Wednesday, October 9, 2019

Tanpa Almanak




Sepotong kue bronis diletakkan di atas nakas, dekat dengan alat make-up yang isinya tak seberapa untuk mode belakangan ini. Paling tidak, yang tersisa dari kebisingan, ialah suara diam, tanpa mengutarakan maksud peduli dari hati. Hanya selembar hati saja yang mampu menggerakkan tangan agar sampai di tempat yang kuanggap berkasih; kamar.
“Hari ini Ibu pergi ke pasar ya?” kalimat itu biasa kudengar dari jam pagi sebelum Minggu beranjak ke sekolah.
“Setelah mandi, jangan lupa sarapannya.”
Lagi, dan lagi. Aku bukan anak kecil yang keseluruhan kegiatanku harus diperingati. Meski ia tahu betul kalau aku enggan sarapan pagi di meja makan, ia selalu membawakanku sepotong kue atau roti--apalah  saja yang mampu kujamah dengan baik. Tanpa ada embel-embel merengut dan sebagainya.
***
Hari ini, aku sengaja bangun siang dan malas pergi ke sekolah. Tiada yang memberiku komentar yang menyakitkan atau tidak sekalipun. Berjalan normal.
Kini, untuk pertama kali kulangsungkan sarapan pagiku di meja makan bersama Ayah dan kedua adikku.
Memang, tiada yang berbeda. Semangkok sup dan susu putih racikan perempuan di dapur, turut menghadirkan senyum terpaksaku padanya.
“Tidak nambah minumnya lagi, Neng?” katanya dengan lembut.
“Tidak!” kataku berhasil melengos.
Kulihat kanan dan kiriku, teman makan(?)
Ah, aku tak pernah punya teman makan, bukan? Selama ini, aku kan makannya selalu di kamar. Mana mungkin aku kehilangan teman di meja makan.
Aneh!
***
Aku kembali ke kamar, mendadak aku lapar lagi tatkala seorang perempuan duduk di depan nakasku dan dia menghabiskan seluruh roti milikku.
“Siapa kamu?”
“Aku? Aku adalah seorang yang selama ini menyimpan rindu pada sepiring roti di sini. Kau tak pernah menyentuhnya.”
“Bi...bi....” kataku melepas takut.

Shofiyah
 Kraksaan, 24 September 2019

Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"

No comments:

Post a Comment