Dieramkannya telur-telur milik pejabat
Agar kelak mewariskan sifat
Saling memberi dan berkirim surat
"Telurmu sudah sampai!"
Begitu kira-kira pada sebuah alamat
Pagi mendarat
Di pipi Ibu yang melarat
Nyala api tak kunjung habis melahap
Tengok samping kanan dan kiri rumah adalah
setan tertangkap
Penjara sesak dengan maling sandal, bahkan
beskap
Maskapai sudah landas secepat angin kilat
Di lumbung padi turut mencuat
Harga-harga terlanjur menyiksa besi jadi
karat
Katanya, orang bermartabat
Tak mau kerja tanpa sekat
Ia peduli dengan lamat-lamat
Kali ini tamat
Sebuah riwayat
Mendulang khianat
Pemilu tersisa baiknya laknat
Yang menang dikata selamat
Yang kalah dirundung tak didaulat
Surat kabar mengabar hampir seperempat
Surau-surau menuang zikir--sempat
Bangku siswa dianyam kaset
Isinya setumpuk pelajaran yang akurat
Aset negara tak terlihat
Hanya saku-saku tangan konglomerat
Bermata malaikat
Dan senyum yang kalut
Maka, bukan sebab tapi akibat
Biar ditanggal muda kita terima selat
Agar luas tinggal yang menjadi tempat
Untuk kita berkomat-kamit
Menggamit ucap para leluhur berbudi mujur dan
berbakat
Jayalah kaum yang angkat!
Shofiyah
Probolinggo, 8 September 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
No comments:
Post a Comment