Wednesday, October 9, 2019

Mengerang Namamu



Di puncak gunung Nun, kutemukan pepohonan rindang menua
Disapih gempita, barangkali darah pernah mengisi pori tanah di bawahnya
Dan akarnya membawa ke atas pangkal yang bernama ‘tumbuh’

Dengan gusar, kami meniadakan sengketa perihal sejahtera
Ada lumbung tak dapat selamat ketika peri berpijak angkuh
Di sana, nyawa-nyawa bertengger seram
Tahun berikutnya, ialah kasta melarat tersenyum lebih dulu

Sukma-sukma berhambur jauh, menyoyak tubuh--meninggalkan jiwa merana
Cerdik menguasai takhta paling mulia, katanya
Binar di matanya, berkerling duka manusia-manusia seperti kami
Dahulu cerita adalah embun, yang tetesnya dirindu jernih
Usai jajah pergi, merdeka sekuat baling-baling yang bertekuk di lutut sang surya
Singgasana sang saka, adalah pengabdian tanpa efek pandang apa setelahnya

Air mata yang jatuh dengan nama setia pada dunia--aku tak mengiba sebagai kami
Atas nama negeri tercinta

Biarlah, kuteguk haus yang bercampur haru kali ini!



Shofiyah

Kraksaan, 5 September 2019

Juara 1 lomba cipta puisi nasional OPMUA 2019

No comments:

Post a Comment