: kepada perempuan di bawah gersang
Tiada Subuh yang bicara
Nada yang bertalu, bungkam sementara
Jasad hanyalah penonton dengan delik di mata mereka
Pagi bertanya perihal ambyar; entah mengadu
Selepasnya, terkesiur dua di antara empat malam sirna
Hanya satu, Sayang!
Masihlah Ibu dengan suara paling gaduh, agar dirasa kecupan mampir di pipi kirinya
Dengan lebur,
Dengan suratan,
Dengan gubahan--antara padang pasir dengan lautan--menyatukan puing-puing penyesalan
Shofiyah
Probolinggo, 11 Oktober 2019 5.32 AM
No comments:
Post a Comment