Friday, June 28, 2019

Biarkan Aku Gila!


 

Biarkan Aku Gila!
Shofiyah

Kehidupan adalah rahasia bagi yang menjaga. Kehidupan adalah seni menciptakan cerita yang kelak akan tertuang pada masing-masing sudut yang memiliki space untuk mengenang. Kehidupan adalah simbol bahwa yang kata sandinya tak dapat diterka walau punya seribu alasan untuk memutarkan. Kehidupan adalah ragam bola mata yang tembusannya belum tentu diterima oleh narasi kehidupan itu sendiri. Kehidupan adalah kamu dengan segala macam bentuk perubahan.
Tidak semua kehidupan dijalani oleh seorang diri, melainkan dengan ia yang bernama kawan. Entah itu kawan hanya di dunia buaian atau dunia tempat ragamu bertaut.
“Memasuki kehidupan orang lain tidak mudah, ya? Termasuk kehidupannya! Mungkin karena aku yang belum dapat menyinggung ruang kosong itu, atau malah dia sendiri yang membatasi suatu perkara dengan penyelidikan yang strategis terlebih dahulu. Aku menjadi asing meski beberapa waktu sempat bersamanya,” ucap Reno sambil memainkan sendok di atas piring usai menyantap menu makan siang.
“Kalau begitu, masih akan kau coba mendekatinya lagi?”
“Untuk apa? Tidak!” Tatapannya kosong tertuju pada sudut meja.
“Lalu kenapa kata ‘tidak’ katamu meragukan?”
“Aku tidak mengerti. Maksudmu?” Dia memicingkan mata.
“Kau seolah masih akan mendekati dia, hanya saja kau bingung memutar otak untuk menemukan cara. Aku selalu saja bisa membaca pikiranmu yang terkadang konyol itu, Ren!”
Kami berdua tidak melanjutkan sepatah kata pun. Sibuk dengan kesalahan tafsir pada masing-masing hati.
***
Hartini, seorang perempuan berusia 27 tahun, yang katanya kurang waras. Dalam keadaan tenang dia dapat diajak berbicara. Namun, ketika emosinya sedikit terganggu, jangan harap dia memberikan anggukan, mendengar suara saja, dia ketakutan bukan main, seperti dikejar anjing galak. Wajahnya akan dilukai habis-habisan. Lalu mendekam di pojok ruangan sambil menutupi kedua telinga. Berapa banyak pria Kampung Mandalingan yang rela menanti di usia mudanya dulu untuk memperoleh jawaban ‘iya’ atas lamaran yang diajukan. Semua hanyalah nihil yang diperoleh. Tidak banyak yang dapat dikatakan dengan pasti oleh para pria yang menanti. Kini, masing-masing di antara mereka sudah ada yang berkeluarga, sebagian sempat berkeluarga tetapi di tengah perjalanan pelayaran, pasangan tersebut menemukan karam di lautan. Ada juga yang karena frustasi dengan penolakan tersebut malah hijrah ke kota sembarang demi menemukan sosok Hartini yang lain, kali aja masih ada.
Mugkin mereka akan berucap syukur tatkala mendengar bahwa Hartini kini menderita ‘gila’ karena kecantikannya sendiri. Dia menjadi bulan-bulanan pada usia yang belum memasrahkan dirinya sebagai pasangan hidup orang lain. Sempat dia menjadi ‘bulan’ yang bertengger di beberapa pasang mata pria yang sekejap melihat. Binar matanya menjadi anggun ketika tak sembarang orang boleh menikmatinya lebih dalam. Senyum yang sering dilontarkan bukan untuk menggoda atau merampas pria lain yang telah memiliki tulang rusuk. Dia ibarat purnama yang dinanti sekali dalam sebulan.
Mungkinkah ada pria yang sampai hati menjadikan wanita itu gila?

***

Aku yakin, kau tidak akan percaya dengan  penuturan yang pernah disinggung oleh Romo Udin, seorang kepala keluarga yang merangkap sebagai kepala suku adat kampung. Romo merupakan julukan yang diberikan oleh penduduk ketika beliau berhasil menemukan sumber kehidupan, yaitu air dari sumber yang keadaannya mengalir sepanjang masa. Petunjuk menemukan mata air tersebut berasal dari hasil tirakatnya selama 41 hari 7 jam 21 menit tanpa makanan dan minuman cepat saji (bungkusan) yang dikonsumsinya. Dalam tirakatnya tersebut, beliau tidak boleh menentang. Boleh makan, asalkan dimasak sendiri di atas tungku yang terbuat dari tanah liat.
Berdasarkan kasak-kusuk yang beredar dan dibuktikan dengan ucapan ‘benar’ dari Romo Udin, aku pun mempercaiyanya, setelah itu mulai melupakan agar kepedihan yang dialami Hartini tidak semakin pedih dengan menyedikitkan orang-orang yang diam tentang dia. Melihat teman makanku, Reno yang saat ini belum dapat berdamai dengan penolakan Hartini terhadapnya, maka kuberanikan diri menyambung cerita yang dulu pernah ditulis oleh mereka. Sekarang aku akan membuat ending dari cerita yang belum sepenuhnya utuh tersebut.

***
Begini ceritanya...
Pada bulan yang belum sepenuhnya bulat, tertanda bukan purnama. Purnama pada bulan itu masih kurang dua malam lagi. Penghuni Kampung Mandalingan adalah penghuni terpadat di kecamatan yang letaknya di bawah lereng Gunung Bromo. Para penduduk di sana biasanya setiap sore berkumpul untuk mendiskusikan menu makanan untuk esok hari. Inilah kekhasan penduduk tersebut. Semua hasil kerja keras para suami, tanpa ditakar serupiah pun, akan masuk ke dompet sang istri. Begitu juga setelah para istri merapikan badan, mereka melanjutkan kegiatan dengan berkumpul bersama para wanita lain dengan membawa dompet berisi rupiah tersebut.
Di dalam saung, yang letaknya di center perkampungan yang menjadi titik kumpul paling strategis. Biasanya dalam acara tersebut, para wanita diperbolehkan membawa buah hatinya walau hanya sekadar mengajak bermain dengan anak dari perempuan lain yang usianya tidak terpaut jauh. Kemudian, mereka akan menjadikan satu masing-masing rupiah yang telah mereka bawa. Dari hasil tersebut akan dihitung untuk keperluan makan seluruh kampung. Boleh jadi menu yang dihidangkan adalah makanan dengan gizi tinggi, seperti: ikan, telur, dan daging. Pernah pula mereka memasak menu ala orang Arab, nasi kebuli dengan daging kambing yang dimasak dengan bumbu segar hasil tanaman dari ladang per rumah. Ada kalanya mereka hanya makan dengan lauk seadanya, kerupuk atau sekelumit garam karena hasil kerja para suami mereka hanyalah cucuran peluh tanpa rupiah yang berpeluang dibawa pulang. Semua orang bersukacita, termasuk wanita yang keelokannya digandrungi—Hartini.
Waktu itu, Jaka adalah seorang lelaki yang keberadaannya bersama Ibu dan seorang adik berusia lima tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah, letaknya lima rumah dari rumah Hartini. Pada Januari tahun 2014, dia baru tiga bulan kembali dari Balik Papan demi menunaikan kewajiban sebagai wajib militer. Karena tidak ada batas negara yang perlu dijaga lagi, dia kembali dengan alasan menyenangkan ibunya usai sang ayah dinyatakan meninggal dunia di dalam surat kematian yang bertanda jempol dari Romo Udin. Jaka adalah lelaki ulet yang rajin bekerja. Dia lelaki pertama di kampung itu yang tidak meminang Hartini, walaupun banyak lelaki lain yang berbondong-bondong mengambil hatinya.
Hingga di suatu hari kalau tidak salah, Senin Legi. Seperti namanya, hari tersebut adalah hari yang manis, sama seperti kata orang-orang. Hari yang kedatangannya membawa keberkahan bagi semua orang, Hartini khususnya. Dia hendak mengantar uang milik amaknya kepada ibunya Jaka, karena hari itu amak sakit, sementara Hartini harus merawat dan menjaganya. Ibu-ibu yang kebetulan rumahnya berada di samping kanan dan kiri telah berangkat lebih dulu ke acara yang disebut rapat harian. Hanya Bu Ijah-lah, ibunya Jaka, yang biasanya berangkat paling akhir karena menanti kepulangan Jaka dari sawah.
Singkat cerita, sesampai di rumah Jaka, jejak Bu Ijah tidak ditemukan di rumah. Hartini mengetuk pintu yang sebelumnya memang dalam keadaan terbuka. Berulang kali dia mengetuk, tetapi tidak ada jawaban dari penghuni rumah. Hartini hendak masuk, tetapi dia memilih mengikuti aturan main tata krama tentang adab bertamu, tidak membiasakan diri masuk rumah tanpa salam dan tidak memasukinya sebelum si pemilik mempersilakan. Hartini sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Jaka, walaupun sebagai tetangga yang kabarnya sudah diketahui sejak beberapa bulan belakangan. Dia menganggap, mungkin saja Bayu, anak Bu Ijah yang kecil sedang asyik bermain layangan, mengingat sedari perjalanan menuju rumah Bu Ijah ditemukan beberapa anak berseliweran membawa layangan dan uluran benang yang sewaktu-waktu dapat melilit kaki pejalan kaki.
“Bu Ijah ke mana, ya?” tanyanya seorang diri.
Jelas tidak ada jawaban. Rumah tersebut kosong.
Maka duduklah Hartini di kursi bambu yang berada di teras rumah Bu Ijah. Selang beberapa menit, muncullah suara dari dalam rumah.
Brak.
Sekardus berisi baju dan perabotan rumah terjatuh dari pangkuan Jaka. Dia membawa tiga kardus yang ditata hingga menghalangi cara pandangnya, sehingga ketika melewati gorden yang memisahkan antara ruang tengah dan ruang tamu, jadilah kardus tersebut jatuh. Hartini kaget disertai sedikit bertanya, siapakah yang ada di dalam rumah?
Dia memberanikan diri berkata, “Siapa?”
Wajah Jaka tersulur di balik pintu.
“Ada yang dapat kubantu?”
“Kamu siapa?”
“Justru saya yang harus bertanya, siapa kamu dan ada perlu apa datang ke rumahku?”
Tempias rasa malu hadir pada wajah Hartini. Wajahnya memerah seperti kepiting direbus. Dia menempatkan posisi apa adanya tanpa sedikit pun berusaha mengambil hati Jaka.
Sejak hari itu, mereka cepat akur. Hubungan mereka laiknya kawan lama yang baru dipertemukan kembali. Tercium desiran gosip yang diberitakan miring tentang kedekatan mereka berdua. Penduduk kampung menamainya dengan ‘hubungan tanpa ikatan’ dan isu tersebut terdengar kepada Romo Udin. Beliau meminta Jaka untuk melangsungkan pernikahan dengan Hartini jika dia mimiliki maksud menjadikan sisa bahagianya dengan Hartini. Namun, Jaka menolak.
“Tidak ada yang perlu dipertegas atau diikat atau apa pun namanya itu. Aku? Cinta kepada Hartini? Bukan tidak mungkin, tapi untuk saat ini aku belum cinta padanya. Apalah jadinya jika kami menikah? Kalian jangan mengada-adakan perasaan yang memang belum ada. Dan mengenai ‘hubungan tanpa ikatan’. Hubungan apa yang kalian maksud? Bukankah semua manusia memiliki hubungan dengan manusia lain –dengan hewan, tumbuhan, sekalipun? Apakah hubungan di antara mereka diikat? Tidak ‘kan? Mereka biasa saja, hidup ya hidup. Hubungan ya hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Aih, aku kurang suka dengan karangan kalian menyebar isu tidak jelas itu. Seharusnya kalian bertanya kepadaku atau kepada Hartini terlebih dahulu tentang kabar apa yang akan dimuat di bibir masyarakat. Begitu!”
Sejak saat itu, hati Hartini merasa dikuliti mentah-mentah. Dia membenarkan semua perkataan Jaka. Namun, satu hal yang tidak mudah dia akui, ketidaktahuannya bahwa seharusnya dia tidak menginginkan Jaka sebagai teman hidup, melainkan tetangga yang boleh berteman dalam urusan menyejahterakan kampung mereka.
Hartini sering berpikir, tapi isi pikirannya adalah kosong. Dia hanya bisa merangkai nama Jaka di dalam kepala. Tidak banyak orang tahu bahwa dia sebetulnya telah kelewat stres, bahkan belakangan divonis gila oleh yang katanya dokter jiwa. Keberadaannya akhir-akhir ini sering sendiri. Seringkali dia melempar batu di sungai yang letaknya sekitar 30 meter berada di sebelah barat rumahnya. Dia menemukan kehidupan dari kematian. Batu yang semula dilempar ke sungai, dia rasa telah menjelma sepasang nama di sana, ialah Jaka dan Hartini.
Lambat laun, Jaka hidup dengan biasanya. Sementara Hartini merantau ke sebuah rumah sakit. Jiwanya lebih hangat di sana. Banyak penduduk yang berdatangan untuk menjenguk pada awal mulanya, tetapi lama-kelamaan banyak orang yang melupakan. Jaka pun mungkin telah melupakan juga.
Si penggenggam rasa adalah Dia. Yang memberikan keberanian untuk memiliki rasa adalah Dia. Yang melabuhkan rasa adalah Dia. Lalu, di mana letak peran antara aku dan kamu untuk urusan rasa? Ah, tiada! Makanya kita tidak berperan untuk itu. Dan, tentang kamu! Aku belum mengerti mengapa ada kata ‘kamu’ di dunia. Padahal percuma, bukan?
Orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri. Begitu pun dengan Hartini dan Jaka. Seperti larutan gula dalam air, tiada bentuk kristal dari gula itu sendiri setelahnya. Semua melebur tanpa dapat diidentikkanini kristal gula pada sendok pertama, kedua, atau keberapa. Kehidupan berlanjut sebagaimana mestinya. Jaka telah memboyong keluarganya ke Jidan, sebuah kota besar kedua setengah di Indonesia setelah Kota Surabaya.
Jaka hanya menciptakan kesenangan, ketenangan, relasi yang banyak, rupiah yang melimpah, rasa cinta dari keluarga yang terluapkan. Satu hal belum dia peroleh, memang penyebabnya karena dia tidak mencari dengan jelas. Kehidupan cintanya buram! Seharusnya dia telah menikah dan memiliki buah hati, misalnya.
***

Orang yang berada  di depanku bersitatap terhadap gelas yang diaduk tanpa diminum isinya. Reno memiliki beban yang berat, sepertinya. Kuambil gelas yang tak lain adalah milik Reno, teman bisnisku. Lalu, kulihat dalam gelas tersebut. Alangkah terkejut aku dibuat olehnya. Bukan jus orange lagi isinya. Derai air mata yang disimpan oleh Hartini kini mengisi gelas tersebut. Aku melihat dia menangis.
“Jaka, aku di sini!”
Di dalam gelas terlihat jelas dia berjalan mendekatiku dan memberikan sesuatu dalam genggamannya. Seketika aku meminum jus tersebut.
Mulutku yang tadinya terkunci, tiba-tiba mengeluarkan suara yang bahkan sampai saat ini masih kuhapal betul isinya, “Kau benar-benar gila Hartini.”

Probolinggo, 30 Januari 2019

2 comments: