Friday, October 11, 2019

Lepas

: kepada perempuan di bawah gersang

Tiada Subuh yang bicara
Nada yang bertalu, bungkam sementara
Jasad hanyalah penonton dengan delik di mata mereka
Pagi bertanya perihal ambyar; entah mengadu
Selepasnya, terkesiur dua di antara empat malam sirna
Hanya satu, Sayang!
Masihlah Ibu dengan suara paling gaduh, agar dirasa kecupan mampir di pipi kirinya
Dengan lebur,
Dengan suratan,
Dengan gubahan--antara padang pasir dengan lautan--menyatukan puing-puing penyesalan

Shofiyah
Probolinggo, 11 Oktober 2019  5.32 AM

Wednesday, October 9, 2019

Mengerang Namamu



Di puncak gunung Nun, kutemukan pepohonan rindang menua
Disapih gempita, barangkali darah pernah mengisi pori tanah di bawahnya
Dan akarnya membawa ke atas pangkal yang bernama ‘tumbuh’

Dengan gusar, kami meniadakan sengketa perihal sejahtera
Ada lumbung tak dapat selamat ketika peri berpijak angkuh
Di sana, nyawa-nyawa bertengger seram
Tahun berikutnya, ialah kasta melarat tersenyum lebih dulu

Sukma-sukma berhambur jauh, menyoyak tubuh--meninggalkan jiwa merana
Cerdik menguasai takhta paling mulia, katanya
Binar di matanya, berkerling duka manusia-manusia seperti kami
Dahulu cerita adalah embun, yang tetesnya dirindu jernih
Usai jajah pergi, merdeka sekuat baling-baling yang bertekuk di lutut sang surya
Singgasana sang saka, adalah pengabdian tanpa efek pandang apa setelahnya

Air mata yang jatuh dengan nama setia pada dunia--aku tak mengiba sebagai kami
Atas nama negeri tercinta

Biarlah, kuteguk haus yang bercampur haru kali ini!



Shofiyah

Kraksaan, 5 September 2019

Juara 1 lomba cipta puisi nasional OPMUA 2019

Tanpa Almanak




Sepotong kue bronis diletakkan di atas nakas, dekat dengan alat make-up yang isinya tak seberapa untuk mode belakangan ini. Paling tidak, yang tersisa dari kebisingan, ialah suara diam, tanpa mengutarakan maksud peduli dari hati. Hanya selembar hati saja yang mampu menggerakkan tangan agar sampai di tempat yang kuanggap berkasih; kamar.
“Hari ini Ibu pergi ke pasar ya?” kalimat itu biasa kudengar dari jam pagi sebelum Minggu beranjak ke sekolah.
“Setelah mandi, jangan lupa sarapannya.”
Lagi, dan lagi. Aku bukan anak kecil yang keseluruhan kegiatanku harus diperingati. Meski ia tahu betul kalau aku enggan sarapan pagi di meja makan, ia selalu membawakanku sepotong kue atau roti--apalah  saja yang mampu kujamah dengan baik. Tanpa ada embel-embel merengut dan sebagainya.
***
Hari ini, aku sengaja bangun siang dan malas pergi ke sekolah. Tiada yang memberiku komentar yang menyakitkan atau tidak sekalipun. Berjalan normal.
Kini, untuk pertama kali kulangsungkan sarapan pagiku di meja makan bersama Ayah dan kedua adikku.
Memang, tiada yang berbeda. Semangkok sup dan susu putih racikan perempuan di dapur, turut menghadirkan senyum terpaksaku padanya.
“Tidak nambah minumnya lagi, Neng?” katanya dengan lembut.
“Tidak!” kataku berhasil melengos.
Kulihat kanan dan kiriku, teman makan(?)
Ah, aku tak pernah punya teman makan, bukan? Selama ini, aku kan makannya selalu di kamar. Mana mungkin aku kehilangan teman di meja makan.
Aneh!
***
Aku kembali ke kamar, mendadak aku lapar lagi tatkala seorang perempuan duduk di depan nakasku dan dia menghabiskan seluruh roti milikku.
“Siapa kamu?”
“Aku? Aku adalah seorang yang selama ini menyimpan rindu pada sepiring roti di sini. Kau tak pernah menyentuhnya.”
“Bi...bi....” kataku melepas takut.

Shofiyah
 Kraksaan, 24 September 2019

Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"

Bukan Sebab



Tanda-tanda maklumat
Dieramkannya telur-telur milik pejabat
Agar kelak mewariskan sifat
Saling memberi dan berkirim surat
"Telurmu sudah sampai!"
Begitu kira-kira pada sebuah alamat

Pagi mendarat
Di pipi Ibu yang melarat
Nyala api tak kunjung habis melahap
Tengok samping kanan dan kiri rumah adalah setan tertangkap
Penjara sesak dengan maling sandal, bahkan beskap
Maskapai sudah landas secepat angin kilat
Di lumbung padi turut mencuat
Harga-harga terlanjur menyiksa besi jadi karat
Katanya, orang bermartabat
Tak mau kerja tanpa sekat
Ia peduli dengan lamat-lamat

Kali ini tamat
Sebuah riwayat
Mendulang khianat
Pemilu tersisa baiknya laknat
Yang menang dikata selamat
Yang kalah dirundung tak didaulat
Surat kabar mengabar hampir seperempat
Surau-surau menuang zikir--sempat
Bangku siswa dianyam kaset
Isinya setumpuk pelajaran yang akurat
Aset negara tak terlihat
Hanya saku-saku tangan konglomerat
Bermata malaikat
Dan senyum yang kalut

Maka, bukan sebab tapi akibat
Biar ditanggal muda kita terima selat
Agar luas tinggal yang menjadi tempat
Untuk kita berkomat-kamit
Menggamit ucap para leluhur berbudi mujur dan berbakat

Jayalah kaum yang angkat!

Shofiyah
 Probolinggo, 8 September 2019

Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"

Barisan Amanat




Kami dengar seluruh denyar
Pun jadi peduli seperti daun meranggas
Kemudian terjatuh bersemayam di tanah negeri
Tunduk seraya mengulum senyum yang bias

Dengan peduli, santun selalu disandang
Demi seorang di penjuru daerah
Berkecimpung dunia tak lagi pasrah

Kami hatur dan terima atas nama kasih
Sepadan dengan nasib yang bawah ini
Mengepak aspirasi, tiada beringas mematok jalan

Jalan-jalan berlubang, tak lagi sama satu helaan
Napas semakin panjang
Bukan pecundang
Hanya saja, kita tegakkan keadilan!

Akan utuh merdeka dengan cita rasa memiliki

Selamat datang wakil daerah kami
Berundinglah atas nama kepahaman dan peduli kami
Semoga sumbang tak lagi sumbing
Untuk mengutarakan debar di dada kami

Kiranya kami tabah memberi dan menerima kasih
Dari terbatas ruang yang tercurah dalam-dalam
Tolong..., kami ingin selama seperti ini

Hidup dan penghidupan sejalan dengan deru napas panjang; kita.

Shofiyah
 Probolinggo, 11 September 2019

Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"