Wednesday, October 9, 2019

Paradoks



Ketika Izrail lebih dulu melamar nyawamu, lantas kau akan berbuat apa, selain mencintai kedatangannya? Menerima dengan sepenuh hati bahwa tiada yang datang untuk menambah rundung nestapa atau menahanmu bahagia. Percayalah!

Dalam keadaan sadar ataupun setengah sadar, bahkan tidak sadar sekali pun, ketidakberpihakan sebagai manusia untuk menerima suratan takdir, tetap harus dijalani. Suka atau tidak suka, harus suka; karena ini tidak menyangkutpautkan antara kita dengan kesukaan kita, akan tetapi pada sebuah penerimaan. Iya, penerimaan--sesuatu yang selayaknya kita lepaskan--yang mewajibkan untuk tunduk kepadanya.
Bukan siapa yang pantas dan tidak pantas, tersebab kepantasanlah yang selalu menyanding orang-orang yang mau berkawan dengannya. Dan, apakah kau tahu penerimaan yang paling menyenangkan berwujud apa?
Pelepasan.
---
“Aku berusaha tegar untuk melepas kekasihku, An,” mata sembab Tyas kembali menerawang surat terakhir kepergian orang yang dicintainya.
“Setidaknya kau telah membayar lunas wasiat dia, Tyas.”
“Iya, kau benar. Aku sudah tidak lagi mengungkit kepergiannya yang hanya ditukar dengan selebar surat kematian itu. Namun, Andre, anak kami?”
“Tenang saja, dia akan mengepakkan sayap untuk kehidupanmu. Membawamu menjelajah langit dan menikmati tetaman yang dilukis di tempat kita berpijak. Bagaimana, apakah kau sanggup berpetualang dengannya?”
Tyas memberi senyum dan Ana membaca sorot mata Tyas dengan seksama. Ada kelinci yang berlari dalam bening mata itu, sangat lucu, hampir saja kalau dia mau, dia akan lakukan pemburuan liar. Ana bukan orang yang seperti kebanyakan. Dia terlalu naif untuk dikata kawan tanpa jasa.
Kemudian, keduanya sibuk merapikan kenangan masing-masing. Melipatnya dengan sungguh-sungguh, lantas memasukkannya dalam lemari yang barang sedetik pun tidak akan pernah ada orang lain yang membacanya, dan kalaupun ada, sudah pasti kunci lemari tersebut berhasil dibobol atau dirusak. Wah, pelanggaran kode keamanan namanya itu mah.
---
Maukah kuceritakan cara terbaik menerima sisi gelap dari kawan yang kita kenal?
Kegiatan membaca yang terbilang sukses besar akhir-akhir ini ialah hanya romansa menciptakan kedekatan dengan orang-orang sekitar. Entah akan menghasilkan simbiosis mutualisme atau malah parasitisme. Jangan heran, jika dalam satu ruangan semua orang berhasil dengan kesibukannya sendiri dan abai untuk menukar simpati di antaranya.
Ada banyak sekat di dunia ini yang belum dijamah keseluruhan oleh yang mentalkinkannya dengan pelan sekali pun. Karena pada dasarnya, manusia adalah hasil dari rahasia langit yang diturunkan kepada bumi, maka sepatutnyalah mereka menyimpan banyak rahasia untuk kehidupannya dan kebaikan sesama.
“Kenapa Andre selalu dikasih uang oleh mereka di waktu orang sibuk membawa tas belanjaannya, Bu?”
Sebagai Ibu yang baik, kau hanya menjawab, “Karena mereka ingin Andre menghabiskan uang mereka!”
“Apakah uang yang Ibu miliki tidak mau dihabiskan oleh Andre juga?”
Kau hanya tersenyum kecut menatap diri yang hampir kesemuanya adalah lelucon.
Kau seorang yang baik, diperkenalkan pada dunia yang baik, dipersilakan menikmati dunia dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, keadaan mencoba menguji kebaikanmu waktu itu. Apakah kau benar-benar baik saja?
Tidak perlu berdalih untuk membesarkan diri. Kau tidak punya nyali untuk berbangga diri, selain itu membesarkan hati adalah caramu menghargai kehidupan. Kau berencana menyiram kondisi sulit dengan air mendidih, lalu menguburkannya dalam-dalam. Ada kekuatan yang mencegahmu melakukan itu semua dan memilih berdamai dengan diam, tanpa berargumen yang sia-sia, tanpa berucap yang melenakan telinga yang mendengar, dan tanpa sudut pandangmu yang seakan-akan mau menghardik manusia lugu yang tak berdosa dengan kalimat, “Keparat kau!” Sungguh itu bukan kau.
Maka seperti itulah keadaanmu. Tidak mengesankan dan tidak menyebalkan. Tidak perlu banyak tingkah, yang kau pikirkan hanyalah perihal pertumbuhan dan perkembangan anakmu yang kini duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
---
“Andre sudah beli baju lebaran?”
“Nggak tuh, Ibuku tidak membelikannya untukku. Kemarin ada orang ke rumah ngasih baju sama uang.”
“Siapa dia?”
“Nggak tahu juga. Kata tetanggaku itu bagian dari acara bakti sosial orang kaya.”
“Wah hebat! Apa yang kamu lakukan sehingga mereka datang ke rumahmu?”
“Sama sepertimu. Pagi sekolah, sepulangnya aku bergegas main. Lalu, mengaji di sore hari.”
“Apa yang menjadi pembeda denganku ya?”
“Entah. Aku juga punya banyak amplop di rumah dan kesemuanya berisi uang. Kapan-kapan kubawa amplopnya untuk berkirim surat kalau kamu nggak masuk sekolah.”
“Aish. Kenapa tidak kau bawa saja uangnya, berbagi denganku?”
“Mana boleh?”
“Kenapa tidak?”
“Harus melaksanakan amanah.”
“Amanah siapa?”
“Emang Yogie tidak tahu? Setiap dari mereka datang ke rumah, lalu memberi bingkisan ataupun amplop-amplop itu, mereka selalu bilang, katanya, uangnya untuk Andre ya! beli makanan ataupun kebutuhan sekolah. Kasihan Ibu Andre kerja sendiri, jangan nakal. Buat Ibumu bangga kepadamu!” Andre menatap Yogie, lalu melanjutkan, “Jadi, tidak ada amanat dari beliau-beliau untuk sebagian uangku dibagi kepada teman-teman, termasuk Yogie.”
“Kenapa Ibumu sendiri? Ayahmu ke mana?”
“Kata Ibu sih Ayahku lebih dulu jalan-jalan ke surga, tapi entahlah aku tidak tahu tempatnya di mana. Lain kali aku tanyakan lebih lanjut ya.”
“Apa perlu Ayahku disuruh jalan-jalan dulu ke surga seperti Ayahmu agar aku dapat banyak uang sepertimu, Ndre?”
“Mungkin.”

Mereka sibuk memikirkan cara memperoleh uang dengan mudah.

Shofiyah
 Probolinggo, 14 April 2019

Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"

No comments:

Post a Comment