Ketika Izrail lebih dulu melamar nyawamu,
lantas kau akan berbuat apa, selain mencintai kedatangannya? Menerima dengan
sepenuh hati bahwa tiada yang datang untuk menambah rundung nestapa atau
menahanmu bahagia. Percayalah!
Dalam
keadaan sadar ataupun setengah sadar, bahkan tidak sadar sekali pun,
ketidakberpihakan sebagai manusia untuk menerima suratan takdir, tetap harus
dijalani. Suka atau tidak suka, harus suka; karena ini tidak menyangkutpautkan
antara kita dengan kesukaan kita, akan tetapi pada sebuah penerimaan. Iya, penerimaan--sesuatu
yang selayaknya kita lepaskan--yang mewajibkan untuk tunduk kepadanya.
Bukan siapa
yang pantas dan tidak pantas, tersebab kepantasanlah yang selalu menyanding
orang-orang yang mau berkawan dengannya. Dan, apakah kau tahu penerimaan yang paling
menyenangkan berwujud apa?
Pelepasan.
---
“Aku
berusaha tegar untuk melepas kekasihku, An,” mata sembab Tyas kembali
menerawang surat terakhir kepergian orang yang dicintainya.
“Setidaknya
kau telah membayar lunas wasiat dia, Tyas.”
“Iya, kau
benar. Aku sudah tidak lagi mengungkit kepergiannya yang hanya ditukar dengan
selebar surat kematian itu. Namun, Andre, anak kami?”
“Tenang
saja, dia akan mengepakkan sayap untuk kehidupanmu. Membawamu menjelajah langit
dan menikmati tetaman yang dilukis di tempat kita berpijak. Bagaimana, apakah
kau sanggup berpetualang dengannya?”
Tyas memberi
senyum dan Ana membaca sorot mata Tyas dengan seksama. Ada kelinci yang berlari
dalam bening mata itu, sangat lucu, hampir saja kalau dia mau, dia akan lakukan
pemburuan liar. Ana bukan orang yang seperti kebanyakan. Dia terlalu naif untuk
dikata kawan tanpa jasa.
Kemudian,
keduanya sibuk merapikan kenangan masing-masing. Melipatnya dengan
sungguh-sungguh, lantas memasukkannya dalam lemari yang barang sedetik pun
tidak akan pernah ada orang lain yang membacanya, dan kalaupun ada, sudah pasti
kunci lemari tersebut berhasil dibobol atau dirusak. Wah, pelanggaran kode
keamanan namanya itu mah.
---
Maukah kuceritakan cara terbaik menerima sisi
gelap dari kawan yang kita kenal?
Kegiatan
membaca yang terbilang sukses besar akhir-akhir ini ialah hanya romansa
menciptakan kedekatan dengan orang-orang sekitar. Entah akan menghasilkan
simbiosis mutualisme atau malah parasitisme. Jangan heran, jika dalam satu
ruangan semua orang berhasil dengan kesibukannya sendiri dan abai untuk menukar
simpati di antaranya.
Ada banyak
sekat di dunia ini yang belum dijamah keseluruhan oleh yang mentalkinkannya
dengan pelan sekali pun. Karena pada dasarnya, manusia adalah hasil dari
rahasia langit yang diturunkan kepada bumi, maka sepatutnyalah mereka menyimpan
banyak rahasia untuk kehidupannya dan kebaikan sesama.
“Kenapa
Andre selalu dikasih uang oleh mereka di waktu orang sibuk membawa tas
belanjaannya, Bu?”
Sebagai Ibu
yang baik, kau hanya menjawab, “Karena mereka ingin Andre menghabiskan uang
mereka!”
“Apakah uang
yang Ibu miliki tidak mau dihabiskan oleh Andre juga?”
Kau hanya
tersenyum kecut menatap diri yang hampir kesemuanya adalah lelucon.
Kau seorang
yang baik, diperkenalkan pada dunia yang baik, dipersilakan menikmati dunia
dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, keadaan mencoba menguji kebaikanmu waktu
itu. Apakah kau benar-benar baik saja?
Tidak perlu
berdalih untuk membesarkan diri. Kau tidak punya nyali untuk berbangga diri,
selain itu membesarkan hati adalah caramu menghargai kehidupan. Kau berencana
menyiram kondisi sulit dengan air mendidih, lalu menguburkannya dalam-dalam.
Ada kekuatan yang mencegahmu melakukan itu semua dan memilih berdamai dengan
diam, tanpa berargumen yang sia-sia, tanpa berucap yang melenakan telinga yang
mendengar, dan tanpa sudut pandangmu yang seakan-akan mau menghardik manusia
lugu yang tak berdosa dengan kalimat, “Keparat kau!” Sungguh itu bukan kau.
Maka seperti
itulah keadaanmu. Tidak mengesankan dan tidak menyebalkan. Tidak perlu banyak
tingkah, yang kau pikirkan hanyalah perihal pertumbuhan dan perkembangan anakmu
yang kini duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
---
“Andre sudah
beli baju lebaran?”
“Nggak tuh,
Ibuku tidak membelikannya untukku. Kemarin ada orang ke rumah ngasih baju sama
uang.”
“Siapa dia?”
“Nggak tahu
juga. Kata tetanggaku itu bagian dari acara bakti sosial orang kaya.”
“Wah hebat!
Apa yang kamu lakukan sehingga mereka datang ke rumahmu?”
“Sama
sepertimu. Pagi sekolah, sepulangnya aku bergegas main. Lalu, mengaji di sore
hari.”
“Apa yang
menjadi pembeda denganku ya?”
“Entah. Aku
juga punya banyak amplop di rumah dan kesemuanya berisi uang. Kapan-kapan
kubawa amplopnya untuk berkirim surat kalau kamu nggak masuk sekolah.”
“Aish.
Kenapa tidak kau bawa saja uangnya, berbagi denganku?”
“Mana
boleh?”
“Kenapa
tidak?”
“Harus
melaksanakan amanah.”
“Amanah
siapa?”
“Emang Yogie
tidak tahu? Setiap dari mereka datang ke rumah, lalu memberi bingkisan ataupun
amplop-amplop itu, mereka selalu bilang, katanya, uangnya untuk Andre ya! beli
makanan ataupun kebutuhan sekolah. Kasihan Ibu Andre kerja sendiri, jangan
nakal. Buat Ibumu bangga kepadamu!” Andre menatap Yogie, lalu melanjutkan,
“Jadi, tidak ada amanat dari beliau-beliau untuk sebagian uangku dibagi kepada
teman-teman, termasuk Yogie.”
“Kenapa
Ibumu sendiri? Ayahmu ke mana?”
“Kata Ibu
sih Ayahku lebih dulu jalan-jalan ke surga, tapi entahlah aku tidak tahu
tempatnya di mana. Lain kali aku tanyakan lebih lanjut ya.”
“Apa perlu
Ayahku disuruh jalan-jalan dulu ke surga seperti Ayahmu agar aku dapat banyak
uang sepertimu, Ndre?”
“Mungkin.”
Mereka sibuk memikirkan cara memperoleh uang
dengan mudah.
Shofiyah
Probolinggo,
14 April 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
No comments:
Post a Comment