Saturday, July 20, 2019

Prolog (Kubawa Segenggam Cinta pada Telapak Tanganmu)


Prolog

Setiap manusia, secara fitrah pasti pernah merasa jatuh cinta. Lakilaki- perempuan; remaja-dewasa-tua; ekstrovert-introvert; orang yang malas sekalipun, atau abai dengan dirinya sendiri, pernah berada dalam lingkar jatuh cinta. Cinta tidak perlu ditemukan barangkali, hanya saja dirasakan tanpa melihat, bertatap, bersinggungan, dan dalam waktu serta jarak yang dekat.
Aish, cinta yang seperti apa yang aku maksud?
Sejatinya, aku belum pernah benar-benar merasakan jatuh cinta itu sendiri. Kata orang, cinta adalah barang mustahil! Buktinya orang-orang di desa terpencil, atas dasar perjodohan orangtuanya, mereka bisa fight dengan kehidupan. Bisa memiliki anak-anak yang lucu sebagai penghibur ketika penat bekerja, jalan-jalan dengan keluarga, menimbun kekayaan dari nol. Cinta sederhana yang tidak pernah sederhana di mata mereka. Toh, bahkan, jikalau ada perceraian, pasti setelahnya ada pernikahan kedua, ketiga, dan seterusnya.
Menikah bagi mereka cukup ada kedua mempelai, mahar, wali, saksi, dan kesepakatan menuai janji bermaterai. Buku terindah melebihi indahnya penerbit mana pun: KUA.
Ah, no! Please, aku muak membahasnya.
Aku tidak mau bernasib sama dengan mereka. Aku mau melalui pernikahan atas dasar sama-sama cinta. Aku mencintainya. Dia mencintaiku dengan sangat. Namun, bisakah? bahkan saat ini saja aku masih berkubang dengan ketidakpastian.
Eh, tunggu! “Selamat bekerja, aku istirahat dulu. Nanti kalau sudah pulang dan sampai di rumah, bangunkan aku ya?”
Kalimat itu baru saja kutulis rapi pada badan pesan WA.
Dan, dia adalah....

Swastamita yang Arunika (2)

Di tepi tebing ia bergurau
seperti memamah nada-nada kesukaran
kematian; rindu tanpa tapi dengan pasti
detik itu, ia kembali.

Jasad!

***

"Tidak!"

Dentum tak mau bergejolak pasrah
anak panah melesat ke ulu hati,
darah anyir diserap tanah,
pada takdir, mereka kembali.

Kamboja tercium di atas pusara

***

Ketika malam berupa terang belum tentu
Jangan menyisir jalan tanpa lentera waktu
Kau, di redup doa
Adalah semoga yang ingin terkabul
Bersama ringkuk angin membawa ke lautan lepas; kebebasan.
 
***

"Aku butuh klarifikasi sebagai logismu menghapus kontakku!" diam.
"Apa itu penting?"
"Sangat."
"Apa yang lebih penting daripada aku tetap menyimpan namamu dalam otakku?"
"Tiada."
"Baiklah."
"Apa kita sedang baik-baik saja?"
"Kenapa ragu?"
 
***

Sebab menjadi jalang yang lajang tanpa bahumu
perihal mustahil sempat kusisir di meja tamu
"Sebagai pengorbanan," katamu.

Ah, aku tak sudi membagi pengorbanan denganmu. Sebab, kau bukanlah korban dari apa-apa yang kuhibahkan; hati.

***

"T'lah habis berapa cangkir kopimu?"
"Entahlah," lanjutkan menyeduhnya.
"Masih hendak bertahan?"
"Selama ampasnya belum rampung melukis wajahmu, aku akan tetap meminumnya."
"Rumit!"
"Permudahkanlah!"

Aku tidak beranjak dari tatap matamu.
 
***

Gelandang...,
Ia kumpulkan hardik
Luka bebat agar tak jadi bengkak
Dirimu tak biasa menamatkan cerita
Ia meringkuk dengan segala yang tiada.

Ia, aku yang pertama.
 
***

Kau ada sebagai subjek dan aku (mungkin) objek,
di antara kita memiliki predikat, tapi tak pernah memiliki keterangan tempat, suasana, ataupun sebagainya.
Sebagai kalimat, barangkali kita tak pernah sempurna, hanya ada sebagai "ada".
 
***

"Kerjaku sebagai kuli," katamu. Kemudian lanjutmu, "Apa kau masih mau berteman denganku?"
"Kukira berteman tidak perlu mewawancarai keseharianmu," aku menjawab sinis.
"Ya sudah, jangan kecewa di lain waktu."
"Jangan berkata demikian. Jangan membuatku mencari larangan yang lain!"
 
***

Tersebab ramalan hanya membaca keabstrakan semata; tersebab enggan membagi nyata dan maya dalam detak napas; tersebab kau bukanlah hadiah untuk diperebutkan; maka, keputusan perlahan,

: atas nama luka, barangkali kau menjelma rindu tak berhulu.
 
***

Demikian sirna...,
Anjing melacak kawanan tertawan
Angin memburu apa-apa yang lemah di bawahnya
Kita -- sepasang mata, lihai menyimpan perih, lalu pulang dengan pergi
Punggungmu, aku, menghilang ditelan jalan lengang.
 
***

-- Tenggat --

Waktu memasungmu memasang lari dari pelarian dan perapian milik Ibu di dapur.

"Hampir terlambat," jangan!

Wajahmu kuyup dengan pengabaian Ibu.

"Maaf," hatimu melepasnya.

***

Hari pernah berlalu, menamakan diri sebagai kemarin,
sekarang, ia sedang bermain dengan narasi,
sebagai rahasia, ia berwujud besok.
Di rentetan angka, sebulan mewarnai dirinya sebagai hitam dan merah.

"Sekalinya, aku tak pernah dan (akan) alpa mengingatmu," aku.
 
***

Menit ke dua puluh, detik pertama
adalah
harapan baru serupa duri pada tanaman kaktus

"Tegaslah sebagaimana ia bertahan di tengah gurun!" kau di masa seperempat tahun.

Aku melihat kecewa, kau senyum, tegar pertanda.

Kali ini, aku lebih tegar dari ia.
 
***

Di sela pembaringan, sengaja kau kutitip pada malam, agar rebah segala kantukmu. Mencintaimu serupa Himawari. Ia ada 'tuk mengajarimu tersenyum di bibir terang matahari.
 
***

Biarlah ia menjadi komposisi yang saling melengkapi: hijau, oranye, hijau, dan putih; agar kelak kau tahu, segala kerumitan memerlukan keseriusan yang jauh.

"Cantik itu perlu," kamu.

"Indikatornya?"

"Cari saja sendiri!" percakapanmu selesai.

Aku menemukannya!
 
***

Menyapa mentari,
dihidangkan segelas kasih,
ditemani sepiring perhatian,
: adalah cara paling naif berada di sampingmu untuk menyambut,

Pagi.
 
***

Sebelum pergi ~

Ada sajak harus terbaca sempurna sebagai pamit
Ada air mata yang perlu diharga
Ada permainan yang wajib diganti ketentuannya
Ada jarak yang ditempuh

Di suatu masa
Masihkah kita mengenal sebagai sejarah?
Meski tiada lukisan di gua sebagai peninggalan di antara kita?
Hanya saja, arca terpahat sebagai kenangan di sana
 
***

Sesuatu yang tampak, bukan lagi sekadar
bisu dan mengumbar hidup yang arif
Sebuah peta mengajarkan perjalanan
bahwa,
tiada sama untuk menjadi saling bernyawa

Cara bertahan
pada rumah sendiri; kelahiran
 
***

Semenjak aku diam, bukan berarti kau harus membiarkanku 'tuk tak mengejar.
Semenjak aku di sini, bukan berarti kau melepasnya begitu saja dari sana.
Semenjak kau kujadikan "ku"
maka, seperti itulah seharusnya menjadi; tanpa bertanya antara kau dan ku bedanya apa?!
 
***

Seseorang bisa menyimpan rahasia, membagikannya sebagai percuma, atau memulangkannya sebagai kenangan untuk dikaji di lain waktu bersama pelaku sejarah yang lain.

***

Aku mau menjadi almanak yang ditempatkan di meja kerjamu, sekalipun ia usang dan hampir tak terjamah, ada kalanya kau sibuk membolak-balikkan lembarannya
: menandakan waktu.
Kau lingkari, kau beri tanda silang, dan kau menjadikanku sebagai pengingat.

***

"Kusedekahkan bilur pada tidur, didekap pelan," katamu pada suatu malam enggan menenggelamkan sedih
Selayak bintang yang kau timang, kau cumbu ia dengan kasih sayang, kau cuatkan harapan yang sempat ciut di ujung dadanya.
Ia, laki-laki atas nama: takdir
 
***

Perempuan itu menumbuk duka sepanjang siang, menghaturkan pada malam.
Sebagai ramuan, ia selipkan rahasia, ditakar sebagai penyembuhnya.
"Semoga kau segera kembali dari kehilangan jiwamu!" kenanga mempersilakan padanya menyeduh air matanya sendiri.
 
***

"Rugi dan untung tiada beda," perempuan dengan segala perhatiannya.

"Lalu, Ibu maunya bagaimana?" si laki-laki menaruh tanya dengan saksama.

"Ikuti kata hatimu."
"Hatiku adalah kau, Bu! Maaf tidak bermaksud memeluk dendam."
 
***

Pada telapak ataupun punggung tangannya, segala mengalir sebagai diksi tanpa ditukar kalimat "terima kasih"
Pada guyuran keberkahan tersemat di telapak kakinya.

Perempuan pemikul beban bahagiamu itu adalah cendera mata, tak mau kau cedera. Sekali saja!
 
***

Sebagai mati, aku ingin dikubur dekat nadimu berdenyut
Serupa pergelaran hari raya pembacaan maklumat kepergian
Hari itu, telah kau genapi, di pusaraku, ubun-ubunku membidik nyala, edelweis sebagai pertemuan terakhir.
Oh, laki-laki itu telah berpulang.
 
***

Aku menutur mengantarmu pergi!

pada aku yang lain; ada kata paling kubenci untuk kuungkap,

menunggu!
 
***

"Menjadi gila adalah hal lumrah," kata seorang laki-laki pada padaku.

"Aku tidak mau menjadi gila dengan suatu alasan."

"Lalu?"

"Tanpa kuhirup aroma tubuhmu, itu sudah membuatku kalap."

"Kenapa bisa?"

"Itulah aku tak tahu alasannya."
 
***

Sebagai widuri, aku rela menunggu pengembara yang bertandang ke pantai.

Meski hanya mencari senja, sibuk memotret buih, atau mendebar dengan debur yang membawa garis luka.

Siasat
 
***

Pinjami aku puisi paling ramai diperbincangkan di negeri Nadir
Barangkali hadir sunyi sebagai pemenang
paling rakus untuk dikata, "Bagaimana menunggu kau jadikan istilah dukamu?"
 
 ***
 
Menjemputmu di ambang kota, suaramu hilang, air mukamu lupa kudeskripsikan, perjalanan yang jalang akan kedatangan.

Di dekat halte itu, telah tersusun aku menjadi kata menunggu yang tak tahu apa sesudahnya. 


Shofiyah
Probolinggo, Juli 2019
 
 

Monday, July 15, 2019

Swastamita yang Arunika

Melewati depan istanamu, selembar sempat kubaca biografi bertuliskan, "Aku bisa hidup sendiri."
Tanpa kau tahu, ada sepi yang rimbun tanpamu.

***
"Aku menunggu hadiah darimu."
"Tak ada."
"Sia-sia berarti aku menunggu?"
Seperti yang dinyana olehmu, "Iya, sia-sia." Selanjutnya, kau berkirim surat kabar dalam bentuk gambar.
"I like."
"Wajib!" katamu.

***

Pada perjalanan, bukan lagi kata "nyasar" ingin diperkenankan sebagai cerita,
bukan pula engkau atas dasar curiga.
di perberhentian lampu masih tergelar sorot
: adalah matamu yang tak pernah lupa kuucap di setiap daun melambai.

***

"Adakah yang lebih berharga daripada nyawa?"
"Jangan bertanya yang tidak-tidak!" katamu, meredam gelisahku.
"Aku sedang serius. Dengarkan dulu!"
"Bagaimana? Bisakah bicara yang tidak melantur?"
"Aku sedang takut saja."
"Kalau begitu, aku nyawa bagimu."
 
***
"Aku tidak bisa tidur!"
"Jangan menunggu! Aku pulangnya larut."
"Hei..., siapa menunggu?"
"Itu tadi bilang apa, coba?"
"Di sini mati lampu. Sesak. Harus ada cahaya, baru bisa aku tidur."
"Coba pejamkan mata! Ada bintang bertabur, bukan? Aku menjagamu dari sini.

***

Kita terlalu dini untuk menyebut Juli sebagai musim yang basah
Sedangkan Juni, kita sebut apa selain hujan?
Kemarau datangnya tak diduga, apalagi rasa atas nama cinta?
Lebih tidak berlogika katanya.
Ah, nalarmu terlalu pesimis, Kawan!
 
***

Wajahmu sebagai teka-teki,
untuk melukisnya, aku perlu menerka
mengumpulkan satu per satu bagian dari kehidupanmu.
Lantas merampungkan pandang yang belum kutembus retinanya.

Ibu, tahukah yang paling menyesakkan dalam hati itu?
 
***

Sejak hari itu; aku lupa cara menyambut malam
Desir yang membawa suaramu, curam untuk diabaikan
Maka, sekalinya gelap memunggungi terang
Tiada suntuk untuk kubawa kepadamu sebagai pelukmu paling erat.

***

Sebentar!
Lampu di jalan masih terang,
Rambut kita masih legam,
Anak Adam ricuh dengan suara azan,
Kau lupa belum mencuci bekas tangismu,
Airmata mili ke berapa yang telah tanggal?

"Ah, masih pertengahan Juli," katamu spontan.
 
***

Seperti dadu; keenam bidangnya adalah bahasa nyata tertentu,
Tak bisa dipilah atau kau pilih dalam permainan,
Semua sisi tak dapat ditemui bedanya,
Engkau yang kamu; Aku yang saya; atau barangkali engkau yang aku.

Sama-sama beretorika dalam diam.

***

"Jangan menawar sepiku!" aku.
"Justru aku memintamu untuk tersenyum, Puan." Lalu, katanya lagi, "Apa kau tidak lelah dengan sepi?"
"Ia selalu menemaniku ketika orang-orang pergi, termasuk dirimu."

Tapi aku sedang di sini. Lalu siapa yang paling setia?

 
***

Di ujung kedai penantian
Seorang barista membiarkanmu menikmati kopi racikannya
Kau, "Ada rasa lain selain pahit dan sedikit manis dari kopi buatanmu?"

Ada! Aroma yang pekat pada segelas kerinduan.
 
***

"Allah..., bolehkah menyerah?"

Lalu, Allah berucap, "Bukannya dulu kamu orang yang gigih? Dan Aku tidak pernah memberimu ujian jikalau kau tak mampu menuntaskan. Jalani, toh kemudahan itu sangat dekat denganmu."

"Benar ya, ya Allah?"

"Iya, hambaKu."

Shofiyah
Kraksaan, 2019
 

Belajar Mencintai Alam

Mencintaimu sama halnya mengikuti hidupmu, nyawamu, dan kamu.
Dengan kabut, hawa dingin mencengkeram di antara jari kita.
Kau sebut gigil yang tak berkesudah.
"Apa kau senang dengan perjalanan kali ini?" kamu.
"Kenapa tidak? Ada kamu!"

Sumber, 15 Juli 2019

Segenggam Kepulangan, Luapmu!

Ada retas tak henti bersikukuh
Teras mengadu pada tiang tangga
Tudung tak sempat bersumpah
Juli kali ini sisa berapa?
*
Berdarah-darah jejak yang terpatri
Kau pahat 'tuk anak negeri
Tak perlu sesiapa penerima puisi
Ragam diksi hanya untukmu; barangkali
*
Haus, lapar, resah, gejolak di antara nadi
Kau elus alis yang tak pernah menyatu
"Demi kami," katamu membela diri
Aku tak mau pulang jikalau hampa yang kumuat di setapakku
*
Ruas yang bercabang
Kau tahu bagaimana mengungkap sayang
Kepada dia dan doa terpenting
Segala kasih pun tiada banding
*
Darah Mimpi; namamu asing sebagai pelayan rindu
Kau ukur telak temu yang gugur kala merekah sangat
Aku lupa membuat naskah kehadiranmu
Sebab; kau bukanlah sesuatu yang berharga,
tapi tanpamu aku bukan apa.
*
Pada hari ke enam belas ini
Titah kasihmu adalah penjabaran paling mudah dari teori yang rumit
Selamat mendulang 'kan menjadi Ibu
Untuk kami seraya kibarkan degup tak berkesudah
*
Aku ingin menjadi jendela untuk rumah barumu.

Selamat ulang tahun, Kak Widya. Semoga gadis kecil itu akan segera tiba atau jagoan yang piawai membuat pipimu merekah tak henti-hentinya. Percayalah!

Shofiyah
Gending, 16 Juli 2019

Wednesday, July 10, 2019

Menunggu: Kau Kembali



"Sebaik-baiknya pergi adalah kembali ke tempatmu," katamu, tanpa ragu.
"Aku meyakininya sejak sebelum hari ini."
"Kau gigih, ya?"

Kecuali halal, rupiah acapkali meninggalkan peluh
di punggungmu
bagaimana sistem kerja otak menyelesaikan kerumitan;
Pernah kau abstain untuk mendebatku seraya
berucap 'mulai hening'.

Aku tidak mau kita abstrak. Bisakah menjadi kon?....

Aku belum menyudahi kalimatku dalam hati. Kau munculkan dirimu sebagai engkau yang aku, dan aku tak pernah selesai menjadi aku yang utuh tanpamu.

"Aku ingin nyata dalam dunia mayamu, tapi tidak maya dalam dunia nyatamu." Kamu.
"Aku butuh itu," kau menggeledah isi kepalamu.

--pesan Ibu--
Kecuali titah, boleh kupinjam Ibumu? 

Lantas, katamu tak perlu. Biar dia menjadi milikku. Aku tersenyum getir, getar di dada masih terdengar mahsyur.

Kita bertemu di ruang yang serba bertanya, sepetak janji akan tertunai, yang tertunda menjadi mimpi, dan nyata adalah barang ajaib.

Seperti tatap yang belum terpaut ketika itu, ia lunas dengan ragam harap.

Kita bertemu dalam pertemuan singkat.

"Maaf, mencoba membuatmu khawatir."


Shofiyah
Enam bulan sebelum ijab janji, 2019

Seketika Kauhadiahi Lama(r)an



Katanya, apa-apa yang pergi tak pernah kembali, kecuali doa

Sebagai pergi,
yang tertinggal tak pernah meminta ditinggal
pada suatu simpang,
kuretaskan doa
melangit
barangkali terlampau ingin menjadi hujan
yang tak pernah kita ingini.

Sebagai darah, acapkali kudengar deras aliranmu.

Kejutan; ia tak kusukai tapi tidak mungkin kubenci
semuanya
Tidak kali ini, di ruang yang papa tak mengapa,
potongan pertemuan adalah kita yang terbagi
antara mimpi dan khayal
kau: benar!

Sudah! Aku tak perlu apa-apa lagi, selainmu tiada diharap lebih.

Letak bahagiaku, di sini.

Shofiyah
Probolinggo, 9 Juli 2019

Monday, July 8, 2019

Harapan

"Allah..., bolehkah menyerah?"

Lalu, Allah berucap, "Bukannya dulu kamu orang yang gigih? Dan Aku tidak pernah memberimu ujian jikalau kau tak mampu menuntaskan. Jalani, toh kemudahan itu sangat dekat denganmu."

"Benar ya, ya Allah?"

"Iya, hambaKu."

Catatan Sebelum Ketiadaan


Kau sedang berlari-lari riang pada hari-hari yang bertanya "berapa"
dalam sepekan, mataku mulai juling karena terpaksa menjadi jalang untuk melihat dan membaca perihal tatap yang tidak berdua.

Aku beringsut, mengutarakan yang hendak kuberitahu.

Ketika aliran Syn sampai ke hilirnya; kau di jembatan terbuat dari pelepah pisang.
Duduk sebagai tungku memangku tulang punggung yang rawan tegak
sekalinya berkata, maka mau tak mau,  kau adalah menang.

Jika dalam setiap kayuhan sepeda menemukan tempat berkunjung, setiap garis tegak dan lurus akan berhipotenusa,  setiap premis akan menemukan konklusi,  maka setiap engkau menemukan dia. 

Sebagai pecahan, aku tak ingin membaginya lagi sebagai perkalian setelahnya. Jika memilih, menjadi penjumlahan adalah kata yang barangkali bermakna.

Lewat pengurangan kalimat, penambahan suasana yang diciptakan seseorang, lelakimu tak seharusnya mendengar.

Hati, selalu saja benar, Re.

Sebelum mereka meninggalkanmu percuma, pergilah atas dasar sadar,  mereka bukan sesiapa. 

Hiduplah sebagaimana kupu-kupu hinggap,  lalu terbang melintasi cakrawala. Bisakah belajar untuk menakuti bahwa kau tidak takut dengan keadaan.

All is well. 

Untuk Kakak, 

Dari, adik kecilmu,

Shofiyah

Kraksaan, 3 Juli 2019

Capricorn; Menciptakan Bintang

Aku sedang butuh tidur, barangkali yang lebih sedap daripada tidur dikata lelah. Orang percaya bahwa tidur adalah sahabat yang tidak pernah melupakan, meninggalkan sesiapa yang dipeluknya. Kadang sehelai mimpi yang bertengger di imajinasi, atau mungkin fakta yang terjadi aneh; sementara otak sedang sibuk menelan makanan mengawang.

Seperti diksi yang berdendang di telinga anak kecil, sebelum tidur, usai menelan air susu ibu atau susu sapi perah,  sudah diganti dengan potensi penyeduhannya.

Kadang aku lupa untuk selalu diam, memerhatikan lawan, dan tersenyum; tidak mengapa

Seumpama dalam tidurmu, berebut tempat. Kasta adalah jajakan. Tepat dan tidak pernah tertukar. Sebagaimana Tuhan melukis dan mewarnai apa-apa yang masih memiliki sela pucat untuk diberi warna. Tidak terkecuali dirimu!

"Mengapa tidak kita baikan saja? Apa ada yang harus dihasut ulang?"
"Tiada! Apa semua akan menjadi percuma?" kau menanam diam.
"Sebaiknya ia punah."
"Siapa?"
"Hatiku."
"Kenapa?"
"Aku takut sedang sadar aku berada di tempat yang sedang tidak mampu menahan. Sehingga, yang terjadi adalah aku semakin takut."
"Kau pengecut, Piya!"

Pengecut tidak selalu jadi tumbal. Ia menjadi terpaksa mengungkap takut, tapi di ujung tanduk emosinya tersimpan berani yang belum dikeluarkan.

Kau pasti tahu, setiap yang belajar--anak kecil--dari cara menulis, lalu mengeja dan membaca, kemudian menghitung. Aku bisa menghitung perih, sekaligus luka yang panjangnya menganga untuk diingat. Apa kau tahu diksi apa yang paling tepat untuk membicarakannya?

Kamu!

Pasrah. Seseorang mengenalkan kawan yang bernama, Pasrah!
Aku membiarkan orang lain tertawa, aku mengambil ancang-ancang untuk pelan, selanjutnya mendahului dari sisi kanan. Boleh mempercepat laju asal bermain cantik, bukan?

"Aku mengenal Januari," katamu suatu Arunika yang pas disebut semangat.
"Apa kau membicarakan perayaanku?"
"Bukan!"
"Lantas?"
"Perayaanku. Apa kau mau merayakannya denganku?"
"Apa aku akan dapat feed back?"
"Iya."
"What?"
"Aku!"

Ibuku lebih setuju dengan dokumentasi yang isinya gambar dan beberapa keterangan untuk ilustrasi. Kau menciptakan ilustrasi. Menyisakan girang di kepalanya yang tumbuh subur pada angka 43.

"Di manakah gambar yang ingin kau tunjukkan?"
"Duplikat saja segala yang Ibumu mau," katamu jangan.

Ibu, tanpa engkau minta pun, apa-apa yang menjadi permintaanmu, selalu datang mendekat kepadamu. Entah melalui aku, atau yang lain?

Mungkinkah dia adalah permintaanmu yang lain juga?

Tiada upacara yang menyulut lilin, yang ada kecupan Ibu di ambang waktu. Setahun sekali. Juni adalah waktumu. 

Shofiyah
Probolinggo, 6 Juli 2019

Menunggu: Kau Kembali



"Sebaik-baiknya pergi adalah kembali ke tempatmu," katamu, tanpa ragu.
"Aku meyakininya sejak sebelum hari ini."
"Kau gigih, ya?"

Kecuali halal, rupiah acapkali meninggalkan peluh
di punggungmu
bagaimana sistem kerja otak menyelesaikan kerumitan;
Pernah kau abstain untuk mendebatku seraya
berucap 'mulai hening'.

Aku tidak mau kita abstrak. Bisakah menjadi kon?....

Aku belum menyudahi kalimatku dalam hati. Kau munculkan dirimu sebagai engkau yang aku, dan aku tak pernah selesai menjadi aku yang utuh tanpamu.

"Aku ingin nyata dalam dunia mayamu, tapi tidak maya dalam dunia nyatamu." Kamu.
"Aku butuh itu," kau menggeledah isi kepalamu.

--pesan Ibu--
Kecuali titah, boleh kupinjam Ibumu? 

Lantas, katamu tak perlu. Biar dia men…
Maklumat

Sebagai pagi, telah kau bentangkan harapan
setangkup hidangan sempat cercecap dari tungku Ibu
adalah takdir:
Kau berhenti di ujung reda,
meredam gamang yang ada
menjadi tiada. 

Terkadang dunia tidak adil!

Ia menawarkanku harga segelas airmata
tapi hendak kuminta sepiring percakapan

Untuk kita,  agar kusamakan antara keduanya menjadi keseimbangan.

"Adil yang bagaimana yang kau maksud?" kamu pada waktu menandakan kepergian.

Cukuplah jangan ditambah satu lagi, sepotong kasih Ibu saja untukku tanpa kau harus tahu cara merawat bibir yang salah berucap.

Kita kembali ke kota masing-masing!


Shofiyah
Probolinggo, 4 Juli 2019

Wednesday, July 3, 2019

Kau; Darah


Kau adalah darah, merembes ke segala sela-sela di tubuhku

Untuk menghidupkanku yang terlanjur menjadi nyawa bagimu

Maukah kutampilkan  betapa buruk hidupku, tanpamu ketika tak lagi bersemayam?

Aku laksana mayat tanpa aliran penghidupan

Maka, tetaplah menjadi darah yang terlanjur mendahului perantara sebagai 'hidup'


Shofiyah
Probolinggo, 4 Juli 2019

Catatan yang Kuinginkan Menjadi Surat Bukan Terakhir

Sebelum berakhir,  pernah surat pertama atas nama "Bukan Surat Berharga" telah sampai di altar keyakinanmu.  Kali kedua adalah "Surat Berharga" katamu.  Sekalinya kita mengasumsikan bahwa surat dan saham adalah harga yang harus dibayar tuntas,  entah terhitung dengan LOT (ratusan lembar saham) atau barangkali segepok kerinduan yang harus tersusun menjadi hari ini. 

Sepetak ruang yang bernama "kita" telah mendeklarasikan bahwa seumpama peluk telah berakhir,  keributan menjadi hawa dingin di musim kemarau panjang ini, lelahmu tersusun atas restu di hari tua demi segenggam tabungan yang tersimpan dalam memori dan keyakinanku,  kau adalah sepasang tanggung jawab yang hendak kelar.

Kepada Ibu yang namanya masih kuterka: tiada maksud sehingga aku mengubur rasa malu.  Kepadamu kutitipkan salam menggebu dari anak kecil yang merengek meminta perhatianmu.  Barangkali jika diasumsikan betapa rindunya Nabi kepada kita umatnya, tak ayal aku merasa sebagian dari perihal itu, Ibu. Aku tidak pernah menemuimu,  kau pun terlanjur jauh untuk kujangkau dengan nama tetangga serumpun. 
"Ke mana Ayah?" kataku terhadap jagoanmu, Bu. 
"Ah, dia telah lebih dulu mencicipi aroma bunga di surga," Dinyana dia hanya bercanda,  rupanya kalimatnya rampung dengan tegas. 
"Lalu, Ibu?" Aku.
"Pergi!"
"Tak seharusnya kau mengizinkan beliau pergi."
"Tiada yang memintanya pergi, Orang-orang di rumah telah melarangnya,  tapi itu pilihannya."

Sekeras apa pun suatu pilihan,  pasti ada maksud terkandung di dalamnya.  Sekeras apa pun menolak,  pastilah akan datang suatu hari nanti untuk meluluhkannya. Ibu, ibarat mimpi, kau selalu kumintakan kepada kantuk agar ia segera membawaku menemuimu, mengenal rupamu, memeluk namamu,  dan menangis di dekapanmu. 'Kenapa menangis?' barangkali kau akan bertanya demikian, bukan? Tersebab dengan menangislah aku membagi kehadiranku untuk kau eja tentang aku yang sebenarnya.  Aku yang tak tahu harus berbuat apa selain menangis,  kalaupun ada tertawa,  pastilah itu hanya milikmu--dia--alasannya. Ya, dia!  Yang kau sebut, nyawa kedua. 

Ibu; yang punggung tangannya ingin kukecup dengan perasaan bukan iba. 
Ketahuilah, aku tidak membual hanya persoalan rindu yang kutulis jujur kepadamu. Kau pun tahu,  sejatinya rindu adalah senjata paling setia menemani perjalanan langkah gontai kita.

Ya, itu aku. Hari ini aku ragu. I need someone to hear my decision making, discuss, and give me solution.

Sajak di bulan Juli adalah keraguan dan argumen yang mendasar kekuatan.  Kelemahanku ialah mencari apa-apa yang mengganjal dan tak kuterima pekerjaan yang tak wajar. 

Bilakah kiranya ada waktu, sebelum jarak beringsut semakin menjauhi titik damai, sebelum orang kedua yang kau temui di negeri ini adalah kecewa,  temuilah aku, Ibu! Aku tidak ingin mengatakan, kau harus mengejarku. Sekalinya, tidak!  Aku hanya merindukanmu yang entah doa ke berapa ratus kali telah melambung di catatan Tuhan,  tetapi aku hanyalah anak kecil yang tidak pernah tahu arah rumahmu berada. 

Dari sejuk hati yang memandang, dari kejauhan jarak yang menghalangi, dari kalimat yang tak pernah kudengar,  kecuali kubaca dari deretan pesan milik dia, kutahu kau sederhana mengungkap cinta.

Ibu, dialah yang kupanggil aku. Meski kami tak sama,  terkadang panggilan kita senyampang menjadi ketakutan, kecuali pula airmata milik engkau menetes di senja yang kutunggu. Barangkali rindu tak perlu sesiapa untuk mendukungnya, terlebih harapan. Atau sesuatu yang terlanjur berpisah ingin bertemu. Perlahan di tempat ini, akan ada rute sampai kita memang diskusikan perihal ke mana langkah setelah ini. 

Ibu, bolehkah aku menanti untuk tidur denganmu? Nyanyikan lagu kedamaian penuh cinta tanpa kueja sampai di mana harus kulepas kecewa yang tak pernah ingin menetap di hatiku. 

Ibu, biarkan aku sendiri untuk menjadi bagian kedua untuknya setelah dirimu! 

Shofiyah
Kraksaan, 3 Juli 2019

Berbeda Keyakinan


Pada suatu titik,  kita akan menemukan kelemahan,
Kekuatan yang terlihat sama halnya dirimu,
Yang menelusup
Sempat pongah, lalu sadar, 
Bukan sesiapa. 
*
Namamu sebagai luka, 
Tidak perlu lagi, cara memperolehnya,
Aku yakin di sini, 
Sementara kau, di sana dengan yakin yang berbeda
Kita berbeda keyakinan, 
Bisakah salah satunya
: Adalah kesepakatan?
*
Lalu kita berdiri, lantas menyusuri
Melintasi jalan,  sungai,  samudera, 
Dan anehnya kita belum pernah sampai
Pada gedung baru;
Rumah. 
*
Kita pernah bertanya tentang jalan buntu,
Dibantu kepahaman yang tidak lain adalah "iya"
Kau mengalah demi apa?
*
"Pada akhirnya tulisanku menemukan pembacanya sendiri,  bukan dia, tapi kamu," katamu suatu ketika. 
*
Lalu sekarang kukembalikan kalimatmu,  "Pada akhirnya,  kau tak bisa membaca tulisanku meskipun itu adalah dirimu sebagai narasinya dan hidupmu adalah diksi yang tak pernah kupelajari sebelumnya."
*
Barangkali setetes luka jauh lebih besar pengorbanannya, daripada sekadar setitik bahagia yang tersemat di jari pertemuan;
Aku mengartikan luka sebagai pembelajaran berharga, sebagai obat penyembuhnya, tak perlu berdiskusi dengan orang ternama,  cukuplah kau tiada, ia akan reda dengan sendirinya. 
*
Sebagai aku yang enggan menjadikanmu pribadi yang lain, kuungkap terima kasih. 

Tertanda, airmata

Shofiyah
Probolinggo,  3 Juli 2019

Maklumat

Sebagai pagi, telah kau bentangkan harapan
setangkup hidangan sempat cercecap dari tungku Ibu
adalah takdir:
Kau berhenti di ujung reda,
meredam gamang yang ada
menjadi tiada. 

Terkadang dunia tidak adil!

Ia menawarkanku harga segelas airmata
tapi hendak kuminta sepiring percakapan

Untuk kita,  agar kusamakan antara keduanya menjadi keseimbangan.

"Adil yang bagaimana yang kau maksud?" kamu pada waktu menandakan kepergian.

Cukuplah jangan ditambah satu lagi, sepotong kasih Ibu saja untukku tanpa kau harus tahu cara merawat bibir yang salah berucap.

Kita kembali ke kota masing-masing!


Shofiyah
Probolinggo, 4 Juli 2019

Monday, July 1, 2019

Dunia


Selamanya kita adalah luka,
pura-pura menanamkan rupa,
sebagai kata berjeda,
pariwara tergenggam daksa;
terpaksa sandiwara.

Jejal sekali terjal,
yang angkuh adalah riwayat,
yang keras bukanlah kamu,
tapi bebal di kata sirna.

Jadi apa yang lebih heran daripada keras kepala?

Kecuali, terlena!

Hendak kupasrahkan, arah melintang, kalimat bersahaja, pintu yang terdulang, dan kita yang bukanlah kita.

Aku pergi dari sini.

Shofiyah
Stasiun Bayuangga, 1 Juli 2019