Di
puncak gunung Nun, kutemukan pepohonan rindang menua
Disapih
gempita, barangkali darah pernah mengisi pori tanah di bawahnya
Dan
akarnya membawa ke atas pangkal yang bernama ‘tumbuh’
Dengan
gusar, kami meniadakan sengketa perihal sejahtera
Ada
lumbung tak dapat selamat ketika peri berpijak angkuh
Di
sana, nyawa-nyawa bertengger seram
Tahun
berikutnya, ialah kasta melarat tersenyum lebih dulu
Sukma-sukma
berhambur jauh, menyoyak tubuh--meninggalkan jiwa merana
Cerdik
menguasai takhta paling mulia, katanya
Binar
di matanya, berkerling duka manusia-manusia seperti kami
Dahulu
cerita adalah embun, yang tetesnya dirindu jernih
Usai
jajah pergi, merdeka sekuat baling-baling yang bertekuk di lutut sang surya
Singgasana
sang saka, adalah pengabdian tanpa efek pandang apa setelahnya
Air
mata yang jatuh dengan nama setia pada dunia--aku tak mengiba sebagai kami
Atas
nama negeri tercinta
Biarlah,
kuteguk haus yang bercampur haru kali ini!
Shofiyah
Kraksaan, 5 September 2019
Juara 1 lomba cipta puisi nasional OPMUA 2019
No comments:
Post a Comment