Saturday, June 29, 2019

Suatu Kejelasan dari Altar Keraguan


Hendak kau bertanya apa, selain catatan kaki dari lembar yang telah kaubaca nampak lengkap? Bilakah yang cacat ialah selarik atau hanya sekata yang mestinya tidak bermakna banyak, atau barangkali kau uji keresahan ini dengan caramu? Tenang saja, tiada pecundang yang akan kukirim sebagai mata-mata untuk mencari keberadaanmu. Lantas, ia akan kupetakan wajahmu samar-samar sehingga yang tergambar hanyalah abstrak.

Kau sempat menjadi tawanan, penghuni, pengatur untuk hati yang terluka. Pernah pula menjadi bagian dari tradisi yang dilestarikan, yaitu memikirkanmu. Namun, ketika kau tahu, itulah sia-sia adanya. Meski katamu tiada yang sia-sia di dunia ini. Benarkah?

Selama aku di tanah yang warnanya masih gelap, belum ada warna merah untuk dijadikan tempayan agar ia nantinya kuisi dengan air jernih, lalu kulihat bayangmu di situ. Tidak akan pernah! Kusampaikan pesan dari penjuru senja, katanya Mungkinkah kau akan menyukainya kembali? Seperti dua tahun terakhir kau habiskan seperdelapan waktumu hanya untuk menantinya.

Kita tidak bicara soal kemungkinan lagi. Bisakah tentang 'kepastian'?

Tak apa, kau tak usah ragu untuk tidak menjawab. Kebungkamanmu adalah sebuah jawab atas pertanyaan yang kububuhkan harapan getir kala itu.

Aku menemukan kehidupan setelah hujan; Aku menemukan rangkaian kata indah untuk mengungkap terima kasih; Aku menemukan jejak kepulangan yang lebih berarti; Aku menemukan siluet penari kehidupan yang cerdik berkat kehebatan yang sempat kau tularkan; Aku menemukan alam yang mampu kulukis dengan anak kalimat; dan aku menemukanmu yang hidup lagi dari kehidupanku.

"Berapa harga sekantong masa lalu?" katamu bertanya pada awan di atas.

Aku tersipu dengan gurauan yang ala kadarnya. Ingin kujawab padamu, "Masa lalu tidak dapat diharga! Ia akan selalu mengikutimu, karena tidak berharga di masa mana pun."

Aku pun cemburu karena belum sempat kukata, kau telah menerima jawaban lain yang lebih menyakitkan.

Kau percaya bahwa masa lalumu lebih indah menjadi amnesia.

Shofiyah
Probolinggo, 25 Januari 2019

Friday, June 28, 2019

71 Penghuni Terakhir di Bumi


Kelak kita akan dikembalikan ke suatu tempat sebagaimana mestinya. Upaya yang dilakukan ahli pun tak cukup untuk meyelamatkan dirinya sendiri, terlebih orang lain. Pada akhirnya menjadi sia-sia belaka. Tiada titisan kehidupan yang disebut dengan ‘karma’ atau balasan seketika di dunia, ia akan dipersaksikan di singgasanaNya. Bukan itu, ini soal manusia-manusia yang berspekulasi dengan menamatkan kesangsiannya menjadi manusia seutuhnya. Tentang manusia yang terkadang menyalahi kodratnya sebagai pemegang tampuk kehidupan sekaligus penyederhana yang merencanakan keberlangsungan kehidupan meski hanyalah perihal waktu menunggu kembali.
Mereka telah lama berada di atas daratan yang kesemuanya adalah pemandangan. Menikmati, mengendalikan, menguasai, memimpin, menguras, memberi, serta menjalin hubungan keakraban dengan penduduk bumi lainnya. Pemandangan alam tersebut seperti gunung yang menjuntaikan pohon-pohon tinggi di samping menyerasikan dengan yang rendah. Sawah yang menghampar hijau ketika musim tanam, merekahkan senyum yang sempat disimpan ketika gagal bercerita bagi mereka, si penguasa sepetak tanah pertanian. Kehidupan yang gemericiknya membawa arus modernitas, bukan hanya pada remaja, akan tetapi terhadap kalangan banyak. Tetangga yang ditemui pada via jaringan online mengalahkan siapa yang berada di sisi tanpa kompromi soal tradisi. Kadang menggelikan, tetapi seru untuk diceritakan melalui tutur. Itulah daratan! Tempat menemukan kepekaan terhadap sesuatu yang menjadi cikal bakal beradaptasi.
Bumi tidaklah selamanya menyebut dirinya sebagai bumi seperti sebelumnya. Suatu hari, tepatnya ketika sebagian besar desa tidak menyebut dirinya sumber kehidupan, beras pun menjadi mangsa yang diburu pangsa pasar. Sementara, produsen enggan menitikberatkan penawarannya terhadap permintaan. Maka, peran kelangkaan adalah teman menikmati secangkir teh hangat di sela senja. Bumi sesekali akan sedikit meratap nasib yang tidak pernah dimintanya. Maukah kuceritakah sebuah perairan dengan kebiasaan kehidupan yang baru dikutip dari masa lalu sebelum percobaan bumi berakhir?
Sejak abad ke negatif dua puluh satu, tentu manusia bukanlah seperti yang sekarang kita jumpai. Mereka banyak menjadi ahli untuk menjalin kerjasama. Kemampuan untuk berspekulasi tentang kehidupan yang tidak akan berjalan sebelum adalah sanak tetangga, ialah benar adanya. Hidup bersebelah sisi kanan dan kiri dengan kebahagiaan, melupakan kecemasan, bahkan mereka tidak pernah mengenal sisi lain dari kebaikan manusia lainnya. Kehidupan seperti itulah membuat dunia terkontrol dari keterasingan dan kemelaratan. Kehidupan yang banyak memperoleh pengakuan penafsiran tentang ketenangan.
Karena posisi bumi menjadi trending topic yang dibicarakan sisi positifnya oleh planet lain, suatu kali planet yang bernama pluto—bahkan sampai sekarang keberadaannya lebih dulu lenyap daripada bumi—menawarkan sebuah argumen yang sama sekali tidak menarik untuk disimak.
“Bumi akan terbelah menjadi dua bagian yang luasnya lebih banyak perairannya daripada daratan. Lama-kelamaan bumi akan terkikis oleh zaman dan jadilah ia sebagai budak dari keserakahan,” Pluto melantangkan argumennya tanpa memberi celah bagi planet lain untuk menyanggah. “Kau akan kehilangan daya keseimbanganmu, Bumi!” katanya smbil tertawa dan setelah itu dia menghilang dari daftar nama planet.
Planet lain sama sekali tidak menyalahkan pluto ataupun bumi. Mereka menganggap semua berjalan sesuai kodratnya sendiri. Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk perkataan pluto terhadap bumi. Mereka pun enggan mengusik ketenangan bumi dengan alasan pertemanan katanya. Mereka tidak pernah mengancam ataupun merasa terancam dengan hal lain yang mengganggu peta kehidupannya. Banyak asumsi yang beredar ketika itu bahwa semesta akan menemukan keserasiannya terkait hal itu dan semua benar adanya.
Suatu saat kita sebagai manusia katanya, akan mengalami sesuatu sebagaimana yang pernah terjadi sebelum bumi tercipta. Sebuah teori mengatakan, bumi tercipta karena ada rumus ‘ledakan besar’ atau orang asing menyebutnya, big bang theory. Ketika bumi sudah tua, daratan tidak dapat menampung miliaran makhluk di dalamnya, maka terjadilah sistem seleksi. Manusia diperbolehkan hidup untuk mencari kesempatan kedua setelah makhluk lainnya punah, habitatnya morat-marit, ekosistem tidak berjalan normal, dan banyak pelanggaran-pelanggaran yang justru diciptakan sendiri oleh manusia-manusia yang gila dengan kehidupan abstrak. Manusia-manusia tersebut rela menghatamkan kesabarannya dan menggantikan keegoisan demi diperbudak zaman.
Penyeleksian terhadap manusia berlangsung lama, ditargetkan akan selesai dalam 3.600 detik pendeteksian. Mula-mula daratan menyempit, manusia merasa sesak, dan makhluk hidup lainnya pun secara bergantian meninggalkan nyawa mereka sampai benar-benar habis. Manusia akan mengalami sesak napas selama periode tersebut. Semakin menyusutnya luas daratan, sampai akhirnya tinggal setitik, lalu hilang seperti debu beterbangan. Manusia telah digiring menuju perairan yang bernama lautan dengan bantuan kebaikan yang mereka perbuat sebelumnya. Mereka berlayar menuju sebuah kota yang terletak di tengah lautan.
Perjalanan cukup melelahkan, tersebab bagi mereka sebagian besar mengalami goncangan karena hantaman badai. Ada sebagian kecil manusia mengalami perjalanan yang santai. Perjalanan yang sepatutnya tidak pernah ditunggu kehadiranya karena banyak mengandung rahasia di dalamnya. Setelah semua pelayanan sampai di Kota Man, kota dengan nuansa biru sepadan dengan warna langit ketika berbicara kebahagiaan. Mereka mencoba mengenali tempat itu secara perlahan. Seketika goncangan dahsyat terjadi membuyarkan kekepoan mereka yang dipaksakan berhenti.
“Hanya ada 71 manusia yang berhak tetap tinggal di sini, menjadi penghuni terakhir.” Kalimat yang ditulis dengan huruf pallawa memaksa mereka menunaikan kewajibannya.
Bagi mereka yang kebaikannya diperjualbelikan di muka umum, jadilah tidak berarti ketika itu. Mereka yang dulunya sama sekali tidak sempat menyembah Tuhan yang diakuinya, tiba-tiba ada rasa ingin mengenalnya lebih dalam, tapi terlanjur dilumpuhkan dengan keadaan. Mereka yang dulunya enggan bersimpati dengan sesama, ketika itu akan mencari pertolongan, tapi tiada seorang pun yang melakukannya. Mereka sendiri, bertahan atau terhempas dari Kota Man.
Harapan terbaca jelas di langit-langit ingatan. Hidupkan aku setelah ini. Tiada yang benar-benar tahu tentang nasibnya sendiri, terlebih memilihkan sesiapa yang berhak tinggaldi Kota Man, hanya alam yang mampu melakukannya. Pluto tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Ia serius mengatakannya ketika itu. Daratan yang ada di bumi telah lenyap dan digantikan dengan lautan yang penuh dengan linangan harapan ingin hidup di sana. Sejauh apa pun pluto berada sekarang, ia seperti daratan bum yang lenyap. Kepergiannya meninggalkan apa yang masih ada, tanpa perjanjian suatu waktu akan kebali pulang.
Selang beberapa detik setelahnya, yang tersisa hanya yang namanya telah terdaftar sebagai anggota pelindung keabadian kebaikan bumi dan seisinya. Itulah balasan yang setimpal dengan yang dilakukan manusia di masa silam. Bumi dan planet lain tidak perlu penghuni yang merasa dirinya paling diprioritaskan untuk menjadi penghuni sesungguhnya. Manusia yang terbebas dari jerat hukum alam dan menuntaskan perjalanan selanjutnya. Sedangkan manusia yang terseleksi, kisahnya hilang tanpa ada catatan kaki di benak ke-71 manusia penghuni Kota Man. Mereka adalah kaum liberal yang taat kepada penguasa tanpa menaruh curiga. Bumi akan baik-baik saja!

Shofiyah
Probolinggo, 2 Maret 2019

Rindu yang Tak Kubenarkan



Mampirlah kemari, Kawan!
Sejenak saja
Lihatlah meja makan yang penuh lauk pauk kerinduan
Kusediakan sebakul nasi, lengkap dengan keheningan senja
Mungkin kau mau kusuapi?
Atau kuambilkan secangkir teh aroma kisah masa lalu?
Atau apa?
Kau tak suka dengan jamuan yang kusediakan sedari pagi hingga menjelang sore ini?
Ah, barangkali aku salah mengundangmu ke sini
Kau tak punya rindu lagi pada hidanganku
Ada yang salah dengan anggapanku?

Kawan!
Rindu adalah hidangan yang kugelar di atas piring makan
Beraneka racikan masakan yang ingin aku santap bersamamu
Dan, ternyata hidangan ini hanya untukku seorang
Bukan kau!
Jadi, hidangan adalah rupa rinduku padamu
Yang tak pernah kau rindukan 

Shofiyah
Jember, 13 Oktober 2017

Berpulang Bagaimana?




Berpulang Bagaimana


Jika aku menjadi matamu, mungkin akan kusemat segala tempat
kata orang gila yang terlarang
agar kelak kau menggamit peribahasa dunia tanpa meniadakan ambigu.

Jika aku menjadi matamu, 'kan kualihkan mata-mata yang berusaha memata-matai mata kita--aku dan sebelahnya lagi kamu--agar tidak tertukar dengan mata mereka.

Jika aku menjadi matamu yang utuh, sengaja 'kan kuperlihatkan potret masa depan tanpa pernik kelam yang bernafsu merenggut suasana mata hati.

Jika aku menjadi matamu, maka beginilah hidup dengan mata yang kita tutupi, lupa mengeja dan belajar menahan cara berpulang yang paling tepat, selain menuang cawan ketenaran.

Jika aku menjadi matamu, yang keberadaannya menawar untuk sendiri.


Shofiyah
Probolinggo, 15 April 2019

Biarkan Aku Gila!


 

Biarkan Aku Gila!
Shofiyah

Kehidupan adalah rahasia bagi yang menjaga. Kehidupan adalah seni menciptakan cerita yang kelak akan tertuang pada masing-masing sudut yang memiliki space untuk mengenang. Kehidupan adalah simbol bahwa yang kata sandinya tak dapat diterka walau punya seribu alasan untuk memutarkan. Kehidupan adalah ragam bola mata yang tembusannya belum tentu diterima oleh narasi kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah kamu dengan segala macam bentuk perubahan.
Tidak semua kehidupan dijalani oleh seorang diri, melainkan dengan ia yang bernama kawan. Entah itu kawan hanya di dunia buaian atau dunia tempat ragamu bertaut.
“Memasuki kehidupan orang lain tidak mudah, ya? Termasuk kehidupannya! Mungkin karena aku yang belum dapat menyinggung ruang kosong itu, atau malah dia sendiri yang membatasi suatu perkara dengan penyelidikan yang strategis terlebih dahulu. Aku menjadi asing meski beberapa waktu sempat bersamanya,” ucap Reno sambil memainkan sendok di atas piring usai menyantap menu makan siang.
“Kalau begitu, masih akan kau coba mendekatinya lagi?”
“Untuk apa? Tidak!” Tatapannya kosong tertuju pada sudut meja.
“Lalu kenapa kata ‘tidak’ katamu meragukan?”
“Aku tidak mengerti. Maksudmu?” Dia memicingkan mata.
“Kau seolah masih akan mendekati dia, hanya saja kau bingung memutar otak untuk menemukan cara. Aku selalu saja bisa membaca pikiranmu yang terkadang konyol itu, Ren!”
Kami berdua tidak melanjutkan sepatah kata pun. Sibuk dengan kesalahan tafsir pada masing-masing hati.
***
Hartini, seorang perempuan berusia 27 tahun, yang katanya kurang waras. Dalam keadaan tenang dia dapat diajak berbicara. Namun, ketika emosinya sedikit terganggu, jangan harap dia memberikan anggukan, mendengar suara saja, dia ketakutan bukan main, seperti dikejar anjing galak. Wajahnya akan dilukai habis-habisan. Lalu mendekam di pojok ruangan sambil menutupi kedua telinga. Berapa banyak pria Kampung Mandalingan yang rela menanti di usia mudanya dulu untuk memperoleh jawaban ‘iya’ atas lamaran yang diajukan. Semua hanyalah nihil yang diperoleh. Tidak banyak yang dapat dikatakan dengan pasti oleh para pria yang menanti. Kini, masing-masing di antara mereka sudah ada yang berkeluarga, sebagian sempat berkeluarga tetapi di tengah perjalanan pelayaran, pasangan tersebut menemukan karam di lautan. Ada juga yang karena frustasi dengan penolakan tersebut malah hijrah ke kota sembarang demi menemukan sosok Hartini yang lain, kali aja masih ada.
Mugkin mereka akan berucap syukur tatkala mendengar bahwa Hartini kini menderita ‘gila’ karena kecantikannya sendiri. Dia menjadi bulan-bulanan pada usia yang belum memasrahkan dirinya sebagai pasangan hidup orang lain. Sempat dia menjadi ‘bulan’ yang bertengger di beberapa pasang mata pria yang sekejap melihat. Binar matanya menjadi anggun ketika tak sembarang orang boleh menikmatinya lebih dalam. Senyum yang sering dilontarkan bukan untuk menggoda atau merampas pria lain yang telah memiliki tulang rusuk. Dia ibarat purnama yang dinanti sekali dalam sebulan.
Mungkinkah ada pria yang sampai hati menjadikan wanita itu gila?

***

Aku yakin, kau tidak akan percaya dengan  penuturan yang pernah disinggung oleh Romo Udin, seorang kepala keluarga yang merangkap sebagai kepala suku adat kampung. Romo merupakan julukan yang diberikan oleh penduduk ketika beliau berhasil menemukan sumber kehidupan, yaitu air dari sumber yang keadaannya mengalir sepanjang masa. Petunjuk menemukan mata air tersebut berasal dari hasil tirakatnya selama 41 hari 7 jam 21 menit tanpa makanan dan minuman cepat saji (bungkusan) yang dikonsumsinya. Dalam tirakatnya tersebut, beliau tidak boleh menentang. Boleh makan, asalkan dimasak sendiri di atas tungku yang terbuat dari tanah liat.
Berdasarkan kasak-kusuk yang beredar dan dibuktikan dengan ucapan ‘benar’ dari Romo Udin, aku pun mempercaiyanya, setelah itu mulai melupakan agar kepedihan yang dialami Hartini tidak semakin pedih dengan menyedikitkan orang-orang yang diam tentang dia. Melihat teman makanku, Reno yang saat ini belum dapat berdamai dengan penolakan Hartini terhadapnya, maka kuberanikan diri menyambung cerita yang dulu pernah ditulis oleh mereka. Sekarang aku akan membuat ending dari cerita yang belum sepenuhnya utuh tersebut.

***
Begini ceritanya...
Pada bulan yang belum sepenuhnya bulat, tertanda bukan purnama. Purnama pada bulan itu masih kurang dua malam lagi. Penghuni Kampung Mandalingan adalah penghuni terpadat di kecamatan yang letaknya di bawah lereng Gunung Bromo. Para penduduk di sana biasanya setiap sore berkumpul untuk mendiskusikan menu makanan untuk esok hari. Inilah kekhasan penduduk tersebut. Semua hasil kerja keras para suami, tanpa ditakar serupiah pun, akan masuk ke dompet sang istri. Begitu juga setelah para istri merapikan badan, mereka melanjutkan kegiatan dengan berkumpul bersama para wanita lain dengan membawa dompet berisi rupiah tersebut.
Di dalam saung, yang letaknya di center perkampungan yang menjadi titik kumpul paling strategis. Biasanya dalam acara tersebut, para wanita diperbolehkan membawa buah hatinya walau hanya sekadar mengajak bermain dengan anak dari perempuan lain yang usianya tidak terpaut jauh. Kemudian, mereka akan menjadikan satu masing-masing rupiah yang telah mereka bawa. Dari hasil tersebut akan dihitung untuk keperluan makan seluruh kampung. Boleh jadi menu yang dihidangkan adalah makanan dengan gizi tinggi, seperti: ikan, telur, dan daging. Pernah pula mereka memasak menu ala orang Arab, nasi kebuli dengan daging kambing yang dimasak dengan bumbu segar hasil tanaman dari ladang per rumah. Ada kalanya mereka hanya makan dengan lauk seadanya, kerupuk atau sekelumit garam karena hasil kerja para suami mereka hanyalah cucuran peluh tanpa rupiah yang berpeluang dibawa pulang. Semua orang bersukacita, termasuk wanita yang keelokannya digandrungi—Hartini.
Waktu itu, Jaka adalah seorang lelaki yang keberadaannya bersama Ibu dan seorang adik berusia lima tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah, letaknya lima rumah dari rumah Hartini. Pada Januari tahun 2014, dia baru tiga bulan kembali dari Balik Papan demi menunaikan kewajiban sebagai wajib militer. Karena tidak ada batas negara yang perlu dijaga lagi, dia kembali dengan alasan menyenangkan ibunya usai sang ayah dinyatakan meninggal dunia di dalam surat kematian yang bertanda jempol dari Romo Udin. Jaka adalah lelaki ulet yang rajin bekerja. Dia lelaki pertama di kampung itu yang tidak meminang Hartini, walaupun banyak lelaki lain yang berbondong-bondong mengambil hatinya.
Hingga di suatu hari kalau tidak salah, Senin Legi. Seperti namanya, hari tersebut adalah hari yang manis, sama seperti kata orang-orang. Hari yang kedatangannya membawa keberkahan bagi semua orang, Hartini khususnya. Dia hendak mengantar uang milik amaknya kepada ibunya Jaka, karena hari itu amak sakit, sementara Hartini harus merawat dan menjaganya. Ibu-ibu yang kebetulan rumahnya berada di samping kanan dan kiri telah berangkat lebih dulu ke acara yang disebut rapat harian. Hanya Bu Ijah-lah, ibunya Jaka, yang biasanya berangkat paling akhir karena menanti kepulangan Jaka dari sawah.
Singkat cerita, sesampai di rumah Jaka, jejak Bu Ijah tidak ditemukan di rumah. Hartini mengetuk pintu yang sebelumnya memang dalam keadaan terbuka. Berulang kali dia mengetuk, tetapi tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Hartini hendak masuk, tetapi dia memilih mengikuti aturan main tata krama tentang adab bertamu, tidak membiasakan diri masuk rumah tanpa salam dan tidak memasukinya sebelum si pemilik mempersilakan. Hartini sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Jaka, walaupun sebagai tetangga yang kabarnya sudah diketahui sejak beberapa bulan belakangan. Dia menganggap, mungkin saja Bayu, anak Bu Ijah yang kecil sedang asyik bermain layangan, mengingat sedari perjalanan menuju rumah Bu Ijah ditemukan beberapa anak berseliweran membawa layangan dan uluran benang yang sewaktu-waktu dapat melilit kaki pejalan kaki.
“Bu Ijah ke mana, ya?” tanyanya seorang diri.
Jelas tidak ada jawaban. Rumah tersebut kosong.
Maka duduklah Hartini di kursi bambu yang berada di teras rumah Bu Ijah. Selang beberapa menit, muncullah suara dari dalam rumah.
Brak.
Sekardus berisi baju dan perabotan rumah terjatuh dari pangkuan Jaka. Dia membawa tiga kardus yang ditata hingga menghalangi cara pandangnya, sehingga ketika melewati gorden yang memisahkan antara ruang tengah dan ruang tamu, jadilah kardus tersebut jatuh. Hartini kaget disertai sedikit bertanya, siapakah yang ada di dalam rumah?
Dia memberanikan diri berkata, “Siapa?”
Wajah Jaka tersulur di balik pintu.
“Ada yang dapat kubantu?”
“Kamu siapa?”
“Justru saya yang harus bertanya, siapa kamu dan ada perlu apa datang ke rumahku?”
Tempias rasa malu hadir pada wajah Hartini. Wajahnya memerah seperti kepiting direbus. Dia menempatkan posisi apa adanya tanpa sedikit pun berusaha mengambil hati Jaka.
Sejak hari itu, mereka cepat akur. Hubungan mereka laiknya kawan lama yang baru dipertemukan kembali. Tercium desiran gosip yang diberitakan miring tentang kedekatan mereka berdua. Penduduk kampung menamainya dengan ‘hubungan tanpa ikatan’ dan isu tersebut terdengar kepada Romo Udin. Beliau meminta Jaka untuk melangsungkan pernikahan dengan Hartini jika dia mimiliki maksud menjadikan sisa bahagianya dengan Hartini. Namun, Jaka menolak.
“Tidak ada yang perlu dipertegas atau diikat atau apa pun namanya itu. Aku? Cinta kepada Hartini? Bukan tidak mungkin, tapi untuk saat ini aku belum cinta padanya. Apalah jadinya jika kami menikah? Kalian jangan mengada-adakan perasaan yang memang belum ada. Dan mengenai ‘hubungan tanpa ikatan’. Hubungan apa yang kalian maksud? Bukankah semua manusia memiliki hubungan dengan manusia lain –dengan hewan, tumbuhan, sekalipun? Apakah hubungan di antara mereka diikat? Tidak ‘kan? Mereka biasa saja, hidup ya hidup. Hubungan ya hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Aih, aku kurang suka dengan karangan kalian menyebar isu tidak jelas itu. Seharusnya kalian bertanya kepadaku atau kepada Hartini terlebih dahulu tentang kabar apa yang akan dimuat di bibir masyarakat. Begitu!”
Sejak saat itu, hati Hartini merasa dikuliti mentah-mentah. Dia membenarkan semua perkataan Jaka. Namun, satu hal yang tidak mudah dia akui, ketidaktahuannya bahwa seharusnya dia tidak menginginkan Jaka sebagai teman hidup, melainkan tetangga yang boleh berteman dalam urusan menyejahterakan kampung mereka.
Hartini sering berpikir, tapi isi pikirannya adalah kosong. Dia hanya bisa merangkai nama Jaka di dalam kepala. Tidak banyak orang tahu bahwa dia sebetulnya telah kelewat stres, bahkan belakangan divonis gila oleh yang katanya dokter jiwa. Keberadaannya akhir-akhir ini sering sendiri. Seringkali dia melempar batu di sungai yang letaknya sekitar 30 meter berada di sebelah barat rumahnya. Dia menemukan kehidupan dari kematian. Batu yang semula dilempar ke sungai, dia rasa telah menjelma sepasang nama di sana, ialah Jaka dan Hartini.
Lambat laun, Jaka hidup dengan biasanya. Sementara Hartini merantau ke sebuah rumah sakit. Jiwanya lebih hangat di sana. Banyak penduduk yang berdatangan untuk menjenguk pada awal mulanya, tetapi lama-kelamaan banyak orang yang melupakan. Jaka pun mungkin telah melupakan juga.
Si penggenggam rasa adalah Dia. Yang memberikan keberanian untuk memiliki rasa adalah Dia. Yang melabuhkan rasa adalah Dia. Lalu, di mana letak peran antara aku dan kamu untuk urusan rasa? Ah, tiada! Makanya kita tidak berperan untuk itu. Dan, tentang kamu! Aku belum mengerti mengapa ada kata ‘kamu’ di dunia. Padahal percuma, bukan?
Orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri. Begitu pun dengan Hartini dan Jaka. Seperti larutan gula dalam air, tiada bentuk kristal dari gula itu sendiri setelahnya. Semua melebur tanpa dapat diidentikkanini kristal gula pada sendok pertama, kedua, atau keberapa. Kehidupan berlanjut sebagaimana mestinya. Jaka telah memboyong keluarganya ke Jidan, sebuah kota besar kedua setengah di Indonesia setelah Kota Surabaya.
Jaka hanya menciptakan kesenangan, ketenangan, relasi yang banyak, rupiah yang melimpah, rasa cinta dari keluarga yang terluapkan. Satu hal belum dia peroleh, memang penyebabnya karena dia tidak mencari dengan jelas. Kehidupan cintanya buram! Seharusnya dia telah menikah dan memiliki buah hati, misalnya.
***

Orang yang berada  di depanku bersitatap terhadap gelas yang diaduk tanpa diminum isinya. Reno memiliki beban yang berat, sepertinya. Kuambil gelas yang tak lain adalah milik Reno, teman bisnisku. Lalu, kulihat dalam gelas tersebut. Alangkah terkejut aku dibuat olehnya. Bukan jus orange lagi isinya. Derai air mata yang disimpan oleh Hartini kini mengisi gelas tersebut. Aku melihat dia menangis.
“Jaka, aku di sini!”
Di dalam gelas terlihat jelas dia berjalan mendekatiku dan memberikan sesuatu dalam genggamannya. Seketika aku meminum jus tersebut.
Mulutku yang tadinya terkunci, tiba-tiba mengeluarkan suara yang bahkan sampai saat ini masih kuhapal betul isinya, “Kau benar-benar gila Hartini.”

Probolinggo, 30 Januari 2019