Sepotong kue bronis diletakkan di atas nakas, dekat dengan
alat make-up yang isinya tak seberapa
untuk mode belakangan ini. Paling
tidak, yang tersisa dari kebisingan, ialah suara diam, tanpa mengutarakan
maksud peduli dari hati. Hanya selembar hati
saja yang mampu menggerakkan tangan agar sampai di tempat yang kuanggap
berkasih; kamar.
“Hari ini Ibu pergi ke pasar ya?” kalimat itu biasa kudengar
dari jam pagi sebelum Minggu beranjak ke sekolah.
“Setelah mandi, jangan lupa sarapannya.”
Lagi, dan lagi. Aku bukan anak kecil yang keseluruhan
kegiatanku harus diperingati. Meski ia tahu betul kalau aku enggan sarapan pagi
di meja makan, ia selalu membawakanku sepotong kue atau roti--apalah saja yang mampu kujamah dengan baik. Tanpa
ada embel-embel merengut dan sebagainya.
***
Hari ini, aku sengaja bangun siang dan malas pergi ke
sekolah. Tiada yang memberiku komentar yang menyakitkan atau tidak sekalipun.
Berjalan normal.
Kini, untuk pertama kali kulangsungkan sarapan pagiku di
meja makan bersama Ayah dan kedua adikku.
Memang, tiada yang berbeda. Semangkok sup dan susu putih
racikan perempuan di dapur, turut menghadirkan senyum terpaksaku padanya.
“Tidak nambah minumnya lagi, Neng?” katanya dengan lembut.
“Tidak!” kataku berhasil melengos.
Kulihat kanan dan kiriku, teman makan(?)
Ah, aku tak pernah punya teman makan, bukan? Selama ini, aku
kan makannya selalu di kamar. Mana mungkin aku kehilangan teman di meja makan.
Aneh!
***
Aku kembali ke kamar, mendadak aku lapar lagi tatkala
seorang perempuan duduk di depan nakasku dan dia menghabiskan seluruh roti
milikku.
“Siapa kamu?”
“Aku? Aku adalah seorang yang selama ini menyimpan rindu
pada sepiring roti di sini. Kau tak pernah menyentuhnya.”
“Bi...bi....” kataku melepas takut.
Shofiyah
Kraksaan, 24 September 2019
Diterbitkan dalam buku "Bait-Bait Hati"
No comments:
Post a Comment