sifat
Saling memberi dan berkirim surat
"Telurmu sudah sampai!"
Begitu kira-kira pada sebuah alamat
Pagi mendarat
Di pipi Ibu yang melarat
Nyala api tak kunjung habis melahap
Tengok samping kanan dan kiri rumah adalah
setan tertangkap
Penjara sesak dengan maling sandal, bahkan
beskap
Maskapai sudah landas secepat angin kilat
Di lumbung padi turut mencuat
Harga-harga terlanjur menyiksa besi jadi
karat
Katanya, orang bermartabat
Tak mau kerja tanpa sekat
Ia peduli dengan lamat-lamat
Kali ini tamat
Sebuah riwayat
Mendulang khianat
Pemilu tersisa baiknya laknat
Yang menang dikata selamat
Yang kalah dirundung tak didaulat
Surat kabar mengabar hampir seperempat
Surau-surau menuang zikir--sempat
Bangku siswa dianyam kaset
Isinya setumpuk pelajaran yang akurat
Aset negara tak terlihat
Hanya saku-saku tangan konglomerat
Bermata malaikat
Dan senyum yang kalut
Maka, bukan sebab tapi akibat
Biar ditanggal muda kita terima selat
Agar luas tinggal yang menjadi tempat
Untuk kita berkomat-kamit
Menggamit ucap para leluhur berbudi mujur dan
berbakat
Jayalah kaum yang angkat!
Shofiyah
Probolinggo, 8 September 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
Barisan Amanat
Pun jadi peduli seperti daun meranggas
Kemudian terjatuh bersemayam di tanah negeri
Tunduk seraya mengulum senyum yang bias
Dengan peduli, santun selalu disandang
Demi seorang di penjuru daerah
Berkecimpung dunia tak lagi pasrah
Kami hatur dan terima atas nama kasih
Sepadan dengan nasib yang bawah ini
Mengepak aspirasi, tiada beringas mematok
jalan
Jalan-jalan berlubang, tak lagi sama satu
helaan
Napas semakin panjang
Bukan pecundang
Hanya saja, kita tegakkan keadilan!
Akan utuh merdeka dengan cita rasa memiliki
Selamat datang wakil daerah kami
Berundinglah atas nama kepahaman dan peduli
kami
Semoga sumbang tak lagi sumbing
Untuk mengutarakan debar di dada kami
Kiranya kami tabah memberi dan menerima kasih
Dari terbatas ruang yang tercurah dalam-dalam
Tolong..., kami ingin selama seperti ini
Hidup dan penghidupan sejalan dengan deru
napas panjang; kita.
Shofiyah
Probolinggo, 11 September 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
Subscribe to:
Comments (Atom)