Di tepi tebing ia bergurau
seperti memamah nada-nada kesukaran
kematian; rindu tanpa tapi dengan pasti
detik itu, ia kembali.
Jasad!
***
"Tidak!"
Dentum tak mau bergejolak pasrah
anak panah melesat ke ulu hati,
darah anyir diserap tanah,
pada takdir, mereka kembali.
Kamboja tercium di atas pusara
***
Ketika malam berupa terang belum tentu
Jangan menyisir jalan tanpa lentera waktu
Kau, di redup doa
Adalah semoga yang ingin terkabul
Bersama ringkuk angin membawa ke lautan lepas; kebebasan.
***
"Aku butuh klarifikasi sebagai logismu menghapus kontakku!" diam.
"Apa itu penting?"
"Sangat."
"Apa yang lebih penting daripada aku tetap menyimpan namamu dalam otakku?"
"Tiada."
"Baiklah."
"Apa kita sedang baik-baik saja?"
"Kenapa ragu?"
***
Sebab menjadi jalang yang lajang tanpa bahumu
perihal mustahil sempat kusisir di meja tamu
"Sebagai pengorbanan," katamu.
Ah, aku tak sudi membagi pengorbanan denganmu. Sebab, kau bukanlah korban dari apa-apa yang kuhibahkan; hati.
***
"T'lah habis berapa cangkir kopimu?"
"Entahlah," lanjutkan menyeduhnya.
"Masih hendak bertahan?"
"Selama ampasnya belum rampung melukis wajahmu, aku akan tetap meminumnya."
"Rumit!"
"Permudahkanlah!"
Aku tidak beranjak dari tatap matamu.
***
Gelandang...,
Ia kumpulkan hardik
Luka bebat agar tak jadi bengkak
Dirimu tak biasa menamatkan cerita
Ia meringkuk dengan segala yang tiada.
Ia, aku yang pertama.
***
Kau ada sebagai subjek dan aku (mungkin) objek,
di antara kita memiliki predikat, tapi tak pernah memiliki keterangan tempat, suasana, ataupun sebagainya.
Sebagai kalimat, barangkali kita tak pernah sempurna, hanya ada sebagai "ada".
***
"Kerjaku sebagai kuli," katamu. Kemudian lanjutmu, "Apa kau masih mau berteman denganku?"
"Kukira berteman tidak perlu mewawancarai keseharianmu," aku menjawab sinis.
"Ya sudah, jangan kecewa di lain waktu."
"Jangan berkata demikian. Jangan membuatku mencari larangan yang lain!"
***
Tersebab ramalan hanya membaca keabstrakan semata; tersebab enggan membagi nyata dan maya dalam detak napas; tersebab kau bukanlah hadiah untuk diperebutkan; maka, keputusan perlahan,
: atas nama luka, barangkali kau menjelma rindu tak berhulu.
***
Demikian sirna...,
Anjing melacak kawanan tertawan
Angin memburu apa-apa yang lemah di bawahnya
Kita -- sepasang mata, lihai menyimpan perih, lalu pulang dengan pergi
Punggungmu, aku, menghilang ditelan jalan lengang.
***
-- Tenggat --
Waktu memasungmu memasang lari dari pelarian dan perapian milik Ibu di dapur.
"Hampir terlambat," jangan!
Wajahmu kuyup dengan pengabaian Ibu.
"Maaf," hatimu melepasnya.
***
Hari pernah berlalu, menamakan diri sebagai kemarin,
sekarang, ia sedang bermain dengan narasi,
sebagai rahasia, ia berwujud besok.
Di rentetan angka, sebulan mewarnai dirinya sebagai hitam dan merah.
"Sekalinya, aku tak pernah dan (akan) alpa mengingatmu," aku.
***
Menit ke dua puluh, detik pertama
adalah
harapan baru serupa duri pada tanaman kaktus
"Tegaslah sebagaimana ia bertahan di tengah gurun!" kau di masa seperempat tahun.
Aku melihat kecewa, kau senyum, tegar pertanda.
Kali ini, aku lebih tegar dari ia.
***
Di sela pembaringan, sengaja kau kutitip pada malam, agar rebah segala kantukmu. Mencintaimu serupa Himawari. Ia ada 'tuk mengajarimu tersenyum di bibir terang matahari.
***
Biarlah ia menjadi komposisi yang saling melengkapi: hijau, oranye, hijau, dan putih; agar kelak kau tahu, segala kerumitan memerlukan keseriusan yang jauh.
"Cantik itu perlu," kamu.
"Indikatornya?"
"Cari saja sendiri!" percakapanmu selesai.
Aku menemukannya!
***
Menyapa mentari,
dihidangkan segelas kasih,
ditemani sepiring perhatian,
: adalah cara paling naif berada di sampingmu untuk menyambut,
Pagi.
***
Sebelum pergi ~
Ada sajak harus terbaca sempurna sebagai pamit
Ada air mata yang perlu diharga
Ada permainan yang wajib diganti ketentuannya
Ada jarak yang ditempuh
Di suatu masa
Masihkah kita mengenal sebagai sejarah?
Meski tiada lukisan di gua sebagai peninggalan di antara kita?
Hanya saja, arca terpahat sebagai kenangan di sana
***
Sesuatu yang tampak, bukan lagi sekadar
bisu dan mengumbar hidup yang arif
Sebuah peta mengajarkan perjalanan
bahwa,
tiada sama untuk menjadi saling bernyawa
Cara bertahan
pada rumah sendiri; kelahiran
***
Semenjak aku diam, bukan berarti kau harus membiarkanku 'tuk tak mengejar.
Semenjak aku di sini, bukan berarti kau melepasnya begitu saja dari sana.
Semenjak kau kujadikan "ku"
maka, seperti itulah seharusnya menjadi; tanpa bertanya antara kau dan ku bedanya apa?!
***
Seseorang bisa menyimpan rahasia, membagikannya sebagai percuma, atau memulangkannya sebagai kenangan untuk dikaji di lain waktu bersama pelaku sejarah yang lain.
***
Aku mau menjadi almanak yang ditempatkan di meja kerjamu, sekalipun ia usang dan hampir tak terjamah, ada kalanya kau sibuk membolak-balikkan lembarannya
: menandakan waktu.
Kau lingkari, kau beri tanda silang, dan kau menjadikanku sebagai pengingat.
***
"Kusedekahkan bilur pada tidur, didekap pelan," katamu pada suatu malam enggan menenggelamkan sedih
Selayak bintang yang kau timang, kau cumbu ia dengan kasih sayang, kau cuatkan harapan yang sempat ciut di ujung dadanya.
Ia, laki-laki atas nama: takdir
***
Perempuan itu menumbuk duka sepanjang siang, menghaturkan pada malam.
Sebagai ramuan, ia selipkan rahasia, ditakar sebagai penyembuhnya.
"Semoga kau segera kembali dari kehilangan jiwamu!" kenanga mempersilakan padanya menyeduh air matanya sendiri.
***
"Rugi dan untung tiada beda," perempuan dengan segala perhatiannya.
"Lalu, Ibu maunya bagaimana?" si laki-laki menaruh tanya dengan saksama.
"Ikuti kata hatimu."
"Hatiku adalah kau, Bu! Maaf tidak bermaksud memeluk dendam."
***
Pada telapak ataupun punggung tangannya, segala mengalir sebagai diksi tanpa ditukar kalimat "terima kasih"
Pada guyuran keberkahan tersemat di telapak kakinya.
Perempuan pemikul beban bahagiamu itu adalah cendera mata, tak mau kau cedera. Sekali saja!
***
Sebagai mati, aku ingin dikubur dekat nadimu berdenyut
Serupa pergelaran hari raya pembacaan maklumat kepergian
Hari itu, telah kau genapi, di pusaraku, ubun-ubunku membidik nyala, edelweis sebagai pertemuan terakhir.
Oh, laki-laki itu telah berpulang.
***
Aku menutur mengantarmu pergi!
pada aku yang lain; ada kata paling kubenci untuk kuungkap,
menunggu!
***
"Menjadi gila adalah hal lumrah," kata seorang laki-laki pada padaku.
"Aku tidak mau menjadi gila dengan suatu alasan."
"Lalu?"
"Tanpa kuhirup aroma tubuhmu, itu sudah membuatku kalap."
"Kenapa bisa?"
"Itulah aku tak tahu alasannya."
***
Sebagai widuri, aku rela menunggu pengembara yang bertandang ke pantai.
Meski hanya mencari senja, sibuk memotret buih, atau mendebar dengan debur yang membawa garis luka.
Siasat
***
Pinjami aku puisi paling ramai diperbincangkan di negeri Nadir
Barangkali hadir sunyi sebagai pemenang
paling rakus untuk dikata, "Bagaimana menunggu kau jadikan istilah dukamu?"
***
Menjemputmu di ambang kota, suaramu hilang, air mukamu lupa kudeskripsikan, perjalanan yang jalang akan kedatangan.
Di dekat halte itu, telah tersusun aku menjadi kata menunggu yang tak tahu apa sesudahnya.
Shofiyah
Probolinggo, Juli 2019