Biarkan Aku Gila!
Shofiyah
Kehidupan adalah rahasia bagi yang menjaga.
Kehidupan adalah seni menciptakan cerita yang kelak akan tertuang pada
masing-masing sudut yang memiliki space untuk mengenang. Kehidupan adalah
simbol bahwa yang kata sandinya tak dapat diterka walau punya seribu alasan
untuk memutarkan. Kehidupan adalah ragam bola mata yang tembusannya belum tentu
diterima oleh narasi kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah kamu dengan segala
macam bentuk perubahan.
Tidak semua
kehidupan dijalani oleh seorang diri, melainkan dengan ia yang bernama kawan.
Entah itu kawan hanya di dunia buaian atau dunia tempat ragamu bertaut.
“Memasuki
kehidupan orang lain tidak mudah, ya? Termasuk kehidupannya! Mungkin karena aku
yang belum dapat menyinggung ruang kosong itu, atau malah dia sendiri yang
membatasi suatu perkara dengan penyelidikan yang strategis terlebih dahulu. Aku
menjadi asing meski beberapa waktu sempat bersamanya,” ucap Reno sambil
memainkan sendok di atas piring usai menyantap menu makan siang.
“Kalau begitu,
masih akan kau coba mendekatinya lagi?”
“Untuk apa?
Tidak!” Tatapannya kosong tertuju pada sudut meja.
“Lalu kenapa
kata ‘tidak’ katamu meragukan?”
“Aku tidak
mengerti. Maksudmu?” Dia memicingkan mata.
“Kau seolah
masih akan mendekati dia, hanya saja kau bingung memutar otak untuk menemukan
cara. Aku selalu saja bisa membaca pikiranmu yang terkadang konyol itu, Ren!”
Kami berdua
tidak melanjutkan sepatah kata pun. Sibuk dengan kesalahan tafsir pada
masing-masing hati.
***
Hartini,
seorang perempuan berusia 27 tahun, yang katanya kurang waras. Dalam keadaan
tenang dia dapat diajak berbicara. Namun, ketika emosinya sedikit terganggu,
jangan harap dia memberikan anggukan, mendengar suara saja, dia ketakutan bukan
main, seperti dikejar anjing galak. Wajahnya akan dilukai habis-habisan. Lalu
mendekam di pojok ruangan sambil menutupi kedua telinga. Berapa banyak pria
Kampung Mandalingan yang rela menanti di usia mudanya dulu untuk memperoleh
jawaban ‘iya’ atas lamaran yang diajukan. Semua hanyalah nihil yang diperoleh.
Tidak banyak yang dapat dikatakan dengan pasti oleh para pria yang menanti.
Kini, masing-masing di antara mereka sudah ada yang berkeluarga, sebagian
sempat berkeluarga tetapi di tengah perjalanan pelayaran, pasangan tersebut
menemukan karam di lautan. Ada juga yang karena frustasi dengan penolakan
tersebut malah hijrah ke kota sembarang demi menemukan sosok Hartini yang lain,
kali aja masih ada.
Mugkin mereka
akan berucap syukur tatkala mendengar bahwa Hartini kini menderita ‘gila’
karena kecantikannya sendiri. Dia menjadi bulan-bulanan pada usia yang belum
memasrahkan dirinya sebagai pasangan hidup orang lain. Sempat dia menjadi
‘bulan’ yang bertengger di beberapa pasang mata pria yang sekejap melihat.
Binar matanya menjadi anggun ketika tak sembarang orang boleh menikmatinya
lebih dalam. Senyum yang sering dilontarkan bukan untuk menggoda atau merampas
pria lain yang telah memiliki tulang rusuk. Dia ibarat purnama yang dinanti
sekali dalam sebulan.
Mungkinkah ada pria yang sampai hati menjadikan
wanita itu gila?
***
Aku yakin, kau
tidak akan percaya dengan penuturan yang
pernah disinggung oleh Romo Udin, seorang kepala keluarga yang merangkap
sebagai kepala suku adat kampung. Romo
merupakan julukan yang diberikan oleh penduduk ketika beliau berhasil menemukan
sumber kehidupan, yaitu air dari sumber yang keadaannya mengalir sepanjang
masa. Petunjuk menemukan mata air tersebut berasal dari hasil tirakatnya selama
41 hari 7 jam 21 menit tanpa makanan dan minuman cepat saji (bungkusan) yang
dikonsumsinya. Dalam tirakatnya tersebut, beliau tidak boleh menentang. Boleh
makan, asalkan dimasak sendiri di atas tungku yang terbuat dari tanah liat.
Berdasarkan
kasak-kusuk yang beredar dan dibuktikan dengan ucapan ‘benar’ dari Romo Udin,
aku pun mempercaiyanya, setelah itu mulai melupakan agar kepedihan yang dialami
Hartini tidak semakin pedih dengan menyedikitkan orang-orang yang diam tentang
dia. Melihat teman makanku, Reno yang saat ini belum dapat berdamai dengan
penolakan Hartini terhadapnya, maka kuberanikan diri menyambung cerita yang
dulu pernah ditulis oleh mereka. Sekarang aku akan membuat ending dari cerita yang belum sepenuhnya utuh tersebut.
***
Begini
ceritanya...
Pada bulan yang
belum sepenuhnya bulat, tertanda bukan purnama. Purnama pada bulan itu masih
kurang dua malam lagi. Penghuni Kampung Mandalingan adalah penghuni terpadat di
kecamatan yang letaknya di bawah lereng Gunung Bromo. Para penduduk di sana
biasanya setiap sore berkumpul untuk mendiskusikan menu makanan untuk esok
hari. Inilah kekhasan penduduk tersebut. Semua hasil kerja keras para suami,
tanpa ditakar serupiah pun, akan masuk ke dompet sang istri. Begitu juga
setelah para istri merapikan badan, mereka melanjutkan kegiatan dengan
berkumpul bersama para wanita lain dengan membawa dompet berisi rupiah
tersebut.
Di dalam saung,
yang letaknya di center perkampungan
yang menjadi titik kumpul paling strategis. Biasanya dalam acara tersebut, para
wanita diperbolehkan membawa buah hatinya walau hanya sekadar mengajak bermain
dengan anak dari perempuan lain yang usianya tidak terpaut jauh. Kemudian,
mereka akan menjadikan satu masing-masing rupiah yang telah mereka bawa. Dari
hasil tersebut akan dihitung untuk keperluan makan seluruh kampung. Boleh jadi
menu yang dihidangkan adalah makanan dengan gizi tinggi, seperti: ikan, telur,
dan daging. Pernah pula mereka memasak menu ala orang Arab, nasi kebuli dengan
daging kambing yang dimasak dengan bumbu segar hasil tanaman dari ladang per
rumah. Ada kalanya mereka hanya makan dengan lauk seadanya, kerupuk atau
sekelumit garam karena hasil kerja para suami mereka hanyalah cucuran peluh
tanpa rupiah yang berpeluang dibawa pulang. Semua orang bersukacita, termasuk
wanita yang keelokannya digandrungi—Hartini.
Waktu itu, Jaka
adalah seorang lelaki yang keberadaannya bersama Ibu dan seorang adik berusia
lima tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah, letaknya lima rumah dari rumah
Hartini. Pada Januari tahun 2014, dia baru tiga bulan kembali dari Balik Papan
demi menunaikan kewajiban sebagai wajib militer. Karena tidak ada batas negara
yang perlu dijaga lagi, dia kembali dengan alasan menyenangkan ibunya usai sang
ayah dinyatakan meninggal dunia di dalam surat kematian yang bertanda jempol
dari Romo Udin. Jaka adalah lelaki ulet yang rajin bekerja. Dia lelaki pertama
di kampung itu yang tidak meminang Hartini, walaupun banyak lelaki lain yang
berbondong-bondong mengambil hatinya.
Hingga di suatu
hari kalau tidak salah, Senin Legi. Seperti namanya, hari tersebut adalah hari yang manis, sama
seperti kata orang-orang. Hari yang kedatangannya membawa keberkahan bagi semua
orang, Hartini khususnya. Dia hendak mengantar uang milik amaknya kepada ibunya
Jaka, karena hari itu amak sakit, sementara Hartini harus merawat dan
menjaganya. Ibu-ibu yang kebetulan rumahnya berada di samping kanan dan kiri
telah berangkat lebih dulu ke acara yang disebut rapat harian. Hanya Bu
Ijah-lah, ibunya Jaka, yang biasanya berangkat paling akhir karena menanti
kepulangan Jaka dari sawah.
Singkat cerita,
sesampai di rumah Jaka, jejak Bu Ijah tidak ditemukan di rumah. Hartini
mengetuk pintu yang sebelumnya memang dalam keadaan terbuka. Berulang kali dia
mengetuk, tetapi tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Hartini hendak masuk,
tetapi dia memilih mengikuti aturan main tata krama tentang adab bertamu, tidak membiasakan diri masuk rumah tanpa
salam dan tidak memasukinya sebelum si pemilik mempersilakan. Hartini
sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Jaka, walaupun sebagai tetangga yang
kabarnya sudah diketahui sejak beberapa bulan belakangan. Dia menganggap,
mungkin saja Bayu, anak Bu Ijah yang kecil sedang asyik bermain layangan,
mengingat sedari perjalanan menuju rumah Bu Ijah ditemukan beberapa anak
berseliweran membawa layangan dan uluran benang yang sewaktu-waktu dapat
melilit kaki pejalan kaki.
“Bu Ijah ke
mana, ya?” tanyanya seorang diri.
Jelas tidak ada
jawaban. Rumah tersebut kosong.
Maka duduklah
Hartini di kursi bambu yang berada di teras rumah Bu Ijah. Selang beberapa
menit, muncullah suara dari dalam rumah.
Brak.
Sekardus berisi
baju dan perabotan rumah terjatuh dari pangkuan Jaka. Dia membawa tiga kardus
yang ditata hingga menghalangi cara pandangnya, sehingga ketika melewati gorden
yang memisahkan antara ruang tengah dan ruang tamu, jadilah kardus tersebut
jatuh. Hartini kaget disertai sedikit bertanya, siapakah yang ada di dalam rumah?
Dia
memberanikan diri berkata, “Siapa?”
Wajah Jaka
tersulur di balik pintu.
“Ada yang dapat
kubantu?”
“Kamu siapa?”
“Justru saya
yang harus bertanya, siapa kamu dan ada perlu apa datang ke rumahku?”
Tempias rasa
malu hadir pada wajah Hartini. Wajahnya memerah seperti kepiting direbus. Dia
menempatkan posisi apa adanya tanpa sedikit pun berusaha mengambil hati Jaka.
Sejak hari itu,
mereka cepat akur. Hubungan mereka laiknya kawan lama yang baru dipertemukan
kembali. Tercium desiran gosip yang diberitakan miring tentang kedekatan mereka
berdua. Penduduk kampung menamainya dengan ‘hubungan tanpa ikatan’ dan isu
tersebut terdengar kepada Romo Udin. Beliau meminta Jaka untuk melangsungkan
pernikahan dengan Hartini jika dia mimiliki maksud menjadikan sisa bahagianya
dengan Hartini. Namun, Jaka menolak.
“Tidak ada yang
perlu dipertegas atau diikat atau apa pun namanya itu. Aku? Cinta kepada
Hartini? Bukan tidak mungkin, tapi untuk saat ini aku belum cinta padanya.
Apalah jadinya jika kami menikah? Kalian jangan mengada-adakan perasaan yang
memang belum ada. Dan mengenai ‘hubungan tanpa ikatan’. Hubungan apa yang
kalian maksud? Bukankah semua manusia memiliki hubungan dengan manusia lain
–dengan hewan, tumbuhan, sekalipun—? Apakah hubungan di
antara mereka diikat? Tidak ‘kan? Mereka biasa saja, hidup ya hidup. Hubungan
ya hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Aih, aku kurang suka
dengan karangan kalian menyebar isu tidak jelas itu. Seharusnya kalian bertanya
kepadaku atau kepada Hartini terlebih dahulu tentang kabar apa yang akan dimuat
di bibir masyarakat. Begitu!”
Sejak saat itu,
hati Hartini merasa dikuliti mentah-mentah. Dia membenarkan semua perkataan
Jaka. Namun, satu hal yang tidak mudah dia akui, ketidaktahuannya bahwa
seharusnya dia tidak menginginkan Jaka sebagai teman hidup, melainkan tetangga
yang boleh berteman dalam urusan menyejahterakan kampung mereka.
Hartini sering
berpikir, tapi isi pikirannya adalah kosong. Dia hanya bisa merangkai nama
Jaka di dalam kepala. Tidak banyak orang tahu bahwa dia sebetulnya telah
kelewat stres, bahkan belakangan divonis gila oleh yang katanya dokter jiwa.
Keberadaannya akhir-akhir ini sering sendiri. Seringkali dia melempar batu di
sungai yang letaknya sekitar 30 meter berada di sebelah barat rumahnya. Dia
menemukan kehidupan dari kematian. Batu yang semula dilempar ke sungai, dia
rasa telah menjelma sepasang nama di sana, ialah Jaka dan Hartini.
Lambat laun,
Jaka hidup dengan biasanya. Sementara Hartini merantau ke sebuah rumah sakit.
Jiwanya lebih hangat di sana. Banyak penduduk yang berdatangan untuk menjenguk
pada awal mulanya, tetapi lama-kelamaan banyak orang yang melupakan. Jaka pun
mungkin telah melupakan juga.
Si penggenggam rasa adalah Dia. Yang memberikan
keberanian untuk memiliki rasa adalah Dia. Yang melabuhkan rasa adalah Dia.
Lalu, di mana letak peran antara aku dan kamu untuk urusan rasa? Ah, tiada!
Makanya kita tidak berperan untuk itu. Dan, tentang kamu! Aku belum mengerti
mengapa ada kata ‘kamu’ di dunia. Padahal percuma, bukan?
Orang-orang
sibuk dengan urusannya sendiri. Begitu pun dengan Hartini dan Jaka. Seperti
larutan gula dalam air, tiada bentuk kristal dari gula itu sendiri setelahnya.
Semua melebur tanpa dapat diidentikkan—ini kristal gula pada
sendok pertama, kedua, atau keberapa. Kehidupan berlanjut sebagaimana mestinya.
Jaka telah memboyong keluarganya ke Jidan, sebuah kota besar kedua setengah di
Indonesia setelah Kota Surabaya.
Jaka hanya
menciptakan kesenangan, ketenangan, relasi yang banyak, rupiah yang melimpah,
rasa cinta dari keluarga yang terluapkan. Satu hal belum dia peroleh, memang
penyebabnya karena dia tidak mencari dengan jelas. Kehidupan cintanya buram!
Seharusnya dia telah menikah dan memiliki buah hati, misalnya.
***
Orang yang
berada di depanku bersitatap terhadap
gelas yang diaduk tanpa diminum isinya. Reno memiliki beban yang berat,
sepertinya. Kuambil gelas yang tak lain adalah milik Reno, teman bisnisku.
Lalu, kulihat dalam gelas tersebut. Alangkah terkejut aku dibuat olehnya. Bukan
jus orange lagi isinya. Derai air
mata yang disimpan oleh Hartini kini mengisi gelas tersebut. Aku melihat dia
menangis.
“Jaka, aku di
sini!”
Di dalam gelas
terlihat jelas dia berjalan mendekatiku dan memberikan sesuatu dalam
genggamannya. Seketika aku meminum jus tersebut.
Mulutku yang
tadinya terkunci, tiba-tiba mengeluarkan suara yang bahkan sampai saat ini
masih kuhapal betul isinya, “Kau benar-benar gila Hartini.”
Probolinggo, 30
Januari 2019